Senin, 07 November 2011

Mantram Sehari-hari

  • Salam Pembuka (Panganjali)
  • Mantram:

    Om Svastyastu


    Semoga selalu ada dalam keadaan baik (selamat) atas karunia Tuhan (Hyang Widhi Wasa)

  • Salam Penutup (Panganjali)
  • Mantram:

    Om santhi, Santhi, Santhi, Om


    Semoga damai, damai di dunia, damai di akhirat dan damai selalu

  • Sebelum Tidur
  • Om Yajjagrato Duram Udaiti Daivam Tad U Suptasya Tatha Iva Iti,
    Durangamam Jyotisam Jyotir Ekam Tanme Manah Siva Samkalpam Astu.
    (Yajur Veda XXXIV.1)
    Ya hyang Widhi, Engkau nampak jauh dari orang yang tidur, nampak jauh dari orang yang terjaga. Engkau sinar utama, yang nampak jauh itu, semoga pikiran kami senantiasa mengarah kepada Engkau, yang baik itu
  • Bangun Tidur
  • Om, Utedanim Bhagavantah Syamota Prapitva Uta Madhye Ahnam,
    Utodinau Madhvantan Tsuryasya Vayam Devanam Sumantausyama
    (Atharva Veda III.16.4)
    Ya Tuhan Yang Maha Pemurah, Jadikanlah kami selalu bernasib baik pada pagi hari ini, menjelang tengah hari, apalagi matahari tepat di tengah-tengah dan seterusnya. Semoga para Dewa berkenaan menganugharkan rakhmat-Nya kepada kami
  • Menggosok Gigi
  • Om Cri Dewi Bhatrimsa Yogini Namah
    Om, sujud pada (sakti-Mu) Cri Dewi Bhatrimsa (dan) Yogini.
  • Membersihkan Mulut
  • Om Um Phat astraya nama
    Om, sujud kepada Um, astra Phat (itu)
  • Mencuci Muka
  • Om Um Waktra Paricuddha Mam Swaha
    Om, Om (dewi) membersihkan muka hamba
  • Mandi
  • Om, Gangga-Amrta-Sarira Cuddha Mam Swaha
    Om, Amrta dari Gangga, membuat badan hamba suci
  • Berpakaian
  • Kaupina Brahma-Samyuktah, Mekhala Wisnu-Samsmrtah Antarwasewaro Dewah, Bandham astu Sada Ciwa
    Penutup berpakaian adalah Brahma, pengikat pinggang (adalah) Wisnu, penutup tubuh (oleh) Iswara (dan) Sada Ciwa pengikat semuanya
  • Sebelum Makan
  • Om Hiranyagarbhah Samavartatagre Bhutasya Jatah Patikreka Asit, Sa Dadhara Prithivim Dyam Utema Kasmai Devaya Havisa Vidhema
    Ya Tuhan Yang Maha Pengasih! Engkau asal alam semesta dan satu-satunya kekuatan awal, Engkau yang memelihara semua mahluk, seluruh bumi dan langit. Kami memuja Engkau
  • Setelah Makan
  • Om Purnamadah Purnamidam Purnat Murnam Adaya Purnasya Purnam Adaya Purnam Evavasisyate
    Ya Tuhan Yang Maha Sempurna! Yang membuat alam sempurna. Alam ini akan lenyap dalam kesempurnaanMu. Engkau adalah kekal. Kami mendapat makanan yang cukup dan atas anugrah-Mu kami menghaturkan terima kasih
  • Sebelum Kerja/Melakukan Kegiatan
  • Om Avighnam Astu Namasiddham
    Ya Tuhan semoga tiada halngan dan berhasil
  • Selesai Melakukan Kegiatan
  • Om Dhirgayur Astu, Avighnam Astu Subham Astu Om Sriyam Bhavantu, Purnam Bhavantu, Ksama Sampurna Ya Namah Svaha
    Ya Hyang Widhi, semoga makanan yang telah masuk ke dalam badan hamba memberi kekuatan, keselamatan, panjang umur dan tak kena halngan apapun. Demikian pula agar hamba mendapatkan kebahagiaan dan suka cita dengan sempurna
  • Mohon Perlindungan
  • Om Apasyam Gopam Anipadyamanam A Ca Para Ca Prthibhih Carantam Sa Sadhricih Sa Visucir Vasana
    Ya Tuhan, hamba memandang Engkau Maha Pelindung, yang terus bergerak tanpa berhenti, maju dan mundur di atas bumi. Ia yang mengenakan hiasan yang serba meriah, muncul dan mengembara terus bersama bumi ini
  • Mohon Kebenaran
  • Om A Visvadevam Satpatim Suktai Adya Vrnimahe Stayasavam Sawitaram
    Ya Tuhan Yang Maha Agung! dengan kidung kami memujaMu, Tuhan sumber kebaikan! Engkau Maha Cemerlang yang memiliki takdir yang maha benar
  • Mohon Inspirasi
  • Om Pra No Devi Sarasvati Vajebhir Vajinivati Dhinam Avinyavantu
    (Rg Veda VI.61.4)
    Ya Hyang Widhi, Hyang Saraswati Yang Maha Agung dan Kuasa, Engkau sebagai sumber ilmu pengetahuan, semoga Engkau memelihara kecerdasan kami
  • Mohon Kesehatan
  • Om Vata A Vatu Bhesajam Sambhu Majobhu No Hrde,
    Pra Na Ayumsi Tarisat
    (Rg Veda X.1986.1)
    Ya Hyang Widhi, semoga Wayu menghembuskan angin sejuk-Nya kepada kami. Wahyu yang memberikan kesehatan dan kesejahteraan kepada kami. Semoga Ia memberikan umur panjang kepada kami
  • Mohon Bimbingan Spiritual
  • Om Asato Ma Sadgamaya Tamasoma Ma Tyotir Gamaya Mrtor Ma Amrtam Gamaya
    (Brh. Ar. Up. XL.15)
    Ya Hyang Widhi, bimbinglah kami dari yang tidak benar menuju yang benar. Bimbinglah kami dari kegelapan pikiran menuju cahaya (pengetahuan) yang terang. Bimbinglah kami dari kematian menuju kehidupan yang abadi
  • Mohon Kebahagiaan dan Keberuntungan
  • Om Sarve Bhavantu Sukhinah Sarve Santu Niramayah Sarve Bhadrani Pasyantu Ma Kascid Duhkha Bhag Bhavet
    Ya Hyang Widhi, semoga semuanya memperoleh kebahagiaan, semoga semuanya terbebas dari penderitaan, semoga semuanya dapat memperoleh keberuntungan, semoga tiada kedukaan
  • Mulai Belajar
  • Om Agne Naya Supatha Raye Asman Visvani Deva Vayunani Vidvan,
    Yuyodhyasmaj Juhuranam Eno Bhuyistam Te Namauktim Vidhema
    (Rg Veda I.189.1)
    Ya Hyang Widhi (Hyang Agni), tunjukkanlah kepada kami jalan yang benar untuk mencapai kesejahteraan; Hyang Widhi yang mengetahui semua kewajiban, lenyapkanlah dosa kami yang menyengsarakan kami. kami memuja Engkau
  • Menghilangkan Rasa Takut
  • Om Om Jaya Jivad Sarira Raksan Dadasi Me,
    Om Mjum Sah Vaosat Mrityun Jaya Namah Svaha
    Ya Hyang Widhi Yang Maha Jaya, yang mengatasi segala kematian, kami memuja-Mu. Lindungilah kami dari mara bahaya
  • Sebelum Rapat
  • Om Sam Gacchadhvam Sam Vadadhvam Sam Vo Manamsi Janatam,
    Devo Bhagam Yatha Purve Samjanana Upasate
    (Rg. Veda X.191.2)

    Samano Mantrah Samitih Samani Samanam Manah Saha Cittam Esam,
    Samanam Mantram Abhi Mantraye Vah Samanena Vo Havisa Juhomi
    (Rg Veda X.191.3)

    Samani Va Akutih Samana Hrdayani Vah Samanam Astu Vo Mano Yatha Vah Susahasati
    (Rg Veda X.191.4)
    Ya Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa), semogalah pertemuan dan rapat ini mencapai satu kesepakatan. Semoga tercapai tujuan bersama, kesepakatan bersama satu dalam pikiran menuju stau tujuan.

    Ya Hyang Widhi, Engkau canangkan satu tujuan, tujuan bersama kami sekalian, kami adakan pemujaan dengan persembahan bersama, agar tujuan kami satu, seia dan sekata.
  • Setelah Rapat
  • Om Dyauh Santir Antariksam Santih Prthiva Santir Apah Santir Osadhayah Santih Vanaspatayah Santir Visve Devah Santir Brahma Santih Sarvam Santih Santir Eva Santih Sa Ma Santir Edhi
    (Yayur Veda XXXVI.17)
    Ya Hyang Widhi Yang Maha Kuasa, anugrahkanlah kedamaian di langit, damai di angkasa, damai di bumi, damai di air, damai pada tumbuh-tumbuhan, damai pada pepohonan, damai bagi para Dewata, damailah Brahma, damailah alam semesta, semogalah kedamaian senantiasa datang pada kami
  • Melakukan Yadnya Sesa (Ngejot)
  • Om Sarva Bhuta Sukha Pretebhyah Svaha
    Ya Hyang Widhi, hamba berikan sedikit kepada sarwa bhuta agar tidak mengacau
  • Mengunjungi Orang Sakit
  • Om Sarva Vighna Sarva Klesa, Sarva Lara Roga Vinasa Ya Namah
    Ya Hyang Widhi, semoga segala halangan, segala penyakit, segala penderitaan dan gangguan binasa oleh-Mu
  • Mendengar/Melihat Orang Meninggal
  • Om Svargantu, Moksantu, Sunyantu, Murcantu,
    Om Ksama Sampurna Ya Namah Svaha
    Ya Hyang Widhi, semogalah arwah almarhum mencapai sorga, manunggal dengan-Mu, mencapai keheningan tanpa suka-duka. Ampunilah ia, semoga sempurna atas Kemahakuasaan-Mu

KEHADIRAN MPU SEMERU DI BALI

Mpu Semeru mohon ijin untuk pulang ke Bali, menghormat dengan tata cara kependetaan kehadapan Hyang Pasupati dan segera berangkat menuju Nusa Bali, pada tahun Çaka 921 (th 999 M). Beliau menganut sekte Siva. Mpu Semeru segera tiba di Kuntulgading terus melalui Tulukbiu, menuju Besakih, tepatnya pada hari Sukra (Jumat) Kliwon wara Julungwangi, bulan Purnama Raya, sasih Kawulu.

Selanjutnya Mpu Semeru, ditugaskan di Besakih mengemban Pura Penataran Agung bersama Tri Warga lainnya yaitu : Pande, Sagening dan Penyarikan. Entah berapa tahun kemudian, Mpu Semeru membangun tempat pemujaan yang disebut Parhyangan, tempat melakukan yoga semadhi. Parhyangan tersebut diplaspas/katuran Karya Agung Pengenteg Linggihnya pada hari Soma (Senin) Umanis, wara Tolu, dipuput oleh Mpu Gni Jaya dan Mpu Withadharma. Parhyangan Mpu Semeru tersebut, sekarang dikenal dengan sebutan Pura Ratu Pasek Besakih (Catur Lawa).

Pada suatu hari yang baik, Mpu Semeru akan menghadap Hyang Dewi Danuh ke Ulundanu Batur melewati Tampurhyang. Setibanya di Tampurhyang, beliau berhenti dan beristirahat di tepi Danau Batur, Mpu Semeru tertarik akan kejernihan air danau tersebut, lalu beliau mandi dan lanjut mengadakan yoga semadhi, memuja kehadapan Hyang Dewi Danuh. Setelah itu segera berangkat, dalam perjalanan terlihat olehnya tuwed kayu asem, yang sangat bagus, karena dibuat oleh Dewata. Takdir telah mengatur sedemikian rupa, segera Mpu Semeru beryoga mempersatukan keahliannya, dengan segera saja tuwed kayu tersebut menjadi manusia.

Terpukau manusia ciptaan itu, tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Segera saja manusia itu menyerahkan diri kehadapan Mpu Semeru, sang Maha Rsipun bersabda; “Wahai manusia apa ada keperluanmu”, manusia itupun matur; “Siapakah yang telah menaruh belas kasihan terhadap hamba ini, menjadikan hamba manusia”. Sang Maha Rsipun menjawab; “Akulah yang menjelmakanmu menjadi manusia”, manusia itupun menelungkup menyembah, memeluk kaki Sang Maha Rsi, seraya matur; “Siapakah sebenarnya Maha Rsi ini”, Mpu Semeru menjawab; “Aku adalah putra Hyang Agni Jaya dari Gunung Lempuyang, aku bernama Mpu Semeru”. Manusia itupun segera lagi menyembah dan matur kehadapan Mpu Semeru: “Maha Rsi, apakah yang hamba pakai membayar hutang hamba kehadapan Maha Rsi, sekarang tuluskanlah paswecan Maha Rsi kepada hamba, bersihkanlah segera kotoran diri hamba, sehingga menjadi bersih untuk seterusnya”. Anugrah Mpu Semeru kepada Si Kayureka, karena di Bali belum ada/kekurangan sulinggih, Si Kayureka diperkenankan menjadi penuntun orang-orang Bali Mula, yang berpusat di Tampurhyang. Si Kayureka diperkenankan menjadi Bujangga selama tiga turunan dan bernama Mpu Kamareka (Mpu Bendesa Dryakah). Ada amanat Mpu Semeru kepada Mpu Kamareka; “Ada keturunanku yang lahir dari Mpu Gni Jaya, yang apryangan di Lempuyang Madya, keturunanmu harus tetap berada di sebelah kiri keturunanku. Demikian juga pada waktu meninggalnya, keturunanmu harus menyembah keturunanku, sebab engkau aguru putra padaku”. Mpu Kamareka sangat tekunnya menjalankan swadharmanya di Tampurhyang. Mpu Kamareka menurunkan Pasek Kayuselem Tampurhyang, turun binurun wredisentana. Di Kayuselem, ada juga Pasek Kayuselem keturunan dari Pasek Bajra ireng tusning Mpu Gni Jaya (kakak dari Mpu Semeru).

Entah beberapa tahun kemudian, datang pula ke Bali orang-orang pengiring Rsi Markandeya, yang berasal dari India, yang menyebarkan Agama Hindu pertama di Bali. Beliaulah yang menurunkan Orang Aga dan Bali Mula yang disebut Bujangga Waisnawa. Ramailah sekarang orang-orang yang menyungsung Betara-Betari di Bali. Terus ambil keambil, sama-sama wredisentana.

KEBERADAAN MPU GHANA & MPU KUTURAN

MPU GANA

Mpu Gana ke Bali tahun Çaka 922 (th 1000 M), setibanya di Bali langsung menghadap Betara Tiga, lanjut Mpu Gana ditugaskan di Gelgel Dasar Bhuana.


MPU KUTURAN

Mpu Kuturan menyusul saudaranya turun ke Bali tahun Çaka 923 (th 1001 M), berperahu daun kapu-kapu dan berbidakkan daun bende, turun di Pantai Padang. Demikian bunyi Prasasti yang menyebutkan Pemargin Mpu Kuturan ke Bali :

“Kunang sira Mpu Kuturan turun wentening Bali, apadawu witning kapu-kapu, abidak rwaning benda, turun maring kakisiking Bali ring Padang, kala diwe udha siwa wara Pahang, titi sukla paksa madu, sirsa caksu, I sakyem gni suku babahan udani dita 923, neher winangunaken Parhyangan Silayukti, ayoga swala Brahmacari”.
Mpu Kuturan turun ke Bali terdorong oleh beberapa faktor yaitu :

  1. Memenuhi undangan Guna Prya Dharma Patni/Udayana Warmadewa, yang memerlukan keahlian beliau di bidang Agama.
  2. Karena ada pertentangan sedikit dengan istrinya (Walu Nateng Dirah/Rangdeng Dirah) yang menganut aliran Bhairawa (Tantrayana Buddha Kalacakra), sedangkan Mpu Kuturan menganut aliran Buddha Mahayana (Sekte Tantrayana Kanan).
  3. Karena melihat adanya tanda-tanda perpecahan Kerajaan Deha, Mpu Kuturan sebagai Bhiksuka, lebih mengutamakan ajaran dharma dari kepentingan pribadi. Kesempatan yang baik ini dipergunakannya untuk merantau ke Bali, menjalankan swadharmanya,menghajarkan agama.

Dyah Ratna Manggali (Putri Mpu Kuturan) di kawini oleh sepupunya (Mpu Bahula) yang menurunkan Brahmana di Bali. Inilah sebenarnya kawitan bagi Brahmana keturunan Mpu Beradah.

Kembali kepada Mpu Kuturan, setibanya di Padang (Silayukti), entah berapa hari berselang, Mpu Kuturan menghadap kakaknya ke Besakih, yang suatu kebetulan Betara Tiga sedang di Besakih. Betapa gembiranya, lama berpisah, akhirnya bertemu dengan tiada terduga-duga. Mpu Kuturan ke Bali tiada dengan keluarganya. Banyaklah hal-hal yang terjadi pada waktu itu. Akhirnya Mpu Kuturan, ditugaskan selaku Pemimpin Agama di Padang, karena telah menetapnya Mpu Kuturan di Padang, beliaupun membangun Parhyangan sebagai tempat melakukan yoga semadhi, di Padang, yang lebih dikenal dengan nama Silayukti. Rakyat Padang sangat bakti kepada Mpu Kuturan.

Peranan Mpu Kuturan di Bali, selain sebagai senapati di dalam pemerintahan maupun sebagai Guru Besar Agama Siva dan Buddha, di tengah-tengah masyarakat Hindu di Bali. Mpu Kuturan mengabdikan dirinya pada pemerintahan Guna Prya Dharma Patni/Udayana Warmadewa, Raja suami istri yang berkuasa pada waktu itu. Baginda Raja berasal dari Jawa Timur sedangkan suaminya Udayana Warmadewa adalah keturunan Raja Bali.

Mpu Kuturan yang selalu mendampingi Raja, beliau didudukkan sebagai Ketua Majelis Pekira Kiran Ijro Makabehan (Dewan Penasehat yang beraggotakan seluruh senapati, para Pandita Dangacaryya dan Dangupadhyaya (Siva dan Buddha)). Suatu kesempatan bagi Mpu Kuturan, untuk mengikatkan pengabdiannya kepada masyarakat Bali.

Mpu Kuturan ingin menyelami hati para pemimpin masyarakat Bali, agar dapat menyusun dasar yang kuat bagi tata cara kemasyarakatan yang sebaik mungkin. Mpu Kuturan mengadakan pertemuan besar keagamaan, yang bertempat di Bataanyar, Daerah Kabupaten Gianyar (Samuan Tiga), yang dihadiri oleh Para Tokoh Agama, Pendeta Siva Buddha dan Kepala Sekte Agama. Didalam pertemuan, masing-masing utusan dapat mengeluarkan buah pikiran dengan bebas. Demikian Mpu Kuturan, mempergunakan kesempatan ini untuk memberikan prasaran yang panjang lebar, yang akhirnya prasaran tersebut disambut baik oleh semua tokoh masyarakat. Maka paham Mpu Kuturan yaitu paham Tri Murti, yang paling cocok dijadikan pegangan hidup Masyarakat Bali Hindu, agama yang akan diterapkan adalah Agama Siva dan Buddha, berpusat di Kahyangan Besakih. Untuk membuktikan diterimanya paham Mpu Kuturan, maka setiap Desa Adat, dibangun Kahyangan Tiga yaitu : Pura Puseh, Pura Dalem dan Pura Desa/Bale Agung, tempat memuja Tri Murti. Pada setiap rumah tangga juga diharuskan membangun suatu bangunan suci (Sanggah) yang beruang tiga (Rong Telu/Kemulan), tempat memuja Tri Murti. Demikian cara Mpu Kuturan meletakkan dasar keagamaan, bagi masyarakat Bali, yang mana perlu kita pahami dan kita terapkan secara turun temurun. Usaha Mpu Kuturan didalam mengatur dan membina maasyarakat Bali terjadi kurang lebih tahun 1001 Masehi, hingga sekarang ajaran Mpu Kuturan, masih tetap menjadi dasar bagi kehidupan masyarakat Bali seperti adanya Awig-awig Desa dan Awig-awig Subak, dll.

Pada jaman Pemerintahan Prabhu Airlangga, manakala putra-putranya telah sama dewasa, maka Prabhu Airlangga mengirim utusan ke Bali yang dipimpin oleh Mpu Bradah, menghadap kakaknya ke Silayukti yaitu Mpu Kuturan. Mpu Bradah selaku pemimpin utusan menyampaikan maksud dari Prabhu Airlangga, yang mana agar salah seorang putranya dapat didudukkan menjadi Raja Bali. Permohonan ini ditolak oleh Mpu Kuturan dengan penjelasan bahwa rakyat Bali menginginkan kepemimpinan di Bali berada ditangan Warmmadewa. Dalam hal ini Mpu Kuturan telah mempunyai calon yaitu Çri Anak Wungsu, putra bungsu dari Guna Prya Dharma Patni (adik kandung Çri Airlangga). Mpu Bradah merasa gagal tujuannya, beliaupun mekolem/membuat pekoleman di luar Parhyangan Silayukti. Tempat pekoleman tersebut, sekarang bernama Pura Tanjung Sari, tempat penghayatan Mpu Bradah.

ANTARA MPU GNI JAYA & MPU BRADAH

MPU GNI JAYA

Mpu Gni Jaya yang masih tinggal di Gunung Semeru, telah mempunyai tujuh orang putra, dari perkawinannya dengan sepupunya Betari Manik Gni. Adapun nama ketujuh putra beliau tersebut antara lain:

  1. Mpu Ketek
  2. Mpu Kananda
  3. Mpu Wiradnyana
  4. Mpu Withadharma
  5. Mpu Ragarunting
  6. Mpu Prateka
  7. Mpu Dangka

Ketujuh Mpu inilah yang menurunkan Maha Gotra Pasek, Tangkas dan Bendesa. Kembali kepada Mpu Gni Jaya, karena beliau akan segera ke Bali, maka Mpu Gni Jaya menasehati adiknya Mpu Bradah dan putra-putranya, demikian sabdanya: “Adikku Mpu Bradah dan anak-anakku semua, saya akan segera meninggalkan adik dan anak-anak, akan kembali keBali, menghadap Hyang Agni Jaya, Hyang Putra Jaya dan Hyang Dewi Danuh, sebab telah sekian lama tidak pernah menghadap Betara-Betari di Nusa Bali. Ini adalah amanatku kepadamu semua, yang kamu harus tetap hormati nanti bila aku telah sampai dan wafat diBali, sembahlah aku olehmu dan keturunan-keturunanmu sampai akhir jaman. Ingat sekali jangan melupakan Petirtayan Hyang Putra Jaya di Besakih, pada hari Purnamaning Kapat, harus anak cucu dan turunan-turunanmu, menghaturkan Pujawali, demikian harus diingat jangan lupa”.

Mpu Gni Jaya segera berangkat pergi ke Bali, pada hari Wraspati (Kamis) Kliwon, sasih Kedasa menuju adiknya di Padang (Silayukti). Banyaklah hal-hal yang terjadi pada saat itu. Begitu Mpu Gni Jaya tiba di padang. Mpu Kuturan melihat kakaknya datang, segera saja menjemput kakaknya, dengan sangat hormatnya menyembah Mpu Gni Jaya dengan tata cara kependetaan. Mpu Gana mendengar khabar kakaknya datang, segera saja pergi menghadap ke Padang (Silayukti). Betapa gembiranya pertemuan waktu itu. Esoknya, Sukra, Umanis sasih Kedasa Mpu Gni Jaya, Mpu Kuturan dan Mpu Gana menuju ke Gelgel, di Gelgel hanya sebentar saja, langsung menuju Besakih. Karena telah sama-sama berbadan suci, sebentar saja telah sampai di Besakih, langsung menuju ke Parhyangan Mpu Semeru. Mpu Semeru melihat kakak dan adik-adiknya datang, betapa gembiranya, segera menyambut sang baru datang, maklumlah kedatangannya tak terduga-duga. Banyaklah hal-hal yang terjadi pada waktu itu.

Entah beberapa lama di Besakih, demikian juga telah sama-sama dapat menghadap Betara Tiga, yang kebetulan ada di Besakih. Mpu Gni Jaya ditugaskan Apryangan di Lempuyang Madya. Oleh karena keluarga Mpu Gni Jaya masih berada di Jawa, maka beliaupun Ngejawa-Ngebali, lama-lama Mpu Gni Jaya membuat Parhyangan di Lempuyang Madya, tempat menuju dan melakukan yoga semadhi. Sekarang Parhyangan Mpu Gni Jaya, Mpu Semeru, Mpu Kuturan dan Mpu Gana dikenal dengan Catur Parhyangan. Demikianlah halnya Mpu Gni Jaya turun ke Bali setelah selesai memperdalam ilmu kependetaan di Gunung Semeru (Di lingkungan Pura Mandara Giri Semeru Agung –Senduro Agung, Jawa Timur).

MPU BRADAH

Mpu Bradah adalah putra Hyang Agni Jaya yang ke-5 tinggal di Jawa, menjadi Bhagawanta Kerajaan Deha. Beliau mempunyai 2 orang putra putri, yang laki bernama Mpu Bahula, istrinya bernama Dyah Ratna Manggali, masih sepupu (Putri dari Mpu Kuturan). Mpu Bahula juga menjadi Bhagawanta kerajaan Deha menggantikan ayahnya, mempunyai dua orang putra dan empat orang putri, yang laki bernama :

  1. Mpu Tantular, pengarang Sutasoma
  2. Mpu Siwa Bandu, setri Betari Giri Dewi, juga menjadi Bhagawanta di Kerajaan Deha

Mpu Tantular mempunyai 5 orang putra, masing-masing bernama:

  1. Danghyang Panawasikan
  2. Danghyang Sidimantra (Mpu Bekung)
  3. Danghyang Semaranata
  4. Danghyang Kepakisan
  5. Mpu Siwa Raga.

Mpu Bekung (Danghyang Sidimantra) berputra sangkaning yoga, putra beliau bernama Ida Manik Angkeran. Ida Manik Angkeran berputra 3 orang, masing-masing bernama :

  1. Ida Banyak Wide, menurunkan Arya Bang Pinatih
  2. Ida Tulus Dewa, menurunkan Arya Bang Sidemen, seorang kumpi dari Ida Tulus Dewa (Perempuan) kawin dengan Arya Dauh, menurunkan Arya Dauh
  3. Danghyang Semaranata (Asmaranata) berputra 2 orang yaitu:
    1. Mpu Angsoka, berputra seorang bernama Mpu Astapaka, menurunkan Brahmana Buddha di Bali
    2. Pedanda Sakti Wawu Rauh (Danghyang Nirartha/Danghyang Dwijendra), ke Bali tahun 1489 M, menurunkan :
      • Brahmana Kemenuh wijiling setri – Deha
      • Brahmana Manuaba wijiling setri – Pasuruhan
      • Brahmana Keniten wijiling setri – Blambangan
      • Brahmana Mas wijiling setri – Okan Bendesa Mas
      • Brahmana Petapan wijiling setri – Pelayan Okan Bendesa Mas (Ni Brit dan Ni Petapan)

Putra Mpu Tantular yang ke-4 yang bernama Danghyang Kepakisan mempunyai seorang putra, bernama Sri Soma Kepakisan mempunyai putra 4 orang yaitu :

  1. Dalem Wayan menjadi Dalem di Blambangan
  2. Dalem Made menjadi Dalem di Pasuruhan
  3. Dalem Nyoman Sukania menjadi Dalem di Sumbawa (Perempuan)
  4. Dalem Ketut Kresna Kepakisan menjadi Dalem di Bali, bekedudukan di Samprangan, keBali

Tahun 1350 M berputra 5 orang ( Dalem Tarukan, A.A. Anom Sudira Pering):

  1. Sri Agra Samprangan (Dalem Ile) menjadi Dalem Samprangan (hanya sebentar)
  2. Dalem Tarukan menurunkan Warga Pulasari
  3. Dalem Nyoman (tidak disebutkan namanya)
  4. Dalem Ketut Nglesir diangkat menjadi Dalem Gelgel yang pertama tahun 1380 – 1460 Masehi.
  5. Dalem Tegal Besung (beribu putri Arya Gajah Para)
  6. Dalem Ketut Nglesir inilah yang menurunkan Dalem Klungkung.

Kelahiran Panca Tirtha

Mari kita kembali kepada hal-hal yang terjadi di Puncak Tohlangkir. Pada tahun Çaka 27 (th 105 M) Gunung Agung meletus lagi dengan sangat hebatnya, entah hal-hal apa yang terjadi pada waktu itu. Beberapa tahun kemudian, tahun Çaka 31 (th 109 M), Betara Tiga beryoga di Puncak Tohlangkir (Gunung Agung), untuk membersihkan Nusa Bali tepatnya pada hari Anggara (Selasa) Kliwon, wara Kulantir, dikala bulan Purnama raya, Sasih Kelima, atas kekuatan yoga Betara Tiga, Gunung Agungpun meletus lagi dengan sangat hebatnya.
Memang Dewata telah mengatur sedemikian rupa, setiap upacara besar keagamaan di Baliyang besifat umum, Gunung Agung tetap meletus atau paling tidak akan terjadi gempa bumi. Setelah upacara pembersihan Nusa Bali, pada tahun Çaka 31 itu juga Gunung Agung masih meletus, pada hari yang sangat baik, Betara Tiga di Puncak Tohlangkir, sama bertujuan agar mempunyai putra, maka Betara Hyang Agni Jaya dan Hyang Putra Jaya beryoga dengan sangat hebatnya, menghadapi api pedipaan, betapa alunan suaranya bunyi genta, hujan kembang dari angkasa.
Akibat dari kekuatan/kesucian yoganya Betara kalih, Gunung Agung menambah hebat letusannya lagi, keluar banjir api dari lubang kepundannya, kilat, gempa berkesinambungan, hujan sangat lebatnya, dentuman-dentuman suara letusan tiada hentinya. Maka dari kekuatan yoga Hyang Agni Jaya, keluar dari Panca Bhayunya seorang laki-laki bernama Mpu Withadharma. Alkisah Mpu Withadharma alias Çri Mahadewa melakukan yoga semadi dengan teguh dan disiplin. Dari kekuatan Panca Bhayunya lahirlah dua orang anak laki-laki dan diberi nama Mpu Bhajrasattwa alias Mpu Wiradharma dan adiknya diberi nama Mpu Dwijendra alias Mpu Rajakertha.
Mpu Dwijendra kemudian melakukan yoga semadhi. Berkat yoga semadhinya itu, lahirlah dua orang anak laki-laki, yang sulung bernama Gagakaking alias Bukbuksah dan adiknya bernama Brahmawisesa. Selanjutnya, Brahmawisesa melakukan yoga semadhi, dari kekuatan Panca Bhayunya, lahirlah dua anak laki-laki, masing-masing bernama Mpu Saguna dan Mpu Gandring. Mpu Gandring wafat ditikam oleh Ken Arok dengan keris buatan Mpu Gandring sendiri. Sedang Mpu Saguna, dari yoga semadhinya melahirkan seorang putra laki-laki bernama Ki Lurah Kepandean, yang selanjutnya menurunkan Wang Bang yaitu Warga Pande (Maha Semaya Warga Pande).
Adapun Mpu Bhajrasattwa, berkat yoga semadhinya, menurunkan seorang putra bernama Mpu Tanuhun alias Mpu Lampitha. Kemudian Mpu Tanuhun juga melakukan yoga semadhi, kemudian dari kekuatan bhatin dan Panca Bhayunya, beliau menurunkan lima orang putra yang juga dikenal dengan sebutan Panca Tirtha (Panca Sanak). Kelima putranya tersebut antara lain :
  1. Sang Brahmana Panditha (Mpu Gni Jaya).
  2. Mpu Mahameru (Mpu Semeru)
  3. Mpu Ghana
  4. Mpu Kuturan
  5. Mpu Beradah (Peradah)
Semua telah menjadi wiku. Semenjak beliau masih kecil-kecil, semuanya tekun menjalankan swadharmanya masing-masing. Selanjutnya dari yoga Hyang Putra Jaya, lahir dua orang putra putri masing-masing bernama, yang laki bernama Betara Ghana dan yang perempuan bernama Betari Manik Gni. Ketujuh putra-putri Hyang Agni Jaya dan Hyang Putra Jaya, pergi ke Gunung Semeru, menghadap Hyang Pasupati, untuk memperdalam ajaran agama dan kependetaan. Setelah sama dewasa dan telah sama tamat dalam hal menuntut ilmu, maka Betari Manik Gni dikawini oleh Sang Brahmana Panditha, sejak perkawinannya itu Sang Brahmana Panditha, berganti nama Mpu Gni Jaya. Setelah sekian lama putra putri Hyang Agni Jaya dan Hyang Putra Jaya berada di Gunung Semeru, pada suatu hari yang baik, Hyang Pasupati bersabda kepada cucu-cucunya, sabda Betara Kasuhun: “Wahai cucu-cucuku semua, kamu telah sama dewasa dan telah tamat dari menuntut ilmu, demikian juga telah sama menjadi Pendeta, aku memberi ijin kepadamu untuk kamu kembali ke Nusa Bali menghadap orang tuamu, turut menjaga Nusa Bali”.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review