Senin, 14 November 2011

Bali Sebelum Warsa 800


Tonggak awal rentangan masa Bali Kuno, adalah abad VIII. Atas dasar itu maka periode sebelum tahun 800 sesungguhnya tidak termasuk masa Bali Kuno. Gambaran umum periode tersebut diharapkan dapat menjadi landasan pemicaraan mengenai masa Bali Kuno, sehingga terwujud uraian lebih utuh. Gambaran periode sebelum tahun 800 itu meliputi masa prasejarah Bali dan berita-berita asing tentang Bali, khususnya yang berasal dari Cina.

Babakan masa prasejarah Bali pada dasarnya sesuai dengan babakan masa prasejarah Indonesia secara keseluruhan. Babakan itu meliputi tingkat-tingkat kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan (baik yang tingkat sederhana maupun tingkat lanjut), masa bercocok tanam, dan masa perundagian atau kemahiran teknik.1

Peninggalan-peninggalan masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana ditemukan di desa Sembiran dan pesisir timur serta tenggara Danau Batur. Peninggalan-peninggalan itu berupa kapak perimbas, kapak genggam, pahat genggam, dan serut (Soejono, 1962 : 34-43 ; Heekeren, 1972 : 46). Tahap kehidupan berikutnya, yakni masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, meninggalkan bukti-bukti di Gua Selonding, Gua Karang Boma I, Gua Karang Boma II yang terletak di perbukitan kapur Pecatu (Kabupaten Badung). Bukti-bukti itu antara lain berupa alat-alat dari tulang dan tanduk rusa, serta sisa-sisa makanan, yakni kulit-kulit kerang dan siput laut, serta gigi babi rusa (Sutaba, 1980 : 15). Bukti-bukti yang serupa ditemukan juga di Goa Gede Nusa Penida (Suastika, 2005 : 30-31).

Pada masa bercocok tanam, jumlah penduduk Bali telah bertambah dan persebarannya semakin meluas. Peninggalan benda-benda budaya mereka ditemukan di Palasari, Pulukan, Kediri, Kerambitan, Bantiran. Kesiman, Ubud, Payangan, Pejeng, Selulung, Selat, Nusa Penida, dan beberapa desa di Kabupaten Buleleng. Benda-benda itu pada umumnya berupa alat-alat dan perkakas yang digunakan sehari-hari, misalnya kapak dan pahat batu persegi empat panjang. Artefak-artefak tersebut di dapat sebagai temuan lepas, dalam arti, bukan merupakan hasil ekskavasi yang sistematik (Sutaba, 1980 : 19 ; cf. Suastika, 1985 : 30-33).

Masa perundagian merupakan babakan terakhir dari masa prasejarah. Benda-benda temuan dari masa ini antara lain berupa nekara (di Pejeng, bebitra, dan Peguyangan), tajak, gelang kaki dan tangan, cincin, anting-anting, ikat pinggang, dan pelindung jari tangan (Sutaba, 1980 : 23-25). Peninggalan-peninggalan lain yang berasal dari masa ini adalah cetakan nekara dari batu di desa Manuaba dan sejumlah sarkofagus yang ditemukan di desa Nongan, Bajing, Bedulu, Mas, Tegallalang, Plaga, Ambyarsari, Poh Asem, Tigawasa, dan Cacang (Sutaba, 1980 : 25-26).

Telah diketahui bahwa sarkofagus adalah salah satu sarana atau wadah penguburan. Wadah penguburan yang lain ada pula berupa tempayan. Tradisi penguburan dengan sarkofagus dan tempayan muncul bersamaan dengan tradisi megalitik di Indonesia, termasuk di Bali. Penguburan dengan tempayan adalah cara penguburan sekunder, yakni penguburan yang dilakukan setelah mayat lebih dahulu dikuburkan di tempat lain (penguburan primer). Dapat ditambahkan bahwa di situs prasejarah Gilimanuk ditemukan pula cara penguburan sekunder tanpa menggunakan wadah. Di situ, pada saat penguburan primer, mayat orang dewasa dan kanak-kanak dikubur dengan posisi membujur atau terlipat. Kemudian, tulang-tulangnya yang tertentu dikumpulkan untuk dikubur kembali di dalam tanah (penguburan sekunder) tanpa menggunakan wadah (Soejono, 1977 : 191-192, 223-227).

Sarkofagus dan peninggalan-peninggalan lain yang berasal dari tradisi megalitik kian hari semakin banyak ditemukan. Peninggalan-peninggalan itu antara lain berupa bangunan suci yang terdiri atas susunan batu, menhir, teras berundak (di Selulung, Batukaang, Tenganan Pegringsingan, Sembiran, dan Trunyan), tahta batu, arca menhir, lesung batu, palung batu, dan batu dakon (di Gelgel), serta arca-arca sederhana yang melambangkan nenek moyang ditemukan di Poh Asem, Depaa, dan Pura Besakih di dea Keramas (Covarrubias, 1972 : 26 ; 167-168 ; Sutaba, 1980b : 30 ; 1982 : 107-108 ; 1995 : 88-93 ; Mahaviranata, 1982 : 119-127 ; Oka, 1985 : 118-129).

Kemampuan menghasilkan benda-benda budaya yang telah disebutkan tidak dapat dilepaskan dari perkembangan aspek-aspek sosial ekonomi, sosial budaya (termasuk religi), teknologi, dan sebagainya yang dicapai masyarakat prasejarah. Beberapa hal mengenai aspek-aspek itu dikemukakan berikut ini.

Para ahli tampaknya sepakat menyatakan bahwa kehidupan bercocok tanam merupakan “tonggak sejarah” kemajuan peradaban umat manusia yang sangat penting. Di antara mereka, bahkan ada yang menyatakan bahwa perubahan ke tahap kehidupan itu merupakan revolusi pertama dan sangat besar dalam sejarah peradaban umat manusia. Menurut H.R. van Heekeren, nenek moyang pendukung kebudayaan ini di Indonesia, termasuk yang di Bali, sudah menyebar dari tanah daratan Asia Tenggara. Mereka memasuki wilayah kepulauan lebih kurang pada tahun 1500-1000 sebelum masehi, setelah menempuh perjalanan panjang melalui darat, sungai, dan laut (1955 : 40-42).

Kehidupan bercocok tanam mendorong mereka bertempat tinggal tetap dan membangun perkampungan dengan organisasi yang semakin teratur. Mereka telah mengenal perdagangan, paling tidak dengan sistem tukar barang-barang in natura. Kehidupan religi mereka semakin berkembang. Pelaksanaan upacara-upacara berlandaskan konsep magis (sympathic magic) menjelang kegiatan berburu (Kosasih, 1985 : 159), merupakan salah satu hal yang mengawali perkembangan kehidupan religi mereka. Mereka juga telah meyakini adanya “kehidupan” setelah kematian, dalam arti, mereka meyakini bahwa arwah nenek moyang mempunyai kemampuan mengatur, melindungi, dan memberkahi orang-orang yang masih hidup, atau sebaliknya menghukum keturunannya jika ternyata berbuat salah. Hal ini dapat dibuktikan antara lain dengan perlakuan masyarakat terhadap jasad orang yang meninggal atau upacara-upacara penguburan yang diselenggarakan.

Kemajuan dalam pelbagai aspek kehidupan yang dicapai pada masa bercocok tanam berkembang semakin subur dan cepat pada masa perundagian, yakni yang merupakan tahap akhir masa prasejarah dan sekaligus merupakan saat-saat penjelang masa sejarah Bali. Dalam bidang teknologi, penduduk Bali pada waktu itu2 telah mampu melakukan peleburan bijih-bijih logam, pengecoran logam dalam rangka pembuatan suatu benda,3 serta menghiasi benda-benda ciptaannya dengan motif-motif tertentu. Kemampuan-kemampuan itu menunjukkan betapa tingginya tingkat kemajuan dalam bidang piroteknologi (pyrotechnology) yang telah dicapai.4 Hal itu dikatakan demikian, karena semua pekerjaan tersebut memerlukan panas dengan temperatur yang sangat tinggi.

Jumlah penduduk yang semakin bertambah memungkinkan desa-desa tumbuh semakin banyak dan berkembang semakin pesat. Kehidupan bergotong royong kian diperlukan, diversifikasi dalam pelbagai aspek kehidupan, baik yang berkenaan dengan mata pencaharian hidup maupun tugas dan fungsi seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat, kian berkembang pula. Kelompok-kelompok sosial dengan keterampilan tertentu, misalnya yang terampil dalam bidang arsitektur, seni pahat, seni tabuh, dan seni tari, semakin dibutuhkan oleh masyarakat dan serta merta mempercepat terwujudnya masyarakat yang heterogen. Lebih jauh, mudah dipahami bahwa dalam masyarakat heterogen yang telah digambarkan terdapat pelbagai kepentingan pihak-pihak tertentu yang perlu dikoordinasikan agar tercapai tujuan hidup bermasyarakat secara optimal. Keadaan ini menuntut kehadiran pemimpin atau pemimpin-pemimpin yang berwibawa. Dengan kata lain, tokoh pemimpin, yang mungkin pada mulanya sebagai primus inter pares, menjadi semakin penting. Hal itu sekaligus mencerminkan bahwa masyarakat pada waktu itu telah mengenal stratifikasi sosial, walaupun dalam wujud yang masih bersifat embrio. Keberadaan hal itu, selain dapat dipahami sebagai konsekuensi logis dari adanya pemimpin tertinggi dan kepala masing-masing kelompok sosial, sistem penguburan juga memberikan petunjuk yang sangat berarti. Tampaknya, hanya orang-orang yang semasa hidupnya menempati kedudukan terhormat saja dikubur dalam sarkofagus atau tempayan. Sebaliknya, mayat orang kebanyakan dikubur secara biasa dalam tanah.

Hal lain yang perlu dikemukakan ialah masalah religi. Pelbagai peninggalan tradisi megalitik, misalnya tahta batu, dolmen, menhir, arca yang bercorak megalitik, dan hiasan kedok muka pada beberapa sarkofagus mencerminkan bahwa perkembangan religi pada masa itu telah maju. Pemujaan terhadap arwah leluhur yang bersemayam di puncak-puncak gunung atau tempat-tempat suci lain dan kekuatan-kekuatan alam tertentu yang diyakini dapat mempengaruhi kehidupan mereka berkembang semakin subur, Bahkan, dapat dikatakan bahwa sebagian besar dari benda-benda peninggalan tradisi megalitik itu sampai dewasa ini masih disucikan dan digunakan sebagai media memohon kesejahteraan masyarakat (Sutaba, 1995 : 88).

Hal yang menarik perhatian pula ialah sejumlah tahta batu diberikan nama khas Bali, misalnya Pelinggih Bhatara Puseh, Bhatara Dalem, Jero Wayan, Jero Nongan, Pesimpangan Batu Belig, dan Pesimpangan Tamba Waras (Kusumawati, 1989 : 107-222 ; Sutaba, 1995 : 101-102). Lebih jauh mengenai kekhasan Bali, R.P. Soejono menunjuk pola hias kedok muka pada beberapa sarkofagus serta sistem kubur sekunder dengan tata letak bagian-bagian rangka yang sangat teratur dan betul-betul tidak ada persamaannya di tempat lain. Dikatakannya bahwa hiasan kedok muka itu, selain berfungsi dekoratif, juga melambangkan kekuatan gaib yang berfungsi melindungi roh orang yang meninggal dari gangguan roh-roh jahat (1977 : 30-169 ; 246-270 ; 1993 : 7). Selain itu, beliau juga terkesan dengan pahatan yang menggambarkan alat vital wanita dan kerbau pada sarkofagus yang ditemukan di Ambiarsari dan Munduk Tumpeng. Dalam kaitan dengan pahatan-pahatan tersebut, khususnya yang terdapat pada sarkofagus di Munduk Tumpeng, beliau menyatakan bahwa hal itu memperkuat pemahaman mengenai fungsi sarkofagus tipe itu, yakni untuk menopang pencapaian tujuan hidup setelah seseorang lepas dari lingkaran kelahiran kembali (rebirth). Roh orang itu akan diangkut oleh kerbau yang berfungsi sebagai kendaraan bagi roh orang yang meninggal agar sampai di alam arwah dengan selamat dan cepat. Dengan kata lain, sarkofagus Munduk Tumpeng memiliki makna ganda, yakni kelahiran kembali dan kehadiran dengan selamat di alam para leluhur (19... : 183).

Mudah dipahampi bahwa sejalan dengan perkembangan atau kemajuan dalam bidang religi akan muncul pula tokoh-tokoh yang mempunyai kemampuan khusus dalam bidang spiritual, misalnya para pemimpin upacara-upacara magis-religius. Kedudukan mereka terhormat dan peranannya sangat besar. Kedudukan dan peranannya seperti itu menyebabkan mereka menjadi tokoh-tokoh yang amat disegani oleh masyarakat (cf. Bertling, 1974 : 11-15).

Gambaran di atas diharapkan dapat memberikan pemahaman bahwa manusia Bali pada akhir masa perundagian, atau menjelang masa sejarah, telah mencapai tingkat kehidupan sosial ekonomi, sosial budaya, religi, teknologi, dan sebagainya yang relatif maju dan kompleks. Dengan bekal itulah, mereka menyongsong kehadiran pengaruh budaya-budaya asing berikutnya, yang sebagaimana akan diketahui, dengan arus terkuat berasal dari daratan India.

Keterangan-keterangan tentang Bali yang terdapat dalam sumber-sumber Cina perlu dikemukakan pula di sini. Nama-nama dalam kitab Cina, yang oleh sementara orang pernah diidentifikasikan sebagai Bali, adalah P’o-li, Dva-pa-tan, dan Mali. Toponim P’o-li dikenal sejak pemerintahan dinasti Liang (502-556). P’o-lidikatakan terletak di sebuah pulau di sebelah tenggara Kanton Groeneveldt, 1960 : 80). Nama P’o-li juga terbaca dalam kitab sejarah dinasti Sui 9581-617). Di sana disebutkan bahwa jika seseorang berlayar dari Gau-chi (Annam Utara) ke arah selatan, maka akan sampai di Chih-tu, kemudian di Tan-tan, dan akhirnya di P’o-li (Groeneveldt, 1960 : 82), Keterangan seperti itu terbaca pula dalam kitab sejarah baru dinasti T’ang (618-908), dengan sedikit tambahan yang menyatakan bahwa di sebelah timur P’o-li terletak Lu-cha dengan adat-istiadat sama dengan P’o-li (Groenveldt, 1960 : 83-84 ; Slametmulyana, 1981 : 126).

Informasi tentang P’o-li yang berbeda jika dibandingkan dengan keterangan-keterangan di atas terdapat dalam kitab sejarah kuno dinasti T’ang (618-908). Penulis kitab itu mencatat bahwa P’o-li merupakan batas sebelah timur kerajaan Ho-ling. Lebih jauh, Ho-ling (Ka-ling) dikatakan terletak di sebuah pulau di lautan sebelah selatan. Di sebelah timur Ho-ling terletak P’o-li, di sebelah barat To-po-teng, di sebelah utara Chen-la (Kamboja), dan di sebelah selatan adalah lautan (Groenveldt, 1960 : 12 cf. Sumadio, dkk., 1990 : 281).

Sesungguhnya, identifikasi P’o-li dengan Bali sangat diragukan, bahkan tidak disetujui oleh kebanyakan ahli. Identifikasi P’o-li dengan Bali pernah dikemukakan oleh P. Pelliot. Akan tetapi, ditambahkannya pula bahwa P’o-li mungkin identik dengan Kalimantan. Pendapat yang menyatakan bahwa P’o-li terletak di Kalimantan, atau sama dengan Kalimantan, dikemukakan juga oleh E. Bretschneider dan Dato Sir Roland Braddel (Sumadio, dkk., 1990 : 281).

Ahli-ahli sebagian besar mengemukakan bahwa P’o-li terletak di wilayah Sumatra. Menurut G. Schlegel, P’o-li identik dengan Asahan di pantai timur laut Sumatra Utara, dan menurut W.P. Groeneveldt, P’o-li berada di pantai utara Sumatra. Hsu Yu-ts’iao mengindentifikasi negeri P’o-li dengan Pantai di pantai timur laut Sumatra dan V. Obdeyn menyatakan P’o-li terletak di pulau Bangka. Menurut J.L. Moens, P’o-li pada aad VI sama dengan Palembang, Sedangkan P’o-li pada abad VII adalah untuk menyatakan sebuah kerajaan yang terletak di Jawa. Dapat ditambahkan bahwa menurut G.E. Gerini, P’o-li terletak di pantai barat Semenanjung Malaya (Sumadio, dkk., 1990 : 281).

Pendapat-pendapat yang telah dikemukakan cenderung menyatakan bahwa P’o-li merupakan kerajaan besar, atau paling tidak terletak di wilayah yang luas. Kecenderungan itu sesuai dengan gambaran yang di dapat dari kitab sejarah dinasti Sui. Menurut penulis kitab itu, panjang kerajaan P’o-li dari timur ke barat adalah selama empat bulan perjalanan, dan dari utara ke selatan selama 45 hari perjalanan (Groeneveldt, 1960 : 82). Apabila memang benar P’o-li merupakan kerajaan besar, maka tidak sesuai dengan Bali yang relatif kecil.

Toponim yang lebih cocok diidentifikasikan dengan Bali, menurut bagian lain pendapat Groeneveldt, adalah Dva-pa-tan yang terbaca dalam kitab sejarah kuno dinasti T’ang. Negeri itu dikatakan terletak di sebelah selatan Kamboja dalam jarak dua bulan pelayaran, atau di sebelah timur Ho-ling (Ka-ling). Adat istiadatnya sama dengan Ho-ling. Di sana, tiap bulan padi sudah dapat dituai, dan penduduk menulis pada daun rontal. Jika ada orang mati, mayatnya diberi perhiasan emas, ke dalam mulutnya dimasukkan sepotong emas, lalu dibakar disertai dengan bau-bauan yang harum (Groeneveldt, 1960 : 12-58). Di dalam kitab Chu-fan-chih bagian Su-chi-tan, Bali disebut dengan nama Mali. Lebih jauh, penulis kitab Yao-i-chin-lue mencatat nama P’eng-li yang mungkin dapat diidentifikasikan dengan Pali atau Mali (Sumadio, dkk., 1990 : 282).

Jumat, 11 November 2011

Bali - Kota Denpasar

Kota Denpasar berada pada ketinggian 0-75 meter dari permukaan laut, terletak pada posisi 8°35’31” sampai 8°44’49” Lintang Selatan dan 115°00’23” sampai 115°16’27” Bujur Timur. Sementara luas wilayah Kota Denpasar 127,78 km² atau 2,18% dari luas wilayah Provinsi Bali.

Nama Denpasar dapat bermaksud pasar baru, sebelumnya kawasan ini merupakan bagian dari Kerajaan Badung, sebuah kerajaan yang pernah berdiri sejak abad ke-19, sebelum kerajaan tersebut ditundukan oleh Belanda pada tanggal 20 September 1906, dalam sebuah peristiwa heroik yang dikenal dengan Perang Puputan Badung.

Setelah kemerdekaan Indonesia, berdasarkan Undang-undang Nomor 69 Tahun 1958, Denpasar menjadi ibu kota dari pemerintah daerah Kabupaten Badung, selanjutnya berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor Des.52/2/36-136 tanggal 23 Juni 1960, Denpasar juga ditetapkan sebagai ibu kota bagi Provinsi Bali yang semula berkedudukan di Singaraja.

Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1978, Denpasar resmi menjadi ‘’Kota Administratif Denpasar’’, dan seiring dengan kemampuan serta potensi wilayahnya dalam menyelenggarakan otonomi daerah, pada tanggal 15 Januari 1992, berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1992, dan Kota Denpasar ditingkatkan statusnya menjadi ‘’kotamadya’’, yang kemudian diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 27 Februari 1992.



Berikut adalah daftar Kecamatan terdapat di kabupaten Buleleng beserta masing-masing Desa dengan Kode Pos:
  1. Kecamatan Denpasar Barat
    1. Kelurahan atau Desa Dauh Puri Kangin, Kode Pos: 80112
    2. Kelurahan atau Desa Dauh Puri, Kode Pos: 80113
    3. Kelurahan atau Desa Dauh Puri Kauh, Kode Pos: 80113
    4. Kelurahan atau Desa Dauh Puri Klod/Kelod, Kode Pos: 80114
    5. Kelurahan atau Desa Padangsambian, Kode Pos: 80117
    6. Kelurahan atau Desa Padangsambian Kaja, Kode Pos: 80117
    7. Kelurahan atau Desa Padangsambian Klod/Kelod, Kode Pos: 80117
    8. Kelurahan atau Desa Pemecutan, Kode Pos: 80119
    9. Kelurahan atau Desa Pemecutan Klod/Kelod, Kode Pos: 80119
    10. Kelurahan atau Desa Tegal Harum, Kode Pos: 80119
    11. Kelurahan atau Desa Tegal Kertha, Kode Pos: 80119

  2. Kecamatan Denpasar Selatan
    1. Kelurahan atau Desa Pemogan, Kode Pos: 80221
    2. Kelurahan atau Desa Pedungan, Kode Pos: 80222
    3. Kelurahan atau Desa Sesetan, Kode Pos: 80223
    4. Kelurahan atau Desa Sidakarya, Kode Pos: 80224
    5. Kelurahan atau Desa Panjer, Kode Pos: 80225
    6. Kelurahan atau Desa Renon, Kode Pos: 80226
    7. Kelurahan atau Desa Sanur Kaja, Kode Pos: 80227
    8. Kelurahan atau Desa Sanur Kauh, Kode Pos: 80227
    9. Kelurahan atau Desa Sanur, Kode Pos: 80228
    10. Kelurahan atau Desa Serangan, Kode Pos: 80229

  3. Kecamatan Denpasar Timur
    1. Kelurahan atau Desa Dangin Puri, Kode Pos: 80232
    2. Kelurahan atau Desa Dangin Puri Klod, Kode Pos: 80234
    3. Kelurahan atau Desa Sumerta, Kode Pos: 80235
    4. Kelurahan atau Desa Sumerta Kaja, Kode Pos: 80236
    5. Kelurahan atau Desa Sumerta Kauh, Kode Pos: 80236
    6. Kelurahan atau Desa Kesiman, Kode Pos: 80237
    7. Kelurahan atau Desa Kesiman Kertalangu, Kode Pos: 80237
    8. Kelurahan atau Desa Kesiman Petilan, Kode Pos: 80237
    9. Kelurahan atau Desa Penatih, Kode Pos: 80238
    10. Kelurahan atau Desa Penatih Dangin Puri, Kode Pos: 80238
    11. Kelurahan atau Desa Sumerta Kelod/Klod, Kode Pos: 80239

  4. Kecamatan Denpasar Utara
    1. Kelurahan atau Desa Dauh Puri Kaja, Kode Pos: 80111
    2. Kelurahan atau Desa Peguyangan, Kode Pos: 80115
    3. Kelurahan atau Desa Peguyangan Kaja, Kode Pos: 80115
    4. Kelurahan atau Desa Peguyangan Kangin, Kode Pos: 80115
    5. Kelurahan atau Desa Ubung, Kode Pos: 80116
    6. Kelurahan atau Desa Ubung Kaja, Kode Pos: 80116
    7. Kelurahan atau Desa Pemecutan Kaja, Kode Pos: 80118
    8. Kelurahan atau Desa Dangin Puri Kaja, Kode Pos: 80231
    9. Kelurahan atau Desa Dangin Puri Kauh, Kode Pos: 80231
    10. Kelurahan atau Desa Dangin Puri Kangin, Kode Pos: 80233
    11. Kelurahan atau Desa Tonja, Kode Pos: 80239

Bali - Kabupaten Buleleng

Tersebutlah Istana Gelgel pada sekitar Tahun 1568 dalam suasana tenang, dimana Raja Sri Aji Dalem Sagening menitahkan putranda Ki Barak Panji Sakti, supaya kembali ke tempat tumpah darah bundanya di Den Bukit (Bali Utara). Ki Barak Panji bersama Bunda Siluh Pasek setelah memohon diri kehadapan Sri Aji Dalem lalu berangkat menuju Den Bukit diantar oleh empat puluh orang pengiring baginda yang dipelopori oleh Ki Kadosot.

Perjalanan mereka memasuki hutan lebat sangat mengerikan, udara sangat dingin, menembus celah-celah bukit, mendaki gunung-gunung meninggi, menuruni jurang-jurang curam, dan akhirnya mereka tiba di suatu tempat yang agak datar. Pada tempat itulah mereka melepaskan lelah seraya membuka bungkusan bekal mereka. Selesai mereka makan ketupat, mereka sembahyang kemudian mereka diperciki air/tirta oleh Siluh Pasek, demi keselamatan perjalanannya. Belakangan tempat itu diberi nama “ YEH KETIPAT ”.

Rombongan Ki Barak Panji telah tiba di desa Gendis / Panji dengan selamat. Desa Gendis diperintah oleh Ki Barak Panji Sakti, seorang pemimpin yang gagah berani, adil dan bijaksana. Ki Barak Panji Sakti mendengar adanya kapal layar tionghoa terdampar, kemudian timbullah rasa belas kasihan untuk menolong pemilik kapal tersebut. Baginda bersama-sama dengan Ki Dumpyung dan Ki Kadosot dapat membantu menyelamatkan kapal layar yang terdampar itu dipantai segara Penimbangan.

Setelah bantuannya berhasil, baginda mendapatkan hadiah seluruh isi kapal tersebut berupa barang-barang tembikar seperti piring, mangkok, dan uang kepeng yang jumlahnya sangat besar. Kepemimpinan Ki Barak Panji Sakti makin lama makin terkenal, beliau selalu memperhatikan keadaan Rakyatnya, mengadakan pembangunan di segala bidang baik Fisik maupun Spiritual. Oleh karena demikian maka sekalian penduduk desa Gendis dan sekitarnya, secara bulat mendaulat baginda supaya menjadi raja yang kemudian dinobatkan dengan gelar ”Ki Gusti Ngurah Panji Sakti”.

Untuk mencari tempat yang agak datar, maka kota Gendis serta Kahyangan Pura Bale Agung-nya dipindahkan ke utara desa Panji. Pada tempat yang baru inilah baginda mendirikan istana lengkap dengan kahyangan Pura Bale Agung-nya. Guna memenuhi kepentingan masyarakat desanya untuk menghantar persembahyangan di dalam pura maupun upacara di luar pura, serta untuk hiburan-hiburan lainnya, maka baginda membuat perangkat gamelan gong yang masing-masing diberi nama sebagai berikut:

  1. Dua buah gongnya diberi nama Bentar Kedaton
  2. Sebuah bendenya diberi nama Ki Gagak Ora
  3. Sebuah Kenuknya bernama Ki Tudung Musuh
  4. Teropong bernama Glagah Ketunon
  5. Gendangnya bernama Gelap Kesanga
  6. Keseluruhannya bernama “Juruh Satukad”

Karena perbawa dan keunggulan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, maka Kyai Alit Mandala, Lurah Kawasan Bon Dalem tunduk kepada baginda. Kemudian atas kebijaksanaanya maka Kyai Alit mandala diangkat kembali menjadi Lurah yang memerintah di kawasan Bon Dalem, Buleleng bagian timur. Pada sekitar tahun 1584 masehi, untuk mencari tempat yang lebih strategis maka kota Panji dipindahkan kesebelah Utara Sangket. Pada tempat yang baru inilah baginda selalu bersuka ria bersama rakyatnya sambil membangun dan kemudian tempat yang baru ini diberi nama “SUKASADA” yang artinya selalu bersuka ria.

Selanjutnya diceritakan berkat keunggulan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, maka Kyai Sasangka Adri, Lurah kawasan Tebu Salah (Buleleng Barat) tunduk kepada baginda. Lalu atas kebijaksanaan beliau Kyai Sasangka Adri diangkat kembali menjadi Lurah di kawasan Bali Utara Bagian Barat. Untuk lebih memperkuat dalam mempertahankan daerahnya Ki Gusti Ngurah Panji Sakti segera membentuk pasukan yang disebut “Truna Goak” di desa Panji. Pasukan ini dibentuk dengan jalan memperpolitik seni permainan burung gagak, yang dalam bahasa Bali disebut “Megoak-goakan”.

Dari permainan ini akhirnya terbentuklah pasukan Truna Goak yang berjumlah 2000 orang, yang terdiri dari para pemuda perwira berbadan tegap, tangkas serta memiliki moral yang tinggi di bawah pimpinan perang yang yang bernama Ki Gusti Tamblang Sampun dan diwakili oleh Ki Gusti Made Batan. Ki Gusti Ngurah Panji Sakti serta putra-putra baginda dan perwira lainnya memimpin pasukan Trua Goak yang semuanya siap bertempur berangkat menuju daerah Blambangan. Dalam pertempuran ini raja Blambangan gugur di medan perang, dengan demikian kerajaan Blambangan dengan seluruh penduduknya tunduk pada raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Berita kemenangan ini segera didengar oleh raja Mataram Sri Dalem Solo dan kemudian beliau menghadiahkan seekor gajah dengan 3 orang pengembalanya kepada Ki Gusti Ngurah Panji Sakti.

Menundukkan kerajaan Blambangan harus ditebus dengan kehilangan seorang Putra baginda bernama Ki Gusti Ngurah Panji Nyoman, hal mana mengakibatkan baginda raja selalu bermuran durja. Hanya berkat nasehat-nasehat pandita Purohito, akhirnya kesedihan baginda dapat terlupakan dan kemudian terkandung maksud untuk membangun istana yang baru disebelah utara Sukasada. Pada sekitar tahun Candrasangkala “Raja Manon Buta Tunggal” atau Candrasangkala 6251 atau sama dengan tahun Çaka 1526 atau tahun 1604 masehi Ki Gusti Ngurah Panji Sakti menitahkan rakyatnya membabat tanah untuk mendirikan istana diatas padang rumput alang-alang yakni ladang tempat pengembala ternak, dimana ditemukan orang-orang menanam buleleng.

Pada ladang buleleng itu baginda melihat beberapa pondok-pondok yang berjejer memanjang. Disanalah beliau mendirikan istana yang baru, yang menurut perhitungan hari sangat baik pada waktu itu, jatuh pada tanggal “30 maret 1604” selanjutnya istana raja yang baru dibangun itu disebut “SINGARAJA” karena mengingat bahwa keperwiraan raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti tak ubahnya seperti Singa.

Demikianlah hari lahirnya kota singaraja pada tanggal 30 maret 1604 yang bersumber pada sejarah Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, sedangkan nama Buleleng adalah nama asli jagung gambal atau jagung gambah yang banyak ditanam oleh penduduk pada waktu itu.



Berikut adalah daftar Kecamatan terdapat di kabupaten Buleleng beserta masing-masing Desa dengan Kode Pos:
  1. Kecamatan Banjar
    1. Kelurahan atau Desa Banjar, Kode Pos: 81152
    2. Kelurahan atau Desa Banjar Tegeha, Kode Pos: 81152
    3. Kelurahan atau Desa Banyuatis, Kode Pos: 81152
    4. Kelurahan atau Desa Banyusri, Kode Pos: 81152
    5. Kelurahan atau Desa Cempaga, Kode Pos: 81152
    6. Kelurahan atau Desa Dencarik, Kode Pos: 81152
    7. Kelurahan atau Desa Gesing, Kode Pos: 81152
    8. Kelurahan atau Desa Gobleg, Kode Pos: 81152
    9. Kelurahan atau Desa Kaliasem, Kode Pos: 81152
    10. Kelurahan atau Desa Kayuputih, Kode Pos: 81152
    11. Kelurahan atau Desa Munduk, Kode Pos: 81152
    12. Kelurahan atau Desa Pedawa, Kode Pos: 81152
    13. Kelurahan atau Desa Sidetapa, Kode Pos: 81152
    14. Kelurahan atau Desa Tampekan, Kode Pos: 81152
    15. Kelurahan atau Desa Temukus, Kode Pos: 81152
    16. Kelurahan atau Desa Tigawasa, Kode Pos: 81152
    17. Kelurahan atau Desa Tirtasari, Kode Pos: 81152

  2. Kecamatan Buleleng
    1. Kelurahan atau Desa Kampung Singaraja, Kode Pos: 81111
    2. Kelurahan atau Desa Astina, Kode Pos: 81112
    3. Kelurahan atau Desa Kendran, Kode Pos: 81112
    4. Kelurahan atau Desa Banjar Bali, Kode Pos: 81113
    5. Kelurahan atau Desa Banjar Jawa, Kode Pos: 81113
    6. Kelurahan atau Desa Kampung Baru, Kode Pos: 81114
    7. Kelurahan atau Desa Kampung Kajanan, Kode Pos: 81114
    8. Kelurahan atau Desa Kampung Anyar, Kode Pos: 81115
    9. Kelurahan atau Desa Kampung Bugis, Kode Pos: 81115
    10. Kelurahan atau Desa Banyuasri, Kode Pos: 81116
    11. Kelurahan atau Desa Kaliuntu, Kode Pos: 81116
    12. Kelurahan atau Desa Banjar Tegal, Kode Pos: 81117
    13. Kelurahan atau Desa Paket Agung, Kode Pos: 81118
    14. Kelurahan atau Desa Alasangker, Kode Pos: 81119
    15. Kelurahan atau Desa Anturan, Kode Pos: 81119
    16. Kelurahan atau Desa Banyuning, Kode Pos: 81119
    17. Kelurahan atau Desa Beratan, Kode Pos: 81119
    18. Kelurahan atau Desa Bhakti Seraga memiliki Baktiseraga, Kode Pos: 81119
    19. Kelurahan atau Desa Jinengdalem, Kode Pos: 81119
    20. Kelurahan atau Desa Kalibukbuk, Kode Pos: 81119
    21. Kelurahan atau Desa Liligundi, Kode Pos: 81119
    22. Kelurahan atau Desa Nagasepaha, Kode Pos: 81119
    23. Kelurahan atau Desa Pemaron, Kode Pos: 81119
    24. Kelurahan atau Desa Penarukan, Kode Pos: 81119
    25. Kelurahan atau Desa Penglatan, Kode Pos: 81119
    26. Kelurahan atau Desa Petandakan, Kode Pos: 81119
    27. Kelurahan atau Desa Poh Bergong, Kode Pos: 81119
    28. Kelurahan atau Desa Sari Mekar, Kode Pos: 81119
    29. Kelurahan atau Desa Tukadmungga, Kode Pos: 81119

  3. Kecamatan Busungbiu
    1. Kelurahan atau Desa Bengkel, Kode Pos: 81154
    2. Kelurahan atau Desa Bongancina, Kode Pos: 81154
    3. Kelurahan atau Desa Busungbiu, Kode Pos: 81154
    4. Kelurahan atau Desa Kedia memiliki Kedis, Kode Pos: 81154
    5. Kelurahan atau Desa Kekeran, Kode Pos: 81154
    6. Kelurahan atau Desa Pelapuan, Kode Pos: 81154
    7. Kelurahan atau Desa Pucaksari, Kode Pos: 81154
    8. Kelurahan atau Desa Sepang, Kode Pos: 81154
    9. Kelurahan atau Desa Sepang Kelod, Kode Pos: 81154
    10. Kelurahan atau Desa Subuk, Kode Pos: 81154
    11. Kelurahan atau Desa Telaga, Kode Pos: 81154
    12. Kelurahan atau Desa Tinggarsari, Kode Pos: 81154
    13. Kelurahan atau Desa Tista, Kode Pos: 81154
    14. Kelurahan atau Desa Titab, Kode Pos: 81154
    15. Kelurahan atau Desa Umejero, Kode Pos: 81154

  4. Kecamatan Gerokgak
    1. Kelurahan atau Desa Banyupoh, Kode Pos: 81155
    2. Kelurahan atau Desa Celukan Bawang, Kode Pos: 81155
    3. Kelurahan atau Desa Gerokgak, Kode Pos: 81155
    4. Kelurahan atau Desa Musi, Kode Pos: 81155
    5. Kelurahan atau Desa Patas, Kode Pos: 81155
    6. Kelurahan atau Desa Pejarakan, Kode Pos: 81155
    7. Kelurahan atau Desa Pemuteran, Kode Pos: 81155
    8. Kelurahan atau Desa Pengulon, Kode Pos: 81155
    9. Kelurahan atau Desa Penyabangan, Kode Pos: 81155
    10. Kelurahan atau Desa Sanggalangit, Kode Pos: 81155
    11. Kelurahan atau Desa Sumber Klampok, Kode Pos: 81155
    12. Kelurahan atau Desa Sumberkima, Kode Pos: 81155
    13. Kelurahan atau Desa Tinga Tinga, Kode Pos: 81155
    14. Kelurahan atau Desa Tukad Sumaga, Kode Pos: 81155

  5. Kecamatan Kubutambahan
    1. Kelurahan atau Desa Bengkala, Kode Pos: 81172
    2. Kelurahan atau Desa Bila, Kode Pos: 81172
    3. Kelurahan atau Desa Bontihing, Kode Pos: 81172
    4. Kelurahan atau Desa Bukti, Kode Pos: 81172
    5. Kelurahan atau Desa Bulian, Kode Pos: 81172
    6. Kelurahan atau Desa Depeha, Kode Pos: 81172
    7. Kelurahan atau Desa Kubutambahan, Kode Pos: 81172
    8. Kelurahan atau Desa Mengening, Kode Pos: 81172
    9. Kelurahan atau Desa Pakisan, Kode Pos: 81172
    10. Kelurahan atau Desa Tajun, Kode Pos: 81172
    11. Kelurahan atau Desa Tambakan, Kode Pos: 81172
    12. Kelurahan atau Desa Tamblang, Kode Pos: 81172
    13. Kelurahan atau Desa Tunjung, Kode Pos: 81172

  6. Kecamatan Sawan
    1. Kelurahan atau Desa Bebetin, Kode Pos: 81171
    2. Kelurahan atau Desa Bungkulan, Kode Pos: 81171
    3. Kelurahan atau Desa Galungan, Kode Pos: 81171
    4. Kelurahan atau Desa Giri Emas, Kode Pos: 81171
    5. Kelurahan atau Desa Jagaraga, Kode Pos: 81171
    6. Kelurahan atau Desa Kerobokan, Kode Pos: 81171
    7. Kelurahan atau Desa Lemukih, Kode Pos: 81171
    8. Kelurahan atau Desa Menyali, Kode Pos: 81171
    9. Kelurahan atau Desa Sangsit, Kode Pos: 81171
    10. Kelurahan atau Desa Sawan, Kode Pos: 81171
    11. Kelurahan atau Desa Sekumpul, Kode Pos: 81171
    12. Kelurahan atau Desa Sinabun, Kode Pos: 81171
    13. Kelurahan atau Desa Sudaji, Kode Pos: 81171
    14. Kelurahan atau Desa Suwug, Kode Pos: 81171

  7. Kecamatan Seririt
    1. Kelurahan atau Desa Banjar Asem, Kode Pos: 81153
    2. Kelurahan atau Desa Bestala, Kode Pos: 81153
    3. Kelurahan atau Desa Bubunan, Kode Pos: 81153
    4. Kelurahan atau Desa Gunungsari, Kode Pos: 81153
    5. Kelurahan atau Desa Joanyar, Kode Pos: 81153
    6. Kelurahan atau Desa Kalianget, Kode Pos: 81153
    7. Kelurahan atau Desa Kalisada, Kode Pos: 81153
    8. Kelurahan atau Desa Lokapaksa, Kode Pos: 81153
    9. Kelurahan atau Desa Mayong, Kode Pos: 81153
    10. Kelurahan atau Desa Munduk Bestala, Kode Pos: 81153
    11. Kelurahan atau Desa Pangkungparuk, Kode Pos: 81153
    12. Kelurahan atau Desa Patemoh memiliki Patemon, Kode Pos: 81153
    13. Kelurahan atau Desa Pengastulan, Kode Pos: 81153
    14. Kelurahan atau Desa Rangdu, Kode Pos: 81153
    15. Kelurahan atau Desa Ringdikit, Kode Pos: 81153
    16. Kelurahan atau Desa Seririt, Kode Pos: 81153
    17. Kelurahan atau Desa Sulanyah, Kode Pos: 81153
    18. Kelurahan atau Desa Tangguwisia, Kode Pos: 81153
    19. Kelurahan atau Desa Ularan, Kode Pos: 81153
    20. Kelurahan atau Desa Umeanyar, Kode Pos: 81153
    21. Kelurahan atau Desa Unggahan, Kode Pos: 81153

  8. Kecamatan Sukasada
    1. Kelurahan atau Desa Ambengan, Kode Pos: 81161
    2. Kelurahan atau Desa Gitgit, Kode Pos: 81161
    3. Kelurahan atau Desa Kayuputih, Kode Pos: 81161
    4. Kelurahan atau Desa Padangbulia, Kode Pos: 81161
    5. Kelurahan atau Desa Pancasari, Kode Pos: 81161
    6. Kelurahan atau Desa Panji, Kode Pos: 81161
    7. Kelurahan atau Desa Panji Anom, Kode Pos: 81161
    8. Kelurahan atau Desa Pegadungan, Kode Pos: 81161
    9. Kelurahan atau Desa Pegayaman, Kode Pos: 81161
    10. Kelurahan atau Desa Sambangan, Kode Pos: 81161
    11. Kelurahan atau Desa Selat, Kode Pos: 81161
    12. Kelurahan atau Desa Silangjana, Kode Pos: 81161
    13. Kelurahan atau Desa Sukasada, Kode Pos: 81161
    14. Kelurahan atau Desa Tegal Linggah memiliki Tegalinggah, Kode Pos: 81161
    15. Kelurahan atau Desa Wanagiri, Kode Pos: 81161

  9. Kecamatan Tejakula
    1. Kelurahan atau Desa Bondalem, Kode Pos: 81173
    2. Kelurahan atau Desa Julah, Kode Pos: 81173
    3. Kelurahan atau Desa Les, Kode Pos: 81173
    4. Kelurahan atau Desa Madenan, Kode Pos: 81173
    5. Kelurahan atau Desa Pacung, Kode Pos: 81173
    6. Kelurahan atau Desa Penuktukan, Kode Pos: 81173
    7. Kelurahan atau Desa Sambirenteng, Kode Pos: 81173
    8. Kelurahan atau Desa Sembiran, Kode Pos: 81173
    9. Kelurahan atau Desa Tejakula, Kode Pos: 81173
    10. Kelurahan atau Desa Tembok, Kode Pos: 81173

Bali - Kabupaten Tabanan

Sejarah Kerajaan Tabanan 

Di Bali, rumah jabatan tempat tinggal raja disebut "Puri Agung". Keberadaan Puri Agung Tabanan berkaitan dengan tokoh Arya Kenceng, yang dipercaya ikut datang bersama Gajah Mada ketika Majapahit menaklukkan Kerajaan Bedulu di Bali pada tahun 1343.

Setelah dapat menaklukkan, Dalem Sri Kresna Kepakisan yang menjadi Raja Bali dengan kedudukan di Samprangan kemudian memberikan kekuasaan kepada Arya Kenceng untuk memerintah Tabanan, dengan pusat kerajaan atau Puri Agung yang terletak di Pucangan (Buahan), Tabanan.

Arya Kenceng adalah Raja Tabanan I, yang Kerajaannya berada di Pucangan/Buahan mempunyai putra :

  1. Dewa Raka /Sri Megada Perabhu
  2. Dewa Made /Sri Megada Natha
  3. Kiayi Tegeh Kori
  4. Nyai Tegeh Kori

Sri Megada Natha, Raja Tabanan II, berputra :

  1. Sirarya Ngurah Langwang
  2. Ki Gusti Made Utara ( Madyatara )
  3. Ki Gusti Nyoman Pascima
  4. Ki Gusti Wetaning Pangkung
  5. Ki Gusti Nengah Samping Boni
  6. Ki Gusti Batan Ancak
  7. Ki Gusti Ketut Lebah
  8. Kiyai Ketut Pucangan/Sirarya Ketut Notor Wandira.


Puri Agung Pindah Ke Tabanan

Puri Agung Beserta Pura Batur Kawitan di Pucangan Pindah Ke Tabanan pada jaman pemerintahan Sirarya Ngurah Langwang, Raja Tabanan III. Beliau menggantikan Ayahnya Sri Megada Natha menjadi raja, yang kemudian mendapat perintah dari Dalem Raja Bali agar memindahkan Kerajaannya / Purinya di Pucangan ke daerah selatan, hal ini kemungkinan disebabkan secara geografis dan demografis sulit dicapai oleh Dalem dari Gegel dalam kegiatan inspeksi.

Akhirnya Arya Ngurah Langwang mendapat pewisik, dimana ada asap (tabunan) mengepul agar disanalah membangun puri. Setelah melakukan pengamatan dari Kebon Tingguh, terlihat di daerah selatan asap mengepul ke atas, kemudian beliau menuju ke tempat asap mengepul tersebut, ternyata keluar dari sebuah sumur yang terletak di dalam area Pedukuhan yaitu Dukuh Sakti( di Pura Pusar Tasik Tabanan sekarang ).

Akhirnya ditetapkan disitulah beliau membangun Puri, setelah selesai, dipindahlah secara resmi Puri Agung / Kerajaannya beserta Batur Kawitannya dari Pucangan ke Tabanan ( Sekitar Abad 14 ). Oleh karena asap terus mengepul dari sumur seperti tabunan sehingga puri beliau diberi nama Puri Agung Tabunan, yang kemudian pengucapannya berubah menjadi Puri Agung Tabanan, sedangkan Kerajaannya disebut Puri Singasana dan Raja bergelar Sang Nateng Singasana.

Selanjutnya Puri Agung Tabanan ditempati oleh Raja-Raja Tabanan berikutnya, yang juga menurunkan Pratisentana Arya Kenceng di berbagai Jero / Puri yang ada di Tabanan, sebagai berikut:

Raja Tabanan ke:

  • IV. Sirarya Ngurah Tabanan / Prabu Winalwan / Betara Mekules
  • V. Ki Gusti Wayahan Pemadekan
  • VI. Ki Gusti Made Pemadekan Pura Batur Wanasari di Wanasari Tabanan
  • VII. Sirarya Ngurah Tabanan / Prabu Winalwan / Betara Mekules. ( Pelinggih / Tempat memuja dan mengaturkan sembah bakti kepada Beliau ada di Pura Batur Wanasari di Wanasari Tabanan. Petoyan / Odalan pada dina Anggara/Selasa Kliwon Dukut )
  • VIII. Sirarya Ngurah Tabanan / Betara Nisweng Penida
  • IX. Ki Gusti Nengah Malkangin dan Ki Gusti Made Dalang Pura Batur Wanasari Tabanan
  • X. Ki Gusti Bola
  • XI. Ki Gusti Alit Dawuh / Sri Megada Sakti
  • XII. Putra Sulung Sri Megada Sakti / Ratu Lepas Pemade
  • XIII. Ki Gusti Ngurah Sekar / Cokorda Sekar
  • XIV. Ki Gusti Ngurah Gede / Cokorda Gede Ratu
  • XV. Ki Gusti Ngurah Made Rai / Cokorda Made Rai
  • XVI. Kiyayi Buruan
  • XVII. Ki Gusti Ngurah Rai / Cokorda Rai. Berpuri di Penebel Tabanan
  • XVIII. Ki Gusti Ngurah Ubung
  • XIX. Ki Gusti Ngurah Agung / Ratu Singasana
  • XX. Sirarya Ngurah Tabanan / Ida Betara Ngeluhur Raja XX dari tahun 1868 s/d 1903, berputra :
    1. Arya Ngurah Agung
    2. Ki Gusti Ngurah Gede Mas
    3. Arya Ngurah Alit
    4. Ki Gusti Ngurah Rai Perang ( Membangun Puri Dangin )
    5. Ki Gusti Ngurah Made Batan ( Puri Dangin )
    6. Ki Gusti Ngurah Nyoman Pangkung ( Puri Dangin )
    7. I Gusti Ngurah Gede Marga ( Membangun Puri Denpasar Tabanan )
    8. I Gusti Ngurah Putu ( Membangun Puri Pemecutan Tabanan ), berputra:
      1. I Gusti Ngurah Wayan.
      2. I Gusti Ngurah Made, berputra:
        1. I Gusti Ngurah Gede
        2. I Gusti Ngurah Mayun.
        3. I Gusti Ngurah Ketut.
        4. Sagung Nyoman.
        5. Sagung Rai.
        6. Sagung Ketut
        7. Sagung Wah ( terkenal memimpin Bebalikan Wangaya melawan Belanda )
  • XXI. Ki Gusti Ngurah Rai Perang / Cokorda Rai Perang dari 1903 s/d 1906

Zaman penjajahan Belanda Pada 27 September 1906, jaman penjajahan Belanda, Kerajaan Tabanan dikuasai oleh Belanda, Raja Tabanan saat itu, Cokorda Ngurah Rai Perang beserta Putra dan Saudara-Saudaranya ditawan oleh Belanda di Puri Denpasar.

Tanggal 28 September Puri Agung Singasana, Puri Mecutan Tabanan, Puri Dangin Tabanan, Puri Denpasar Tabanan dan beberapa yang lainnya dihancurkan oleh Belanda. Raja Tabanan Cokorda Ngurah Rai Perang dan seorang Putra Beliau ( I Gusti Ngurah Gede Pegeg ) dengan keberaniannya melakukan puputan(bunuh diri ) di Puri Denpasar, karena tidak mau tunduk atau menjadi tawanan Belanda.

Tanggal 29 September 1906 putra dan saudara-saudaranya di Puri Dangin Tabanan, Puri Pemecutan Tabanan dan Puri Denpasar Tabanan diselong / diasingkan ke Sasak Lombok. Setelah beberapa tahun diselong di Lombok, masih dalam masa penjajahan Belanda, putra dan saudaranya Alm. "Cokorda Ngurah Rai Perang" lagi dikembalikan ke Tabanan.

Dalam rangka memilih Kepala Pemerintahaan di Tabanan, Belanda juga mencari dan menerima saran-saran dari beberapa Puri / Jero yang sebelumnya ada dalam struktur kerajaan, tentang bagaimana tatacara memilih seorang raja di Tabanan sebelumnya. Setelah mempertimbangkannya, pada tanggal 8 Juli 1929, diputuskan sebagai Kepala / Bestuurder Pemerintahan Tabanan dipilih I Gusti Ngurah Ketut putra I Gusti Ngurah Putu ( putra Sirarya Ngurah Agung Tabanan, Raja Tabanan ke XX ) dari Puri Mecutan, dengan gelar Cokorda.



Setelah Kemerdekaan Sampai Sekarang

Cokorda Ngurah Ketut berada di Puri Agung Tabanan bersama putra dan saudaranya ( I Gusti Ngurah Wayan, I Gusti Ngurah Made, Sagung Nyoman, Sagung Rai dan Sagung Ketut ). Pada jaman kerajaan, hanya raja dan putera mahkota saja yang menempati Puri Agung Tabanan, sedangkan putra-putra lainnya, oleh raja dibuatkan Puri / Jero baru beserta kelengkapannya. Seiring dengan terjadinya perubahan jaman dan pemerintahan, hal tersebut tidak berkelanjutan, dimana tidak dibangun lagi Puri Pemecutan Tabanan dan Puri-Puri/Jero-Jero baru.

Sekarang yang berada di Puri Agung Tabanan adalah kelanjutan keturunan Cokorda Ngurah Ketut dan Saudaranya, yang merupakan putera I Gusti Ngurah Putu ( Putera Sirarya Ngurah Agung Tabanan, Raja Tabanan ke XX ) yang berasal dari Puri Pemecutan Tabanan.

Cokorda Ngurah Ketut, berputera:

  1. I Gusti Ngurah Gede
  2. I Gusti Ngurah Alit Putra
  3. Sagung Mas
  4. I Gusti Ngurah Agung

Selanjutnya I Gusti Ngurah Gede, putera sulung Cokorda Ngurah Ketut menjadi Cokorda Tabanan, bergelar Cokorda Ngurah Gede, Raja Tabanan XXIII Maret 1947 s/d 1986 dan beliau menjabat Bupati Tabanan Pertama tahun 1950, tempat tinggal Beliau disebut Puri Gede / Puri Agung Tabanan. Cokorde Ngurah Gede (Raja Tabanan ke XXIII).

Cokorda Ngurah Gede, berputra :

  1. Sagung Putri Sartika
  2. I Gusti Ngurah Bagus Hartawan
  3. Sagung Putra Sardini
  4. I Gusti Ngurah Alit Darmawan
  5. Sagung Ayu Ratnamurni
  6. Sagung Jegeg Ratnaningsih
  7. I Gusti Ngurah Agung Dharmasetiawan
  8. Sagung Ratnaningrat
  9. I Gusti Ngurah Rupawan
  10. I Gusti Ngurah Putra Wartawan
  11. I Gusti Ngurah Alit Aryawan
  12. Sagung Putri Ratnawati
  13. I Gusti Ngurah Bagus Grastawan
  14. I Gusti Ngurah Mayun Mulyawan
  15. Sagung Rai Mayawati
  16. Sagung Anom Mayadwipa
  17. Sagung Oka Mayapada
  18. I Gusti Ngurah Raka Heryawan
  19. I Gusti Ngurah Bagus Rudi Hermawan
  20. I Gusti Ngurah Bagus Indrawan
  21. Sagung Jegeg Mayadianti
  22. I Gusti Ngurah Adi Suartawan


Berikut adalah daftar Kecamatan terdapat di kabupaten Tabanan beserta masing-masing Desa dengan Kode Pos:
  1. Kecamatan Baturiti
    1. Kelurahan/Desa Angseri, Kode Pos: 82191
    2. Kelurahan atau Desa Antapan, Kode Pos: 82191
    3. Kelurahan atau Desa Apuan, Kode Pos: 82191
    4. Kelurahan atau Desa Bangli, Kode Pos: 82191
    5. Kelurahan atau Desa Batunya, Kode Pos: 82191
    6. Kelurahan atau Desa Baturiti, Kode Pos: 82191
    7. Kelurahan atau Desa Candikuning, Kode Pos: 82191
    8. Kelurahan atau Desa Luwus, Kode Pos: 82191
    9. Kelurahan atau Desa Mekarsari, Kode Pos: 82191
    10. Kelurahan atau Desa Perean, Kode Pos: 82191
    11. Kelurahan atau Desa Perean Kangin, Kode Pos: 82191
    12. Kelurahan atau Desa Perean Tengah, Kode Pos: 82191

  2. Kecamatan Kediri
    1. - Kelurahan/Desa Abian Tuwung, Kode Pos: 82121
    2. Kelurahan atau Desa Belalang, Kode Pos: 82121
    3. Kelurahan atau Desa Bengkel, Kode Pos: 82121
    4. Kelurahan atau Desa Beraban, Kode Pos: 82121
    5. Kelurahan atau Desa Buwit, Kode Pos: 82121
    6. Kelurahan atau Desa Cepaka, Kode Pos: 82121
    7. Kelurahan atau Desa Kaba-Kaba, Kode Pos: 82121
    8. Kelurahan atau Desa Kediri, Kode Pos: 82121
    9. Kelurahan atau Desa Nyambu, Kode Pos: 82121
    10. Kelurahan atau Desa Nyitdah, Kode Pos: 82121
    11. Kelurahan atau Desa Pandak Bandung, Kode Pos: 82121
    12. Kelurahan atau Desa Pandak Gede, Kode Pos: 82121
    13. Kelurahan atau Desa Pangkung Tibah, Kode Pos: 82121
    14. Kelurahan atau Desa Pejaten, Kode Pos: 82121
    15. Kelurahan atau Desa Banjar Anyar, Kode Pos: 82123)

  3. Kecamatan Kerambitan
    1. Kelurahan/Desa Batuaji, Kode Pos: 82161
    2. Kelurahan atau Desa Baturiti, Kode Pos: 82161
    3. Kelurahan atau Desa Belumbang, Kode Pos: 82161
    4. Kelurahan atau Desa Kelating, Kode Pos: 82161
    5. Kelurahan atau Desa Kerambitan, Kode Pos: 82161
    6. Kelurahan atau Desa Kesiut, Kode Pos: 82161
    7. Kelurahan atau Desa Kukuh, Kode Pos: 82161
    8. Kelurahan atau Desa Meliling, Kode Pos: 82161
    9. Kelurahan atau Desa Pangkung Karung, Kode Pos: 82161
    10. Kelurahan atau Desa Penarukan, Kode Pos: 82161
    11. Kelurahan atau Desa Samsam, Kode Pos: 82161
    12. Kelurahan atau Desa Sembung Gede, Kode Pos: 82161
    13. Kelurahan atau Desa Tibu Biu, Kode Pos: 82161
    14. Kelurahan atau Desa Timpag, Kode Pos: 82161
    15. Kelurahan atau Desa Tista, Kode Pos: 82161)

  4. Kecamatan Marga
    1. Kelurahan/Desa Batannyuh, Kode Pos: 82181
    2. Kelurahan atau Desa Beringkit, Kode Pos: 82181
    3. Kelurahan atau Desa Caubelayu, Kode Pos: 82181
    4. Kelurahan atau Desa Geluntung, Kode Pos: 82181
    5. Kelurahan atau Desa Kukuh, Kode Pos: 82181
    6. Kelurahan atau Desa Kuwum, Kode Pos: 82181
    7. Kelurahan atau Desa Marga, Kode Pos: 82181
    8. Kelurahan atau Desa Marga Dajan Puri, Kode Pos: 82181
    9. Kelurahan atau Desa Marga Dauh Puri, Kode Pos: 82181
    10. Kelurahan atau Desa Payangan, Kode Pos: 82181
    11. Kelurahan atau Desa Peken Belayu, Kode Pos: 82181
    12. Kelurahan atau Desa Petiga, Kode Pos: 82181
    13. Kelurahan atau Desa Selanbawak, Kode Pos: 82181
    14. Kelurahan atau Desa Tegaljadi, Kode Pos: 82181
    15. Kelurahan atau Desa Tua, Kode Pos: 82181)

  5. Kecamatan Penebel
    1. Kelurahan/Desa Babahan, Kode Pos: 82152
    2. Kelurahan atau Desa Biaung, Kode Pos: 82152
    3. Kelurahan atau Desa Buruan, Kode Pos: 82152
    4. Kelurahan atau Desa Jatiluwih, Kode Pos: 82152
    5. Kelurahan atau Desa Jegu, Kode Pos: 82152
    6. Kelurahan atau Desa Mengeste, Kode Pos: 82152
    7. Kelurahan atau Desa Penatahan, Kode Pos: 82152
    8. Kelurahan atau Desa Penebel, Kode Pos: 82152
    9. Kelurahan atau Desa Pesagi, Kode Pos: 82152
    10. Kelurahan atau Desa Pitra, Kode Pos: 82152
    11. Kelurahan atau Desa Rejasa, Kode Pos: 82152
    12. Kelurahan atau Desa Riang Gede, Kode Pos: 82152
    13. Kelurahan atau Desa Sangketan, Kode Pos: 82152
    14. Kelurahan atau Desa Senganan, Kode Pos: 82152
    15. Kelurahan atau Desa Tajen, Kode Pos: 82152
    16. Kelurahan atau Desa Tegalinggah, Kode Pos: 82152
    17. Kelurahan atau Desa Tengkudak, Kode Pos: 82152
    18. Kelurahan atau Desa Wongaya Gede, Kode Pos: 82152)

  6. Kecamatan Pupuan
    1. Kelurahan/Desa Bantiran, Kode Pos: 82163
    2. Kelurahan atau Desa Batungsel, Kode Pos: 82163
    3. Kelurahan atau Desa Belatungan, Kode Pos: 82163
    4. Kelurahan atau Desa Belimbing, Kode Pos: 82163
    5. Kelurahan atau Desa Jelijih Punggang, Kode Pos: 82163
    6. Kelurahan atau Desa Karya Sari, Kode Pos: 82163
    7. Kelurahan atau Desa Kebon Padangan, Kode Pos: 82163
    8. Kelurahan atau Desa Munduk Temu, Kode Pos: 82163
    9. Kelurahan atau Desa Padangan, Kode Pos: 82163
    10. Kelurahan atau Desa Pajahan, Kode Pos: 82163
    11. Kelurahan atau Desa Pujungan, Kode Pos: 82163
    12. Kelurahan atau Desa Pupuan, Kode Pos: 82163
    13. Kelurahan atau Desa Sanda, Kode Pos: 82163)

  7. Kecamatan Selemadeg
    1. Kelurahan/Desa Antap, Kode Pos: 82162
    2. Kelurahan atau Desa Bajera, Kode Pos: 82162
    3. Kelurahan atau Desa Bajera Utara, Kode Pos: 82162
    4. Kelurahan atau Desa Berembeng, Kode Pos: 82162
    5. Kelurahan atau Desa Manikyang, Kode Pos: 82162
    6. Kelurahan atau Desa Pupuan Sawah, Kode Pos: 82162
    7. Kelurahan atau Desa Selemadeg, Kode Pos: 82162
    8. Kelurahan atau Desa Serampingan, Kode Pos: 82162
    9. Kelurahan atau Desa Wanagiri, Kode Pos: 82162
    10. Kelurahan atau Desa Wanagiri Kauh, Kode Pos: 82162)

  8. Kecamatan Selemadeg Barat
    1. - Kelurahan/Desa Angkah, Kode Pos: 82162
    2. Kelurahan atau Desa Antosari, Kode Pos: 82162
    3. Kelurahan atau Desa Lalang Linggah, Kode Pos: 82162
    4. Kelurahan atau Desa Lumbung, Kode Pos: 82162
    5. Kelurahan atau Desa Lumbung Kauh, Kode Pos: 82162
    6. Kelurahan atau Desa Mundeh, Kode Pos: 82162
    7. Kelurahan atau Desa Mundeh Kangin, Kode Pos: 82162
    8. Kelurahan atau Desa Mundeh Kauh, Kode Pos: 82162
    9. Kelurahan atau Desa Tiying Gading, Kode Pos: 82162)

  9. Kecamatan Selemadeg Timur
    1. - Kelurahan/Desa Bantas, Kode Pos: 82162
    2. Kelurahan atau Desa Beraban, Kode Pos: 82162
    3. Kelurahan atau Desa Dalang, Kode Pos: 82162
    4. Kelurahan atau Desa Gadung Sari, Kode Pos: 82162
    5. Kelurahan atau Desa Gadungan, Kode Pos: 82162
    6. Kelurahan atau Desa Gunung Salak, Kode Pos: 82162
    7. Kelurahan atau Desa Mambang, Kode Pos: 82162
    8. Kelurahan atau Desa Megati, Kode Pos: 82162
    9. Kelurahan atau Desa Tangguntiti, Kode Pos: 82162
    10. Kelurahan atau Desa Tegal Mengkeb, Kode Pos: 82162)

  10. Kecamatan Tabanan
    1. - Kelurahan/Desa Dauh Peken, Kode Pos: 82111
    2. Kelurahan atau Desa Wanasari, Kode Pos: 82111
    3. Kelurahan atau Desa Bongan, Kode Pos: 82112
    4. Kelurahan atau Desa Delod Peken, Kode Pos: 82113
    5. Kelurahan atau Desa Dejan Peken, Kode Pos: 82114
    6. Kelurahan atau Desa Buahan, Kode Pos: 82115
    7. Kelurahan atau Desa Denbantas, Kode Pos: 82115
    8. Kelurahan atau Desa Gubug, Kode Pos: 82115
    9. Kelurahan atau Desa Sesandan, Kode Pos: 82115
    10. Kelurahan atau Desa Subamia, Kode Pos: 82115
    11. Kelurahan atau Desa Sudimara, Kode Pos: 82115
    12. Kelurahan atau Desa Tunjuk, Kode Pos: 82115)

Bali - Kabupaten Bangli

Menurut Prasasti Pura Kehen kini tersimpan di Pura Kehen, diceritakan bahwa pada zaman silam didesa Bangli berkembang wabah penyakit yang disebut kegeringan yang menyebabkan banyak penduduk meninggal.Penduduk lainnya yang masih hidup dan sehat menjadi ketakutan setengah mati,sehinnga mereka berbondong-bondong meninggalkan desa guna menghindari wabah tersebut. Akibatnya Desa Bangli menjadi kosong karena tidak ada seorangpun yang berani tinggal disana.

Raja Ida Bhatara Guru Sri Adikunti Ketana yang bertahta kala itu dengan segala upaya berusaha mengatasi wabah tersebut. Setelah keadaan pulih kembali sang raja yang kala itu bertahta pada tahun Caka 1126, tanggal 10 tahun Paro Terang,hari pasaran Maula,Kliwon,Chandra (senin), Wuku Klurut tepatnya tanggal 10 Mei 1204, memerintahkan kepada putra-putrinya yang bernama Dhana Dewi Ketu agar mengajak penduduk ke Desa Bangli guna bersama-sama membangun memperbaiki rumahnya masing-masing sekaligus menyelenggarakan upacara/yadnya pada bulan Kasa, Karo, katiga, Kapat, Kalima, Kalima, Kanem, Kapitu, kaulu, Kasanga, Kadasa, Yjahstha dan Sadha.

Disamping itu beliau memerintahkan kepada seluruh pendududk agar agar menambah keturunan di wilayah Pura Loka Serana di Desa Bangli dan mengijinkan membabat hutan untuk membuat sawah dan saluran air. Untuk itu pada setiap upacara besar penduduk yang ada di Desa Bangli harus sembahyang. Pada saat itu juga, tanggal 10 Mei 1204, Raja Idha Bhatara Guru Sri Adikunti Katana mengucapkan pemastu yaitu:

“Barang siapa yang tidak tunduk dan melanggar perintah, semoga orang itu disambar petir tanpa hujan atau mendadak jatuh dari titian tanpa sebab, mata buta tanpa catok, setelah mati arwahnya disiksa oleh Yamabala, dilempar dari langit turun jatuh ke dalam api neraka”.

Bertitik tolak dari titah-titah Sang Raya yang dikeluarkan pada tanggal 10 Mei 1204, maka pada tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Lahirnya Kota Bangli.

Sejarah Kerajaan Bangli

Tersebut empat para Hyang bersaudara bernama Sanghyang Angsanabra (Sekar Angsana) di Gelgel, Sanghyang Subali di Gunung Tolangkir, Sanghyang Aji Rembat di Pura Kentel Gumi. Sanghyang Mas Kuning di Giri Lor Abang. Sanghyang Subali pergi ke jurang Melangit menciptakan air suci yang harum (Tirta Harum) pada hari Selasa, Kliwon, Julungwangi, purnama bulan keempat.

Kemudian Sanghyang Subali mendirikan taman yang indah di sebelah barat laut Tirta Arum, diberi nama Taman Bali.Kemudian Sanghyang Subali menyerahkan Tirta Arum dari Taman itu kepada Sanghyang Aji Rembat. Sanghyang Subali moksa, menghadap Sanghyang Wisnu Bhuana memohon seorang anak, diberi nama Sang Angga Tirta.

Puri Susut Bangli

Anak tersebut diletakkan pada saluran air (pancuran) di Tirta Arum. Sanghyang Aji Rembat memungut bayi tersebut. Dan menerima wahyu, (sabda angkasa) dari Sanghyang Subali, bahwa anak itu adalah anugrah Dewa Wisnu bernama Angga Tirta dan kemudian agar diberi nama Sang Anom. 

Anak tersebut diupacarai oleh Sanghyang Aji Rembat dan berdiam di pura Agung Guliang. Tersebut bahwa Sanghyang Angsana di Gelgel mempunyai seorang putri bernama Dewa Ayu Mas Dalem. Sering terserang penyakit, kemudian sembuh berkat pengobatan Sanghyang Aji Rembat di asramnya.

Terjadi hubungan gelap (seperti suami istri) antara Sang Anom dengan Dewa Ayu Mas Dalem. Dewa Ayu Mas Dalem diantar ke Gelgel, Segera Sanghyang Sekar Angsana mengusut putrinya karena menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Sang putri mengaku terus terang berkat hubungannya dengan Sang Anom.

Sanghyang Sekar Angsana mengirim pasukan untuk menyerang ke Pura Agung Guliang, menangkap Sang Anom namun gagal, Sang Anom tidak dijumpai. Sang Anom melarikan diri ke Alas Jarak Bang kemudian desa itu disebut Jagat Bali. Pengejaran terus dilakukan dan Sang Anom tertangkap dan dibawa ke Gelgel.

Sanghyang Aji Rembat amat kecewa, melaporkan hal itu secara gaib kepada Sanghyang Sekar Angsana di Gelgel perihal riwayat Sang Anom serta pantas menjadi suami Dewa Ayu Mas Dalem. Pernikahan pun segera dilakukan. Kembali ke Pura Agung Guliang. Kemudian lahir seorang putra diberi nama Korda Anom Oka Den Bancingah.

Korda Anom Oka Den Bancingah berputra I Dewa Garba Jata. I Dewa Garba Jata berputra I Dewa Ngurah Den Bancingah. I Dewa Ngurah Den Bancingah menikah dengan putri Dalem (?) di Dasar Gelgel berputra Cokorda Den Bancingah, Cokorda Den Bancingah berputra I Dewa Pamecutan; I Dewa Pulasari, I Dewa Batanwani, I Dewa Tangeb, I Dewa Mundung, I Dewa Beranjingan, I Dewa Auman. I Dewa Pamecutan berputra I Dewa Gde Pering pindah ke Nyalian, I Dewa Kaler di Taman Bali, I Dewa Pindi pindah ke Gagahan, I Dewa Perasi di Gada, yang bungsu (= pingajeng) I Dewa Gde Ngurah bertahta di Taman Bali.

I Dewa Gde Pering memohon pada ayahnya untuk membawa Keris "Ki Lobar" ke Nyalian sebagai tanda kebesaran. Permohonannya itu dapat dikabulkan, segera dibawa ke Nyalian. Nyalian dan Taman Bali pun aman dan sentosa. I Dewa Gde Ngurah penguasa Taman Bali mengirim utusan untuk membunuh I Gusti Paraupan di Bangli. Tetapi karena kesaktian I Gusti Paraupan, maka utusan itu menyampaikan niatnya terang-terangan.

I Gusti Paraupan kembali memerintahkan untuk membunuh I Dewa Gde Ngurah, dengan catatan bila berhasil akan dijadikan penguasa di Taman Bali. Terjadi perkelahian antara I Dewa Gde Ngurah dengan kedua utusannya yang disuruh membunuh I Gusti Paraupan. Keduanya mati dan I Dewa Gde Ngurah menderita luka- luka. I Dewa Kaler putra I Dewa Gde Ngurah tidak membantunya. I Dewa Gde Ngurah dalam keadaan sakit karena luka-luka dirawat oleh para istri dan lain-lainnya.

Pada saat-saat demikian salah seorang istri I Dewa Gde Ngurah berbuat serong (abamia) dengan I Dewa Kaler. Diperintahkan untuk membunuh I Dewa Kaler dan istrinya yang serong itu. Namun tidak diijinkan oleh Dalem Gelgel. Hanya derajat kebangsawanannya diturunkan menjadi Pungakan, kemudian bernama Pungakan Bagus atau Pungakan Den Yeh, I Dewa Gde Ngurah meninggal dunia digantikan oleh putranya bernama I Dewa Gede Ngurah Anom Oka.

Ia tahu sebab kematian ayahnya karena upaya I Gusti Paraupan. Maka bersama keluarga dan pemuka-pemuka serta rakyatnya mengadakan serangan balasan ke Bangli (I Gusti Paraupan). Terjadi peperangan antara Bangli dengan Taman Bali yang dibantu oleh I Dewa Pering (=Nyalian). Bangli kalah, gugurnya I Gusti Paraupan, Ki Lurah Dawuh Waringin, Ki Lurah Dawuh Pamamoran, Maka I Dewa Perasi diangkat sebagai penguasa di Bangli dibantu/ didampingi oleh sanak keluarganya antara lain I Dewa Tangeb, I Dewa Batan Wani, I Dewa Pulasari.

Lama kelamaan ganti berganti keturunan I Dewa Gde Perasi menjadi raja Bangli. Salah seorang raja bernama I Dewa Kompiang Perasi mempunyai seorang-anak wanita bernama Dewa Ayu Den Bancingah. Maka mengangkat menantu, putra raja Taman Bali, bernama I Dewa Gde Anom Rai. Raja Taman Bali I Dewa Gde Raka, kakak I Dewa Gede Anom Rai. Bangli dan Taman Bali aman sentosa. I Dewa Gde Anom Rai dengan Dewa Ayu Den Bancingah berputra seorang wanita bernama Dewa Ayu Comel. I Dewa Gede Anom Rai mengambil istri lagi, dan amat terikat hati beliau kepadanya. I Dewa Gde Oka/ cucu I Dewa Gde Tangkeban dinikahkan dengan I Dewa Ayu Comel, menggantikan tahta di Bangli.

Tetapi pernah berbuat serong (seperti suami istri) dengan ibu mertuanya. I Dewa Gde Anom Rai berusaha untuk membunuh Dewa Ayu Den Bancingah, tetapi gagal. Dan terbalik Dewa Ayu Den Bancingah kini berusaha untuk membunuh I Dewa Gede Anom Rai, berbagai siasat dilakukan, dan seorang petugas/ algojo bernama Ida Waneng Pati (brahmana Kemenuh) berhasil masuk ke peraduannya, tetapi tidak mempan senjatanya.

Hanya senjata Dewa Ayu Den Bancingah yang sanggup mencabut nyawa I Dewa Gede Anom Rai. Dukuh Suladri (turunan Sirarya Rembat) mempunyai anak dua orang wanita. Ki Dukuh kedatangan seorang laki-laki dari Majapahit anak Sri Aji Ayu Murub. Anak laki-laki tersebut diajak menetap di ashram Dukuh Suladri dan dikawinkan dengan putrinya yang sulung, putri yang kedua menikah dengan raja/ Dalem di Gelgel.

Dalem memberikan iparnya (menantu Dukuh Suladri di Padukuhan) rakyat dua ratus orang, pada akhirnya mengurusi rakyat lima ratus orang. Putri Ki Dukuh menjadi istri Dalem mempunyai seorang anak wanita bernama I Dewa Ayu Den Bancingah kemudian bersuamikan anak dari Kanca di Padukuhan beribu putrinya Ki Dukuh, Mereka menetap di Gelgel di sebelah utara istana.

Kemudian pindah ke Nyalian membawa Ki Lobar, karena di Gelgel terjadi perebutan kekuasaan oleh Anglurah Agung. Terjadi perebutan kekuasaan di Gelgel oleh Anglurah Agung, Dalem mengungsi ke Guliang, dan wafat di sana. Seorang putranya pindah ke Singarsa dengan pengiring 150 orang, berkat kesetiaan Lurah Singarsa.

Dari Singarsa (Sidemen) direncanakan perebutan kembali kerajaan Gelgel atas prakarsa bekas punggawa dari Gelgel (?) dengan Lurah Singarsa, minta bantuan ke Buleleng dan Badung, kemudian dilakukan pengepungan dari beberapa penjuru, terjadi peperangan sengit, Anglurah Agung mengalami kekalahan. I Dewa Den Bancingah dengan gelar I Dewa Gde Tangkeban tetap bertahta di Nyalian. Dalem (raja) Smarajaya meminta kembali keris Ki Lobar.

I Dewa Gde Tangkeban, mengadakan perundingan dengan I Dewa Gde Rai (Bangli) dan I Dewa Gede Oka (Taman Bali) , dikuatkan dengan sumpah setia mereka tidak akan mengembalikan Ki Lobar dengan catatan berani menanggung segala resiko. Dalem Smarajaya tetap menuntut keris itu agar dikembalikan. Namun I Dewa Gde Tangkeban tetap pada pendiriannya semula.

Akhirnya terjadi peperangan antara Smarawijaya melawan Nyalian Bangli dan Taman Bali tidak menepati perjanjian. I Dewa Gde Tangkeban mengalami kekalahan, Sebelum meninggal sempat mengutuk raja Taman Bali dan Bangli, dan memotong ujung keris (Ki Lobar), merestui putranya yang bernama I Dewa Gde Oka agar menyerang Taman Bali dan Bangli. Lalu I Dewa Gde Oka mengamuk membabibuta di puri Nyalian. Banyak jatuh korban. Akhirnya ia juga meninggal berkat Ida Bagus Made Gelgel, namun Ida Bagus Made Gelgel meninggal pula.

Ki Sedahan Kasub yang berperang dalam istana, mengumpulkan mayat- mayat dan harta benda, kesudahannya juga mati terbunuh, Maka daerah I Dewa Gede Tangkeban mutlak ditaklukkan oleh Sri Aji Dalem di Smarajaya dengan bantuan Raja Karangasem dan Gianyar.

Kutukan I Dewa Gde Tangkeban meresap di Bangli dan Tamanbali, akhirnya terjadi perang saudara. Raja Bangli terbunuh oleh istrinya sendiri, Dewa Ayu Den Bancingah bertahta di Bangli I Dewa Gde Tangkeban, putra I Dewa Gde Oka (yang mengamuk di Nyalian) cucu I Dewa Gede Tangkeban demikian turun temurun. Lama kelamaan terjadi perlawanan dan Bangli (I Dewa Gde Oka Tangkeban) dengan Tamanbali (I Dewa Gde Oka) dibantu oleh Gianyar (I Dewa Manggis) pasukan Gianyar dipimpin oleh Cokorda di Mas.

Pasukan Tamanbali kalah dengan gugurnya Cokorda Mas dan I Dewa Gede Oka raja Tamanbali. Dilanjutkan dengan susunan sila- sila keturunan I Dewa Gde Tangkeban yang masih hidup di desa-desa. Raja Tamanbali yang telah wafat meninggalkan seorang putra bernama I Dewa Sukawati, dan bermukim di Tumuhun, berputra lima orang. Dilanjutkan dengan sila-sila keturunan. Riwayat I Dewa Putu Sekar, yang semula di Nusa Penida.

Kemudian kembali menjadi kepercayaan raja Bangli (I Dewa Gede Tangkeban) ditempatkan di Susut, putra- putra yang di Nusa Penida I Dewa Gde Dauh dan I Dewa Gde Dangin kemudian menjadi kepercayaan raja Tabanan ditempatkan di desa Jelijih, lama kelamaan mendirikan Pura Aseman. Selanjutnya mempunyai keturunan. kemudian dalam peperangan Tabanan melawan Badung dan Mengwi I Dewa Gde Dangin gugur karena pihak Tabanan kalah, putra- putranya pindah ke Jembrana, I Dewa Gde Dauh tetap di Jelijih bersama anak-anaknya.



Berikut adalah daftar Kecamatan terdapat di kabupaten Bangli beserta masing-masing Desa dengan Kode Pos:
  1. Kecamatan Bangli
    1. Kelurahan atau Desa Kubu, Kode Pos: 80611
    2. Kelurahan atau Desa Landih, Kode Pos: 80611
    3. Kelurahan atau Desa Cempaga, Kode Pos: 80612
    4. Kelurahan atau Desa Kawan, Kode Pos: 80613
    5. Kelurahan atau Desa Bebalang, Kode Pos: 80614
    6. Kelurahan atau Desa Bunutin, Kode Pos: 80614
    7. Kelurahan atau Desa Kayubihi, Kode Pos: 80614
    8. Kelurahan atau Desa Pengotan, Kode Pos: 80614
    9. Kelurahan atau Desa Taman Bali, Kode Pos: 80614

  2. Kecamatan Kintamani
    1. Kelurahan atau Desa Abang Songan, Kode Pos: 80652
    2. Kelurahan atau Desa Abuan, Kode Pos: 80652
    3. Kelurahan atau Desa Awan, Kode Pos: 80652
    4. Kelurahan atau Desa Bantang, Kode Pos: 80652
    5. Kelurahan atau Desa Banua, Kode Pos: 80652
    6. Kelurahan atau Desa Batu Dinding, Kode Pos: 80652
    7. Kelurahan atau Desa Batukaang, Kode Pos: 80652
    8. Kelurahan atau Desa Batur Selatan, Kode Pos: 80652
    9. Kelurahan atau Desa Batur Tengah, Kode Pos: 80652
    10. Kelurahan atau Desa Batur Utara, Kode Pos: 80652
    11. Kelurahan atau Desa Bayungcerik, Kode Pos: 80652
    12. Kelurahan atau Desa Bayunggede, Kode Pos: 80652
    13. Kelurahan atau Desa Belancan, Kode Pos: 80652
    14. Kelurahan atau Desa Belandingan, Kode Pos: 80652
    15. Kelurahan atau Desa Belanga, Kode Pos: 80652
    16. Kelurahan atau Desa Belantih, Kode Pos: 80652
    17. Kelurahan atau Desa Binyan, Kode Pos: 80652
    18. Kelurahan atau Desa Bonyoh, Kode Pos: 80652
    19. Kelurahan atau Desa Buahan, Kode Pos: 80652
    20. Kelurahan atau Desa Bunutin, Kode Pos: 80652
    21. Kelurahan atau Desa Catur, Kode Pos: 80652
    22. Kelurahan atau Desa Daup, Kode Pos: 80652
    23. Kelurahan atau Desa Dausa, Kode Pos: 80652
    24. Kelurahan atau Desa Gunungbau, Kode Pos: 80652
    25. Kelurahan atau Desa Katung, Kode Pos: 80652
    26. Kelurahan atau Desa Kedisan, Kode Pos: 80652
    27. Kelurahan atau Desa Kintamani, Kode Pos: 80652
    28. Kelurahan atau Desa Kutuh, Kode Pos: 80652
    29. Kelurahan atau Desa Langgahan, Kode Pos: 80652
    30. Kelurahan atau Desa Lembean, Kode Pos: 80652
    31. Kelurahan atau Desa Mangguh, Kode Pos: 80652
    32. Kelurahan atau Desa Manikliyu, Kode Pos: 80652
    33. Kelurahan atau Desa Mengani, Kode Pos: 80652
    34. Kelurahan atau Desa Pengejaran, Kode Pos: 80652
    35. Kelurahan atau Desa Pinggan, Kode Pos: 80652
    36. Kelurahan atau Desa Satra, Kode Pos: 80652
    37. Kelurahan atau Desa Sekaan, Kode Pos: 80652
    38. Kelurahan atau Desa Sekardadi, Kode Pos: 80652
    39. Kelurahan atau Desa Selulung, Kode Pos: 80652
    40. Kelurahan atau Desa Serahi, Kode Pos: 80652
    41. Kelurahan atau Desa Siyakin, Kode Pos: 80652
    42. Kelurahan atau Desa Songan A, Kode Pos: 80652
    43. Kelurahan atau Desa Songan B, Kode Pos: 80652
    44. Kelurahan atau Desa Subaya, Kode Pos: 80652
    45. Kelurahan atau Desa Sukawana, Kode Pos: 80652
    46. Kelurahan atau Desa Suter, Kode Pos: 80652
    47. Kelurahan atau Desa Terunyan, Kode Pos: 80652
    48. Kelurahan atau Desa Ulian, Kode Pos: 80652

  3. Kecamatan Susut
    1. Kelurahan atau Desa Abuan, Kode Pos: 80661
    2. Kelurahan atau Desa Apuan, Kode Pos: 80661
    3. Kelurahan atau Desa Demulih, Kode Pos: 80661
    4. Kelurahan atau Desa Pengiangan, Kode Pos: 80661
    5. Kelurahan atau Desa Penglumbaran, Kode Pos: 80661
    6. Kelurahan atau Desa Selat, Kode Pos: 80661
    7. Kelurahan atau Desa Sulahan, Kode Pos: 80661
    8. Kelurahan atau Desa Susut, Kode Pos: 80661
    9. Kelurahan atau Desa Tiga, Kode Pos: 80661

  4. Kecamatan Tembuku
    1. Kelurahan atau Desa Bangbang, Kode Pos: 80671
    2. Kelurahan atau Desa Jehem, Kode Pos: 80671
    3. Kelurahan atau Desa Peninjoan, Kode Pos: 80671
    4. Kelurahan atau Desa Tembuku, Kode Pos: 80671
    5. Kelurahan atau Desa Undisan, Kode Pos: 80671
    6. Kelurahan atau Desa Yangapi, Kode Pos: 80671

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review