Kamis, 17 November 2011

Satuan Ukur Elemen Arsitektur Tradisional Bali

Satuan ukur setiap elemen dalam arsitektur tradisional Bali disebut dengan gegulak. yang diturunkan dari bagian-bagian fisik pemilik atau pemakai bangunan. Satuan ukur ini ditetapkan dalam sebilah bambu sebagai modul dasar. Melalui gegulak ditentukan ukuran setiap dimensi arsitektur mulai dari ukuran pekarangan, tata letak masa bangunan hingga pada elemen bangunan yang kecil, seperti: panjang tiang (sesaka), panjang balok tarik (lambang, pementang, dan tada paksi), panjang usuk (iga-iga), hingga hiasan pada tiang (kekupakan). 

Ukuran pekarangan digunakan satuan depa, yakni ukuran panjang tangan terentang dari ujung jari kanan ke ujung jari kiri dengan variasi ‘depa alit’, ‘depa madia’ dan ‘depa agung’ (lihat Gambar 4. 1). Jumlah kelipatan satuan ukur depa yang ditambah ‘pengurip’ merupakan panjang sisi-sisi pekarangan yang diukur. Untuk ukuran tata letak masing-masing masa bangunan didasarkan pada satuan ukuran ‘tapak’ yakni sepanjang tapak kaki dari ujung tumit sampai ujung jari kaki. Jumlah kelipatan tapak yang ditentukan didasarkan pada kelipatan sloka wawaran dari astawara (sri-indra-guru-yama-rudra-brahma-kala-uma) yang diakhiri pengurip ‘a tapak ngandang’ yakni selebar tapak kaki. Penentuan setiap kelipatan disesuaikan dengan fungsi bangunan yang sejalan dengan makna ungkapan dari setiap wawaran, seperti: kelipatan sri untuk jarak ke bangunan lumbung/tempat padi (padi sebagai simbul Dewi Sri); kelipatan brahma untuk jarak paon/dapur (api sebagai saktinya Dewa Brahma); kelipaatn guru untuk tempat bangunan pemujaan leluhur (Bhatara Hyang Guru) dst .

Dimensi bangunan digunakan satuan rai (ukuran penampang tiang) yang diturunkan dari ruas-ruas jari, yakni: tiga ruas, tiga setengah ruas dan empat ruas. Besaran ini digunakan sebagai dasar ukuran pada penampang tiang untuk tiang kecil sampai pada tiang terbesar. Sebagaimana kelipatan ukuran lainnya, ukuran bagian-bagian bangunan dari kelipatan rai juga ditambah pelebih untuk pengurip. 

Ukuran pengurip juga di ambil dari bagian-bagian jari tangan dengan istilahnya masing-masing, seperti: a guli (jarak ujung jari ke ruas pertama jari), a guli madu (jarak ruas pertama ke ruas kedua jari) , a useran tujuh (satu pusaran telunjuk), a nyari (selebar jari). Pengurip juga dapat diambil dari lebar masing-masing jari dan pecahan panjang sisi penampang tiang, yakni: seperempat, setengah, tiga perempat panjang sisi penampang (¼, ½, ¾ rai). 

Pada prinsipnya ukuran gegulak adalah bagian refleksi dari naluri masyarakat Bali untuk menjaga keharmonisan dan keseimbangan hubungan manusia dengan alam semesta, sesuai dengan pilosofi Tri Hita Karana. Arsitektur sebagai lingkungan buatan (salah satu bentuk dari alam baru) diharapkan dapat mengayomi dan mewadahi aktivitas pelakunya sebagaimana alam semesta. Oleh karena itu ukuran fisik (sistem proporsi) ‘alam baru’ ini tidak pernah terlepas dari ukuran angota tubuh kepala keluarga atau pemiliknya. Gegulak sebagai sistem proporsi tradisional yang sangat menentukan dalam proses pembuatan arsitektur di Bali mengakibatkan terwujudnya arsitektur rumah tinggal dengan proporsi yang sangat bervariasi, dan secara partikular sangat melekat terhadap penggunanya.


Sumber @ http://bhagawandesain.blogspot.com

Arsitektur Tradisional Bali Masa Kolonial

Jatuhnya kerajaan–kerajaan di Bali oleh pemerintah Belanda tahun 1846, menandakan pusat kekuasan bergeser dari pemerintahan tradisional menjadi pemerintahan modern (sistem pemerintahan kolonial Belanda). Kekuasaan raja dan patih tidak lagi berbicara, namun tunduk pada berbagai kebijakan dan intervensi pemerintah kolonial. Proses kolonisasi mengawali kontak budaya Bali dengan budaya Barat. Kehadiran kolonisasi di Bali memberi peluang besar lahirnya hasrat dari budaya lokal untuk menyerap nilai-nilai budaya baru. Ini berarti arsitektur tradisional Bali sebagai bagian dari wujud budaya juga akan mengalami pergeseran.

Pergeseran ini didorong pula oleh kehadiran beberapa arsitektur kolonial di Bali. Hal yang terpenting dalam pendirian arsitektur kolonial ini adalah adanya kebijakan pemerintah kolonial untuk melibatkan tukang-tukang lokal dalam proses pembuatannya. Kebijakan ini berarti memberikan peluang bagi undagi Bali untuk memperoleh kesempatan mengenal sistem teknologi modern dan beberapa pengetahuan tentang arsitektur Barat. Berbagai unsur-unsur estetik dan teknologi arsitektur kolonial yang hadir, kemudian diserap, hingga mempengaruhi perkembangan bentuk arsitektur rumah tinggal tradisional Bali. Ini dibuktikan dengan hadirnya jenis oranamen Patra Olanda (ornamen yang mendapat pengaruh dari Belanda), bangunan wantilan (bangunan serba guna) sebagai bangunan komunal dengan kontruksi bentangan balok yang cukup panjang, dan bale loji yang menggunakan sistem konstruksi dinding pemikul. 

Di masa kolonial juga dibangun berbagai bangunan dengan fungsi baru yang disesuaikan dengan kebutuhan pemerintah kolonial Belanda, seperti: Museum Bali yang didirikan pada tahun 1910 di Denpasar oleh WFJ. Kroon dengan arsitek Curt Grudler dari Jerman. Tata ruang arsitektur Museum Bali agak berbeda, dimana bangunan dibuat tertutup dengan mempertimbangkan segi keamanan yang tinggi sesuai dengan fungsinya sebagai tempat penyimpanan barang-barang bersejarah.


Sumber @ http://bhagawandesain.blogspot.com

Arsitektur Tradisional Bali Pada Jaman Petengahan

Masa ini bertepatan dengan datangnya para Arya dari Majapahit dan berkuasa di Bali sekitar abad XIV. Pada tahun 1350 pemerintah majapahit mengangkat Sri Kresna Kepakisan sebagai adipati di Bali dengan keraton yang berpusat di Samprangan (sebelah timur kota Gianyar). Dalam Kekawin Jawa dari abad XIV, Nagarakrtagama mengungkapkan tentang penyebaran kebudayaan Majapahit ke Bali, dikatakan bahwa pada periode ini bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi (the chancellery language) berubah dari bahasa Bali Kuno ke bahasa Jawa Kuno dan tulisan-tulisan Jawa mulai ditiru. Perubahan-perubahan ini menandai dominasi kebudayaan Jawa yang berlangsung berkenaan dengan perubahan-perubahan politik antara Jawa dan Bali. 

Masuknya intervensi Majapahit membawa sistem stratifikasi sosial ke dalam masyarakat Bali yang di kenal dengan sebutan ‘catur warna’ : Brahmana, Kesatria, Wesya dan Sudra. Kehadiran catur warna memunculkan istilah: Geria sebagai rumah tinggal untuk golongan Brahmana; Puri sebagai tempat tinggal golongan Kesatria; Jero adalah tempat tinggal golongan Kesatria yang tidak memegang pemerintahan secara langsung; dan Umah adalah tempat tinggal dari golongan Wesya dan Sudra. Dengan demikian di periode ini bentuk arsitektur rumah tinggal sangat ditentukan oleh faktor tingkatan kasta, status sosial dan peranannya di masyarakat. 

Pengaruh kebudayaan Majapahit dalam arsitektur Bali juga terlihat dari mulai munculnya penggunaan bata pengganti batu, yakni bata digosokan dengan bata yang lain dengan sedikit air akan luluh dan membentuk konstruksi dinding tanpa siar. Kenyataan ini tidak dapat dipungkiri lagi sejak ditemukannya penggunaan balok bata persegi panjang untuk pondasi di pura Pegulingan, Gianyar Bali pada tahun 1984. Balok persegi panjang ini menyerupai batu bata yang ditemukan di situs Majapahit, Trowulan. Temuan ini memperkuat kepercayaan para ahli bahwa bangunan tradisional Bali banyak melestarikan arsitektur Majapahit.

Pada pemerintahan Raja Dalem Waturenggong datang seorang bhagawanta besar dari Kediri (Jawa Timur), bernama Dang Hyang Nirartha. Kedatangan beliau ke Bali untuk perjalanan rohani (tirtayatra) pada tahun 1489, bersamaan dengan pudarnya kerajaan Majapahit. Bhagawanta ini juga seorang budayawan dan arsitek. Kehadirannya sangat mempengaruhi pengembangan dan penyempurnaan ajaran agama Hindu dan pola arsitektur di Bali, hingga membawa masa pemerintahan Dalem Waturenggong ke puncak kebesaran dan kejayaannya. Dang Hyang Nirartha menegaskan kembali Keesaan Tuhan melalui konsep arsitektur Padmasana sebagai bangunan tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa. Di samping itu perjalanan beliau di Bali banyak berkaitan dengan kehadiran tempat suci yang ada di sepanjang pesisir pantai Bali. 

Dang Hyang Nirarta kembali menegaskan ajaran Çiwa Siddhanta dengan memuja Tri Purusa yang merupakan perwujudan Tuhan dalam posisi vertikal sebagai penguasa tiga dunia yakni: Dewa Çiwa penguasa dunia bawah/‘nista’; Sada Çiwa penguasa dunia tengah/’madya’; dan ketika Beliau berada di alam atas/’utama’ dikenal dengan nama Parama Çiwa. Tri Purusa sebagai pedoman dalam setiap kegiatan ritual masyarakat Bali hingga pada perwujudan arsitekturnya. Konsep alam ‘atas’, alam ‘tengah’, dan alam ‘bawah’ berlaku menyeluruh dalam perencanaan arsitektur dari saat penentuan teritorial, tata letak bangunan, tata nilai, hingga pada ragam hias Arsitekturnnya.

Sumber @ http://bhagawandesain.blogspot.com

Arsitektur Tradisional Bali Jaman Bali Aga

Pada periode ini arsitektur telah dikembangkan sebagai benda budaya yang dibentuk dari benda-benda alam dalam suatu susunan yang harmonis dalam fungsinya menjaga keseimbangan manusia dengan alam lingkungannya. Dalam ’Monografi Daerah Bali’ dikatakan bahwa masa Bali Aga dimulai sejak 800 M. Asumsi ini didasarkan pada penemuan bukti-bukti sejarah berupa ‘stupika tanah liat’ berangka tahun 778 M yang terdapat di Pejeng. Stupika ini berisikan tentang mantram-mantram agama Budha Mahayana. Bukti lain adalah prasasti ‘Blanjong’ yang ditemukan di desa Sanur, berangka tahun 913 M. Dalam prasasti ini disebutkan bahwa raja yang memerintah Bali Kuno saat itu adalah Çri Kesari Warmadewa yang menjadi cikal bakal dinasti warmadewa di Bali. Raja keturunan Warmadewa yang terkenal adalah Raja Dharma Udayana Warmadewa dan istrinya Gunapriyadharmapatni yang memerintah di Bali dari tahun 989 M-1001 M. 

Masyarakat Bali Aga memiliki suatu kebudayaan dan peradaban dengan sistem relegi yang menyembah nenek moyang, serta suatu susunan hidup kemasyarakatan yang dilandasi atas semangat kebersamaan dalam suatu bentuk republik-republik desa yang independent. Orang Bali Aga sangat kuat memegang sistem adatnya, sehingga tidak jarang masyarakatnya menentang kebijakan-kebijakan baru kerajaan yang tidak sejalan dengan sistem releginya. Soegianto mengatakan pada akhir abad X, pada masa pemerintahan raja suami-istri Raja Dharma Udayana Warmadewa dan istrinya Gunapriyadharmapatni terjadi sebuah kemelut dalam pemerintahan kerajaan Bali Kuno; raja terpaksa harus mengambil jalan tengah untuk menghadapi orang-orang Bali Aga yang menentang kebijaksanaan kerajaan, dengan mendatangkan seorang pandita Çiwa dari Daha (Jawa Timur) bernama Empu Kuturan. Konsepsi religi yang diperkenalkan Empu Kuturan mampu menjembatani perbedaan politis religius tersebut. Di samping tetap menjalankan ritus asli masyarakat Bali Aga, beliau juga memperkenalkan suatu cara baru yang sangat diperlukan untuk memberikan disipilin dan ketertiban sehingga tidak mendatangkan anarki di dalam kehidupan ritus keagamaan yang dapat mengancam ketertiban dan keamanan kerajaan. Baginya kesatuan ‘sembah’ sangat diperlukan dalam bentuk konsep, sehingga melahirkan karya besar yang dikenal dengan konsep Tri Khayangan (Khayangan Tiga). 

Tri Khayangan mengarahkan masyarakatnya untuk memuja perwujudan Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Murti: Brahma, Wisnu, dan Çiwa (Pencipta, Pemelihara, dan Pelebur), sehingga setiap desa adat diharapkan memiliki Pura Khayangan Tiga sebagai tempat pememujaan Beliau, yakni: Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem (di wilayah Buleleng: Pura Desa, Pura Segara, dan Pura Dalem). Konsep Tri Kahyangan secara keseluruhan dapat diterima oleh kelompok Bali Aga dan diterapkan pada setiap desa adat di Bali hingga kini. Karya besar beliau yang lain sebagai seorang arsitek dan budayawan adalah mendirikan desa adat serta awig-awignya (aturan-aturannya); menganjurkan pembuatan sanggah/merajan (tempatsuci di setiap rumah tinggal); pencetus pelinggih Meru untuk pemujaan Tuhan Yang Maha Esa dan para leluhur yang telah suci. Empu kuturan mendampingi dinasti Warmadewa sampai pemerintahan raja Anak Wungsu, hingga membawa kerajaan Bali Kuno ke jaman keemasan.

Arsitektur rumah tinggal masa Bali Aga terletak dalam satu lingkungan bangunan komunal dengan mengayomi aktivitas penghuninya sehari-hari. Pola arsitektur rumah tinggal peninggalan kebudayaan masa Bali Aga yang sampai sekarang masih diterapkan di Buleleng adalah di desa Sidatapa, desa Cempaga, desa Sambiran, dan desa Julah. 

Pola penataan ruang arsitektur di desa-desa tersebut pada umumnya didasarkan pada falsafah bahwa alam semesta (makrokosmos) secara hirarki terbagi dalam 3 bagian, dimana tiap pembagian tersebut melambangkan alam ‘utama’ (alam para dewa), alam ‘madya’ (alam manusia), dan alam ‘nista’ (alam butha). Dalam diri manusia ketiga alam ini diibaratkan sebagai kepala, badan dan kaki. Sebagaimana halnya alam semesta (makrokosmos), arsitektur rumah tinggal juga diharapkan dapat berfungsi mewadahi aktivitas manusia dengan baik, sehingga perwujudan arsitekur diupayakan untuk dapat meniru bahkan menduplikat alam semesta selaku konsep dasar dan pola dasar.

Di desa Sidatapa, falsafah ini diterapkan dengan membagi setiap masa bangunan rumah tinggal menjadi tiga bagian.(lihat Gambar 2. 4) Perbedaan hirarki ruang di pertegas dengan perbedaan tinggi level lantai yang menempatkan ruang ‘utama’ pada lantai yang paling tinggi dan bagian yang paling dalam. Ruang ini difungsikan sebagai ruang persembahyangan dan sekaligus sebagai ruang tidur. Bagian lantai yang lebih rendah dari ruang tidur adalah ruang ‘madya’ sebagai dapur. Bagian paling luar adalah ruang ‘nista’ berupa teras tempat menerima tamu, atau tempat melakukan pekerjaan sambilan, seperti menganyam (salah satu mata pencaharian masyarakat setelah masuknya pariwisata). 

Raja Bali Kuno terakhir bernama Sri Astasura Ratna Bumi Banten yang berpusat di Bedaulu. Lontar ‘Usana Jawa’ mengungkapkan bahwa masa pemerintahan Sri Astasura Ratna Bumi Banten didampingi oleh seorang Mahapatih bernama ‘Kebo Iwa’. Mahapatih ini juga tokoh arsitek yang meninggalkan beberapa data arsitektur dan masih bertahan sampai sekarang, di antaranya adalah konsep bangunan komunal ‘Bale Agung’. Peninggalan-peninggalan kebudayaan ini masih terlihat di beberapa daerah seperti Gunung Kawi, Tirta Empul, Gua Gajah, dan sekitar Bedaulu-Tampaksiring sebagai lokasi pusat kerajaan pada masa Bali Aga. 

Periode Bali Aga berakhir bersamaan dengan jatuhnya kerajaan Bali Kuno yang berpusat di Bedaulu tahun 1343. Selanjutnya ekspedisi Majapahit yang dipimpin oleh Maha Patih Gajah Mada berhasil menaklukan pulau Bali.

Sumber @ http://bhagawandesain.blogspot.com

Konsep Tri Angga Dalam Arsitektur Tradisional Bali

Tri Angga adalah ungkapan tata nilai pada ruang terbesar jagat raya mengecil sampai elemen-elemen terkecil pada manusia dan arsitektur. Pada alam semesta (bhuwana agung) susunan tersebut tampak selaku bhur, bhuwah dan swah (tiga dunia/tri loka) bhur sebagai alam ‘bawah’ adalah alam hewan atau butha memiliki nilai ‘nista’, bwah adalah alam manusia dengan nilai ‘madya’ dan swah alam para Dewa memiliki nilai ‘utama’. Demikin pula pada manusia (bhuwana alit) ungkapan tata nilai ini terlihat pada tubuhnya yang tersusun atas: kaki sebagai ‘nista angga’, badan sebagai ‘madya angga’ dan kepala adalah ‘utama angga’. Konsep Tri Angga ini diproyeksikan dalam setiap wujud fisik arsitektur, teritorial perumahan dan teritorial desa. 

Pada arsitektur konsep Tri Angga menampakan dirinya dengan jelas, yakni rab/atap bangunan adalah kepalanya; pengawak atau badan bangunan selaku madya angga; serta bebataran merupakan kaki sebagai nista angga. Penyusunan Tri Angga pada areal pekarangan rumah, yakni teba (tempat ternak, pembuangan sampah dan kotoran rumah tangga lainnya) selaku nista angga, tegak umah atau tempat massa bangunan adalah madya angga, dan pelataran pemerajan/tempat suci adalah utama angganya. Dalam pola tata ruang desa, pura-pura desa sebagai utama angga, desa pakraman (daerah pemukiman) sebagai madya angga, dan setra atau kuburan sebagai nista angga.

Pada badan manusia yang berdiri vertikal dengan mudah tampak bahwa yang ‘nista’ di bawah, ‘madya’ di tengah dan ‘utama’ di atas. Pada bidang yang horizontal seperti pekarangan rumah dan areal desa, pola tata letak ‘nista-madya-utama’ berpedoman pada orientasi kosmologis dan tata nilai ritual yang menempatkan arah kaja dan kangin sebagai arah ‘utama’, serta kelod dan kauh sebagai arah ‘nista’.


Sumber @ http://bhagawandesain.blogspot.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review