Senin, 07 November 2011

Pasek Sanak Sapta Rsi

MAHA GOTRA PASEK SANAK SAPTA RSI

Kembali kepada Mpu Gni Jaya yang menurunkan Sapta Rsi, kawitan (leluhur) langsung dari Maha Gotra Pasek, Tangkas dan Bendesa (MAHA GOTRA PASEK SANAK SAPTA RSI), yang juga merupakan kawitan (leluhur) langsung dari “Kaki Bongol dan Kaki Djelantik” dan sapretisentananya.
Mpu Gni Jaya mempunyai putra 7 orang atau yang sering disebut Sapta Rsi diantaranya :

MPU KETEK

Mpu Ketek berputra 2 orang yaitu Sanghyang Pemacekan dan Arya Kepasekan. Sanghyang Pemacekan juga berputra 2 orang, yang pertama Mpu Pemacekan kemudian pergi ke Pasuruhan, lalu pindah ke Majapahit. Putra yang kedua adalah seorang putri bernama Ni Dewi Girinatha. Sedangkan Arya Kepasekan juga mempunyai 2 orang putra yaitu : Kyayi Agung Pemacekan dan Ni Luh Pasek. Mpu Pemacekan di Majapahit mempunyai 3 orang putra yakni Ni Ayu Ler, Mpu Jiwanatha dan Arya Pemacekan. Kemudian Kyayi Agung Pemacekan berputra 2 orang yaitu Kyayi Pasek Gelgel dan Kyayi Pasek Denpasar. Mpu Jiwanatha mempunyai putra Kyayi Agung Padang Subadra, lebih lanjut Arya Pemacekan mempunyai putra Ni Luh Pasek dan Kyayi Agung Pemacekan. Kyayi Agung Pemacekan berputra Kyayi Agung Pasek Subadra dan Kyayi Pasek Tohjiwa. Kedua putra beliau ini berperan pada awal jaman Kerajaan Gelgel. Seterusnya Kyayi Agung Pasek Subadra berputra Pasek Subadra menjadi Pandhita dengan gelar Dukuh Suladri, ia berasrama di Taman BaliBangli. Dan yang terkecil adalah Pasek Kuru Badra. Kemudian Kyayi Pasek Tohjiwa berputra; Pasek Tohjiwa menjadi tabeng wijang Kerajaan Gelgel, adik-adiknya adalah Pasek Tanggun Titi, Pasek Penataan, Pasek Antasari, Pasek Alas Ukir, Pasek Langlang Linggah, Pasek Besang, Pasek Duda, Pasek Wanagiri, Pasek Medaan, Pasek Bantiran, Pasek Pupuan dan Pasek Sanda. Sedangkan Pasek Subrata menurunkan Pasek Subrata Bale Agung, De Pasek Sadra, De Pasek Tawing dan De Pasek Mubutin. Dukuh Suladri di pesraman Tamanbali menurunkan I Gde Pasek Sadri, Pasek Sadra yang menjadi Pandhita bergelar Dukuh Sakti Pahang, Ni Luh Sadri diperistri oleh Sri Angga Tirtha Ksatrya Tirtha Arum. Luh Sadra diambil oleh Dalem De Madya.
Sedangkan Pasek Kuru Badra menurunkan Pasek Padangrata di Padang. Pasek Subadra Bale Agung menurunkan De Pasek Subrata menjadi Pandhita dengan gelar Dukuh Sidawa menurunkan Gde Pasek Tulamben di Tulamben. Selanjutnya Dukuh Sidawa menurunkan Wayan Sibetan, Made Desa, Wayan Tubuh, De Pasek Subrata, Ia ikut pembrontakan I Gusti Agung Maruthi. Dukuh Sakti Pahang menurunkan Ni Luh Pasek Sadri dikawini oleh Kyayi Agung Anglurah Pinatih, yang kedua De Pasek Pahang, ia menjadi Pandhita dengan gelar Dukuh Titi Gantung, ia yang memperlihatkan kesaktiannya kepada Anglurah Pinatih Kasiman, sehingga akhirnya Anglurah Pinatih Kesiman mengungsi ke Desa Minggir daerah Karangasem, putra Dukuh Sakti Pahang yang ketiga adalah Pasek Sadri. Dukuh Titi Gantung menurunkan 3 anak yaitu Gurun De Pasek Sadra menjadi Pandhita bergelar Dukuh Sampaga, putra yang kedua Gurun Made Sadri, sedangkan yang ketiga Gurun Nyoman Sadriya dan yang paling kecil bernama Dukuh Bukit Salulung. Dukuh Sampaga menurunkan dua putra yaitu Made Pacung Mengwi, dan yang kedua Pasek Munggu yang bergelar Dukuh Sampagi.
Sekian banyaknya keturunan Mpu Ketek, mereka masing-masing mempergunakan pungkusan Pasek Tohjiwa, Pasek Tangguntiti, Pasek Padang Subadra, Pasek Wanagiri, Dukuh Sakti Pahang, Dukuh Sampaga, Dukuh Sampagi, Dukuh Bukit Salulung sebagai jati dirinya, sebagai pertanda keturunan Mpu Ketek.


MPU KANANDA

Mpu Kananda hanya berputra seorang yaitu Sang Kula Dewa, menjadi Pandhita dengan gelar Mpu Sweta Wijaya. Mpu Sweta Wijaya berputra 3 orang yaitu : Sang Kulputih yang tertua bergelar Mpu Dwijaksara. Beliaulah yang menyusun pegangan “Seha” atau “Anteban” buat para pemangku di Bali. Pustaka suci ini bernama “Sang Kulputih”, putra yang kedua bernama Mpu Wira Sang Kulputih pergi ke Pasuruhan. Putranya yang ketiga bernama Ni Arya Swani. Mpu Wira Sang Kulputih berputra Ni Luh Sorga dan Ki Dukuh Sorga, ia pergi ke Bali. Inilah yang menurunkan para Pemangku Kulputih di Besakih. Demikianlah keturunan Mpu Kananda yang mempergunakan pungkusan Pasek Sorga.


MPU WIRADNYANA

Mpu Wiradnyanapun berputra hanya seorang saja, yang bernama Mpu Wiranatha yang juga bergelar Mpu Purwanatha. Beliau berasrama di hutan Tumapel, beliau berputra Mpu Purwa dan Ken Dedes. Ken Dedes dipersunting oleh Tunggul Ametung sebelum akhirnya dikawini oleh Ken Arok setelah dapat mengalahkan Tunggul Ametung, inilah yang menurunkan Raja-raja Jawa selama 4 Abad. Mpu Purwa berputra Arya Tatar dan Ni Swaranika. Arya Tatar pindah ke Bali dan mempunyai putra yang diberi nama Ki Gusti Pasek Lurah Tatar dan Ni Rudani. Ki Gusti Pasek Lurah Tatar menurunkan De Pasek Tatar yang kemudian menurunkan Pasek Tatar di Bali. Pungkusan Pasek Tatar di Bali dengan keturunannya yaitu Pasek Penataran, Pasek Tenganan, De Pasek Mangku Bale Agung, Pasek Bale Agung Buleleng dan Pasek Pidpid. Sekian banyak keturunan Mpu Wiradnyana masing-masing mempergunakan pungkusan Pasek Penataran, Pasek Tatar, Pasek Telengan dan Pasek Pidpid.


MPU WITHADHARMA

Mpu Withadharma mempunyai putra seorang bernama Mpu Wiradharma. Mpu Wiradharma pergi ke Pasuruhan. Disana beliau berputra 3 orang yaitu: Mpu Lampita, Mpu Pastika dan Mpu Pananda. Mpu Pastika dan Mpu Pananda nyukla Brahmacari (tidak menikah seumur hidupnya) lalu pergi ke Bali. Mpu Lampita berputra Mpu Dwijaksara. Beliau yang diminta oleh Patih Gajah Mada ke Bali untuk meperbaiki Parhyangan-Parhyangan di Bali agar orang-orang Bali Aga menjadi senang dan tunduk kepada Kerajaan Majapahit. Beliau ke Bali diiringi oleh putra dan cucu-cucunya. Putra satu-satunya beliau yang sudah tua yaitu Ki Patih Ulung. Ki Patih Ulung beputra 2 orang yaitu Ki Bendesa Manik Mas dan Kyayi Gusti Smaranatha. Ki Bendesa Manik Mas menurunkan Kyayi Bendesa Mas sedangkan Kyayi Gusti Smaranatha berputra Ki Gusti Rare Angon yang selanjutnya beliau berputra Kyayi Agung Pasek Gelgel. Beliau menjabat sebagai Raja di Bali antara tahun 1343-1350 Masehi sebelum Adipati Kresna Kepakisan datang ke Bali, didampingi oleh patihnya yaitu Kyayi Padang Subadra.
Kyayi Bendesa Mas hanya mempunyai putri-putri saja, oleh karena itu beliau tidak mempunyai keturunan. Sedangkan yang banyak menurunkan adalah Kyayi Agung Pasek Gelgel dan Bendesa. Sekarang keturunan Kyayi Agung Pasek Gelgel yang berleluhur Mpu Withadharma tersebar di seluruh Bali, termasuk “Kaki Bongol dan Kaki Djelantik” dan sapratisentannya merupakan keturunan Kyayi Agung Pasek Gelgel. Demikianlah banyaknya keturunan Mpu Withadharma, masing-masing memakai nama Pasek Gelgel, Pasek Bandesa, Pasek Tangkas, Pasek Dukuh Bungaya dan Pasek Dukuh Subandi.


MPU RAGARUNTING

Mpu Ragarunting adalah Mpu yang kelima dari Sanak Sapta Rsi. Beliau berputra satu orang bergelar Mpu Wira Runting atau nama lainnya Mpu Paramadaksa. Mpu Paramadaksa pergi ke Pasuruhan, lalu kemudian ke Majapahit. Di sana beliau berputra Mpu Wira Ragarunting dan Ni Ayu Wira Ragarunting, Ni Ayu Wira Runting.
Mpu Wira Ragarunting menurunkan De Pasek Lurah Kabayan, De Pasek Lurah Tutuwan, De Pasek Lurah Salahin. Ketiga putra-putri ini pergi ke Bali. De Pasek Lurah Kabayan menurunkan De Pasek Lurah Kabayan Wangaya dan De Pasek Kabayan Penebel. De Pasek Lurah Tutuwan kawin dengan Gunaraksa, putri Arya Timbul. Ia diputusi keluarga oleh saudara-saudaranya karena menyembah Arya Timbul alias Arya Buru, putra Prabhu Airlangga dengan seorang gadis gunung. Pasek Lurah Tutuwan ini berputra I Made Bendesa Banjar Crutcut. De Pasek Lurah Salahin menurunkan De Pasek Salahin Tojan. De Pasek Salahin Tojan menurunkan Bandesa Simpar, selanjutnya De Bandesa Simpar menurunkan I Wayan Kabayan Tulamben.
Demikianlah keturunan Mpu Ragarunting tersebar di Bali dengan pungkusan masing-masing diantaranya Pasek Salahin, Pasek Kubayan dan Pasek Tutuwan.


MPU PRATEKA

Mpu Prateka berputra seorang yaitu Mpu Pratekajnana atau disebut pula Mpu Pratekayadnya, beliau juga pergi ke Pasuruhan. Disini Beliau berputra Sang Prateka, Ni Ayu Swaranika dan Ni Ayu Kamareka. Sang Prateka berputra De Pasek Kubakal, ia kembali ke Balidan menurunkan De Pasek Pasaban, De Pasek Rendang, De Pasek Nongan, De Pasek Prateka Akah, Ki Dukuh Gamongan dan Ki Dukuh Blatungan. Ki Dukuh Gamongan menurunkan Ki Dukuh Gamongan Sakti dan Ki Dukuh Prateka Batusesa. Sekianlah keturunan Mpu Preteka masing-masing dengan pungkusan Pasek Prateka,Pasek Kubakal dengan pusat di Kubakal - Rendang, Pasek Dukuh Gamongan, Pasek Dukuh Belatung dan Pasek Nongan.


MPU DANGKA

Sama halnya dengan Mpu Prateka, Mpu Dangka juga sedikit pratisentananya, beliau berputra seorang yaitu Mpu Wira Dangkya, beliaupun pergi ke Pasuruhan kawin dengan Dewi Sukerthi menurunkan tiga orang putra-putri yaitu : Sang Wira Dangka, Ni Ayu Dangki dan Ni Ayu Dangka. Sang Wira Dangka juga kembali ke Bali, lalu menurunkan Ni Rudani, De Pasek Lurah Kadangkan, De Pasek Lurah Ngukuhin dan De Pasek Lurah Gaduh. De Pasek Lurah Kadangkan berputra I Pasek Taro, I Pasek Penida, I Pasek Bangbang dan I Pasek Banjarangkan. Demikian juga De Pasek Lurah Ngukuhin berputra I Pasek Nyalian, I Pasek Ngukuhin, I Pasek Pucangan, I Pasek Gaduh Blahbatuh dan I Pasek Gaduh di Banjar Watugiling.
Demikianlah keturunan Mpu Dangka masing-masing membawa pungkusan Pasek Kedonganan, Pasek Kadangkan, Pasek Ngukuhin, Pasek Gaduh, Pasek Dangka, Pasek Penida dan Pasek Taro.

Incest

Incest yang disebut juga hubungan sedarah, hubungan sumbang atau perkawinan sedarah adalah hubungan saling mencintai yang bersifat seksual yang dilakukan oleh pasangan yang memiliki ikatan keluarga (kekerabatan) yang dekat, biasanya antara ayah dengan anak perempuannya, ibu dengan anak laki-lakinya, atau antar sesama saudara kandung atau saudara tiri. Pengertian istilah ini lebih bersifat sosio antropologis daripada biologis (bandingkan dengan kerabat-dalam untuk pengertian biologis) meskipun sebagian penjelasannya bersifat biologis. Sedang definisi dari Kamus New Collins (New Collins Dictionary) menyebut Incest adalah “Hubungan seksual antara 2 orang yang mempunyai hubungan yang sangat dekat.” Kamus Oxford menambahkan kalimat – “Untuk menikah.”
Hubungan sumbang diketahui berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang secara biologis lemah, baik fisik maupun mental (cacat), atau bahkan letal (mematikan). Fenomena ini juga umum dikenal dalam dunia hewan dan tumbuhan karena meningkatnya koefisien kerabat-dalam pada anak-anaknya. Akumulasi gen-gen pembawa ‘sifat lemah’ dari kedua tetua pada satu individu (anak) terekspresikan karena genotipe-nya berada dalam kondisi homozigot.
Secara sosial, hubungan sumbang dapat disebabkan, antara lain, oleh ruangan dalam rumah yang tidak memungkinkan orangtua, anak, atau sesama saudara pisah kamar. Hubungan sumbang antara orang tua dan anak dapat pula terjadi karena kondisi psikososial yang kurang sehat pada individu yang terlibat. Beberapa budaya juga mentoleransi hubungan sumbang untuk kepentingan-kepentingan tertentu, seperti politik atau kemurnian ras.
Akibat hal-hal tadi, hubungan sumbang tidak dikehendaki pada hampir semua masyarakat dunia. Semua agama besar dunia melarang hubungan sumbang. Pada kelompok masyarakat tertentu, seperti suku Polahi di Kabupaten Gorontalo, Sulawesi, praktik hubungan sumbang banyak terjadi. Perkawinan sesama saudara adalah hal yang wajar dan biasa di kalangan suku Polahi.
Kalangan bangsawan Mesir Kuno, khususnya pascainvasi Alexander Agung, melakukan perkawinan dengan saudara kandung dengan maksud untuk mendapatkan keturunan berdarah murni dan melanggengkan kekuasaan. Contoh yang terdokumentasi adalah perkawinan Ptolemeus II dengan saudara perempuannya, ElsinoĂŠ. Beberapa ahli berpendapat, tindakan seperti ini juga biasa dilakukan kalangan orang biasa. Toleransi semacam ini didasarkan pada mitologi Mesir Kuno tentang perkawinan Dewa Osiris dengan saudaranya, Dewi Isis.
Dalam mitologi Yunani kuno, Dewa Zeus kawin dengan Hera, yang merupakan kakak kandungnya sendiri.
Folklor Indonesia juga mengenal hubungan sumbang. Hubungan sumbang antara Sangkuriang dan ibunya sendiri (Dayang Sumbi) dalam dongeng masyarakat Sunda atau antara Prabu Watugunung dan ibunya (Sinta), yang menghasilkan 28 anak, kisahnya diabadikan dalam, pawukon — adalah contoh-contohnya).

Penderitaan wanita atau istri penyebab kehancuran dunia

Kata Istri berasal dari bahasa Sansekerta dari akar kata str artinya pengikat kasih. Istri berasal dari wanita. Kata wanita juga berasal dari bahasa Sansekerta dari asal kata van artinya to be loved (yang dikasihi). Sedangkan kata perempuan artinya yang dihormati.
Hal itulah yang menyebabkan wanita setelah menjadi istri kewajibannya menjadi tali pengikat kasih seluruh keluarga. Dalam Mahabharata Resi Bisma menyatakan bahwa di mana wanita dihormati di sanalah bertahta kebahagiaan. Karena itu Rahvana yang menghina Dewi Sita dan Duryadana yang menghina Dewi Drupadi, kedua-duanya menjadi raja yang terhina. Dalam Manawa Dharmasastra III.56 dinyatakan bahwa di mana wanita itu dihormati di sanalah para dewa akan melimpahkan karunia kebahagiaan dengan senang hati. Di mana wanita tidak dihormati tidak ada upacara yadnya apa pun yang memberi pahala kemudiaan.
Di era globalisasi kaum wanita banyak yang masih tertindas, seperti Kekerasan dalam rumah tangga (kdrt), begitu juga dengan pemerkosaan yang dilakukan oleh kaum lelaki. Beginilah jaman Kali Yuga , jaman kekalutan,jaman edan. Dimana wanita semakin tidak dihormati, sehingga kebahagian jauh dari harapan, berbagai bencana melanda dunia. Padahal didalam weda disebutkan wanita adalah penentu kebahagian keluarga. Namun perlu juga kita renungkan bahwa kasus kekerasaan dan pemerkosaan tidak sepenuhnya salah kaum lelaki  namun juga salah kaum wanita , terutama wanita-wanita nakal serta wanita yang suka memamerkan keelokan tubuhnya atau berpakaian seksi, didalam manawa dharmasastra disebutkan bahwa tubuh wanita yang seksi (telanjang) dapat menghilangkan sifat Ketuhanan bagi mereka yang melihatnya, sedangkan didalam kamasutra disebutkan bahwa tubuh wanita yang seksi dapat merusak jaringan otak bagi mereka yang melihatnya. Dengan demikian wanita memiliki andil besar terhadap perilaku lelaki seperti pemerkosaan, pencabulan, dsb.

Sejarah Incest

Peristiwa incest telah terjadi sejak dulu kala. Dalam sejarah dicatat raja-raja Mesir kuno dan putra-putrinya kerap kali melakukan tingkah laku incest dengan motif tertentu, sangat mungkin bertujuan untuk meningkatkan dan kualitas generasi penerusnya. Pascainvasi Alexander the Great (Iskandar Zulkarain) para bangsawan Mesir banyak yang melakukan perkawinan dengan saudara kandung dengan maksud untuk mendapatkan keturunan berdarah murni dan melanggengkan kekuasaan. Contoh yang terdokumentasi adalah perkawinan Ptolemeus II dengan saudara perempuannya, Elsione. Beberapa ahli berpendapat, tindakan seperti ini juga biasa dilakukan kalangan orang biasa. Toleransi semacam ini didasarkan pada Mitologi Mesir Kuno tentang perkawinan Dewa Osiris dengan saudaranya, Dewi Isis. Sedangakn dalam mitologi Yunani kuno ada kisah Dewa Zeus yang kawin dengan Hera, yang merupakan kakak kandungnya sendiri.
Kisah-kisah tentang incest ini bukan hanya pada mitologi saja, tapi bahkan ada juga yang tercatat dalam kitab suci beberapa agama. Dalam kitab agama Kristen misalnya banyak sekali dikisahkan peristiwa incest yang bahkan sangat tidak masuk akal seperti kisah incest yang melibatkan beberapa orang Nabi beserta keluarganya. Sebagai contoh kisah tentang Lot (Nabi Luth) yang konon melakukan hubungan seks dengan kedua putrinya:
Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun. 36  Lalu mengandunglah kedua anak Lot (Nabi Luth) itu dari ayah mereka. (Kejadian 19: 35-36),
ada juga kisah tentang Ruben putra sulung Nabi Ya’kub yang konon pemperkosa istri Nabi Ya’kub:
Ketika Ya’kub diam di negeri ini, terjadilah bahwa Ruben sampai tidur dengan Bilha, istri ayahnya, dan kedengaranlah hal itu kepada Israel. (Kejadian 35: 22),
selain itu ada juga kisah tentang Amnon putra Nabi Daud lainnya yang konon memperkosa saudara perempuannya Tamar:
Ketika gadis itu menghidangkannya kepadanya supaya ia makan, dipegangnyalah gadis itu dan berkata kepadanya: “Marilah tidur dengan aku, adikku.” 12  Tetapi gadis itu berkata kepadanya: “Tidak kakakku, jangan perkosa aku, sebab orang tidak berlaku seperti itu di Israel. Janganlah berbuat noda seperti itu. 13  Dan aku, ke manakah kubawa kecemaranku? Dan engkau ini, engkau akan dianggap sebagai orang yang bebal di Israel. Oleh sebab itu, berbicaralah dengan raja, sebab ia tidak akan menolak memberikan aku kepadamu.” 14  Tetapi Amnon tidak mau mendengarkan perkataannya, dan sebab ia lebih kuat dari padanya, diperkosanyalah dia, lalu tidur dengan dia. (2 Samuel 13: 12-14),
dan masih banyak lagi kisah tentang incest lainnya yang dapat kita temukan dalam Alkitab (Bible) yang konon bukan hanya melibatkan manusia biasa tapi juga melibatkan orang-orang pilihan Tuhan.
Di Indonesia sendiri sampai saat ini perilaku incest masih ada pada kelompok masyarakat tertentu, seperti suku Polahi di Kabupaten Polahi, Sulawesi, dimana praktek hubungan incest banyak terjadi. Perkawinan sesama saudara adalah hal yang wajar dan biasa di kalangan suku Polahi.

Penyebab Incest

Ada beberapa penyebab atau pemicu timbulnya incest. Akar dan penyebab tersebut tidak lain adalah karena pengaruh aspek struktural, yakni situasi dalam masyarakat yang semakin kompleks. Kompleksitas situasi menyebabkan ketidakberdayaan pada diri individu. Khususnya apabila ia seorang laki-laki (notabene cenderung dianggap dan menganggap diri lebih berkuasa) akan sangat terguncang, dan menimbulkan ketidakseimbangan mental-psikologis. Dalam ketidakberdayaan tersebut, tanpa adanya iman sebagai kekuatan internal/spiritual, seseorang akan dikuasai oleh dorongan primitif, yakni dorongan seksual ataupun agresivitas. Faktor-faktor struktural tersebut antara lain adalah:
  1. Konflik budaya. Seperti kita ketahui, perubahan sosial terjadi begitu cepatnya seiring dengan perkembangan teknologi. Alat-alat komunikasi seperti radio, televisi, VCD, HP, koran, dan majalah telah masuk ke seluruh pelosok wilayah Indonesia. Seiring dengan itu masuk pula budaya-budaya baru yang sebetulnya tidak cocok dengan budaya dan norma-norma setempat. Orang dengan mudah mendapat berita kriminal seks melalui tayangan televisi maupun tulisan di koran dan majalah. Juga informasi dan pengalaman pornografi dan berbagai jenis media. Akibatnya, tayangan televisi, VCD, dan berita di koran atau majalah yang sering menampilkan kegiatan seksual incest serta tindak kekerasannya, dapat menjadi model bagi mereka yang tidak bisa mengontrol nafsu birahinya.
  2. Kemiskinan. Meskipun incest dapat terjadi dalam segala lapisan ekonomi, secara khusus kondisi kemiskinan merupakan suatu rantai situasi yang sangat potensial menimbulkan incest. Sejak krisis 1998, tingkat kemiskinan di Indonesia semakin tinggi. Banyak keluarga miskin hanya memiliki satu petak rumah. Kita tidak dapat membedakan mana kamar tidur, kamar tamu, atau kamar makan. Rumah yang ada merupakan satu atau dua kamar dengan multi fungsi. Tak pelak lagi, kegiatan seksual terpaksa dilakukan di tempat yang dapat ditonton anggota keluarga lain. Tempat tidur anak dan orangtuanya sering tidak ada batasnya lagi. Ayah yang tak mampu menahan nafsu birahinya mudah terangsang melihat anak perempuannya tidur. Situasi semacam ini memungkinkan untuk terjadinya incest kala ada kesempatan.
  3. Pengangguran. Kondisi krisis juga mengakibatkan banyak terjadinya PHK yang berakibat banyak orang yang menganggur. Dalam situasi sulit mencari pekerjaan, sementara keluarga butuh makan, tidak jarang suami istri banting tulang bekerja seadanya. Dengan kondisi istri jarang di rumah (apalagi bila menjadi TKW), membuat sang suami kesepian. Mencari hiburan di luar rumah pun butuh biaya. Tidak menutup kemungkinan anak yang sedang dalam kondisi bertumbuh menjadi sasaran pelampiasan nafsu birahi ayahnya.
Selain faktor-faktor diatas, Lustig (Sawitri Supardi: 2005) mengemukakan factor-faktor lain yaitu:
  1. Keadaan terjepit, dimana anak perempuan manjadi figur perempuan utama yang mengurus keluarga dan rumah tangga sebagai pengganti ibu.
  2. Kesulitan seksual pada orang tua, ayah tidak mampu mengatasi dorongan seksualnya.
  3. Ketidakmampuan ayah untuk mencari pasangan seksual di luar rumah karena kebutuhan untuk mempertahankan facade kestabilan sifat patriachat-nya.
  4. Ketakutan akan perpecahan keluarga yang memungkinkan beberapa anggota keluarga untuk lebih memilih desintegrasi struktur daripada pecah sama sekali.
  5. Sanksi yang terselubung terhadap ibu yang tidak berpartisipasi dalam tuntutan peranan seksual sebagai istri.
  6. Pengawasan dan didikan orangtua yang kurang karena kesibukan orang bekerja mencari nafkah dapat melonggarkan pengawasan oleh orangtua bisa terjadi incest.
  7. Anak remaja yang normal pada saat mereka remaja dorongan seksualnya begitu tinggi karena pengaruh tayangan yang membangkitkan naluri birahi juga ikut berperan dalam hal ini.

Alasan Anggota Keluarga Melakukan Incest

  1. Ayah sebagai pelaku. Kemungkinan pelaku mengalami masa kecil yang kurang menyenangkan, latar belakang keluarga yang kurang harmonis, bahkan mungkin saja pelaku merupakan korban penganiayaan seksual di masa kecilnya. Pelaku cenderung memiliki kepribadian yang tidak matang, pasif, dan cenderung tergantung pada orang lain. Ia kurang dapat mengendalikan diri/hasratnya, kurang dapat berfikir secara realistis, cenderung pasif-agresif dalam mengekpresikan emosinya, kurang memiliki rasa percaya diri. Selain itu, kemungkinan pelaku adalah pengguna alkohol atau obat-obatan terlarang lainnya.
  2. Ibu sebagai pelaku. Ibu yang melakukan penganiayaan seksual cenderung memiliki tingkat kecerdasan yang rendah dan mengalami gangguan emosional. Ibu yang melakukan incest terhadap anak laki-lakinya cenderung didorong oleh keinginan adanya figur ‘pria lain’ dalam kehidupannya, karena kehadiran suami secara fisik maupun emosinal dirasakan kurang sehingga ia berharap anak laki-lakinya dapat memenuhi keinginan yang tidak didapatkan dari suaminya. Kasus ini jarang didapati, terutama karena secara naluriah wanita cenderung memiliki sifat mengasuh dan ‘melindungi’ anak.
  3. Saudara kandung sebagai pelaku. Kakak korban yang melakukan penganiayaan seksual biasanya menirukan perilaku orang tuanya atau memiliki keinginan mendominasi/menghukum adiknya. Selain itu, penganiayaan seksual mungkin pula dilakukan oleh orang tua angkat/tiri, atau orang lain yang tinggal serumah dengan korban, misalnya saudara angkat.

Akibat Incest

Ada beberapa akibat dari perilaku incest ini, khususnya yang terjadi karena paksaan. Diantaranya adalah:
  1. Gangguan psikologis. Gangguan psikologis akibat dan kekerasan seksual atau trauma post sexual abuse, antara lain : tidak mampu mempercayai orang lain, takut atau khawatir dalam berhubungan seksual, depresi, ingin bunuh diri dan perilaku merusak diri sendiri yang lain, harga diri yang rendah, merasa berdosa, marah, menyendiri dan tidak mau bergaul dengan orang lain, dan makan tidak teratur.
  2. Secara medis menunjukan bahwa anak hasil dari hubungan incest berpotensi besar untuk mengalami kecatatan baik fisik ataupun mental.
  3. Akibat lain yang cukup meresahkan korban adalah mereka sering disalahkan dan mendapat stigma (label) yang buruk. Padahal, kejadian yang mereka alami bukan karena kehendaknya. Mereka adalah korban kekerasan seksual. Orang yang semestinya disalahkan adalah pelaku kejahatan seksual tersebut.
  4. Berbagai studi memperlihatkan, hingga dewasa, anak-anak korban kekerasan seksual seperti incest biasanya akan memiliki self-esteem (rasa harga diri) rendah, depresi, memendam perasaan bersalah, sulit mempercayai orang lain, kesepian, sulit menjaga membangun hubungan dengan orang lain, dan tidak memiliki minat terhadap seks.
  5. Studi-studi lain bahkan menunjukkan bahwa anak-anak tersebut akhirnya ketika dewasa juga terjerumus ke dalam penggunaan alkohol dan obat terlarang, pelacuran, dan memiliki kecenderungan untuk melakukan kekerasan seksual kepada anak-anak.

Upaya Mengatasi Incest

Untuk menghindari terjadinya incest yang baik disertai atapun tidak disertai kekerasan seksual, perlu dilakukan tindakan sebagai berikut:
  1. Memperkuat keimanan dengan menjalankan ajaran agama secara benar. Bukan hanya mengutamakan ritual, tetapi terutama menghayati nilai-nilai yang diajarkan sehingga menjadi bagian integral dari diri sendiri. Hal ini dapat dicapai dengan penghayatan akan Tuhan sebagai pribadi, sehingga relasi dengan Tuhan bersifat “mempribadi”, bukan sekadar utopia yang absurd.
  2. Memperkuat rasa empati, sehingga lebih sensitif terhadap penderitaan orang lain, sekaligus tidak sampai hati membuat orang lain sebagai korban.
  3. Mengisi waktu luang dengan kegiatan kreatif-positif.
  4. Menjauhkan diri dan keluarga dari hal-hal yang dapat membangkitkan syahwat.
  5. Memberikan pengawasan dan bimbingan terhadap anggota keluarga, sehingga dapat terkontrol.
  6. Memberikan pendidikan seks sejak dini, sesuai dengan usia anak.

Masturbasi dan Onani Menurut Hindu

MASTURBASI DAN DAYA SPIRITUAL

Tidak banyak kalangan spiritual Hindu yang membicarakan masalah masturbasi, yang notabene merupakan masalah pelik bagi remaja. Kegamangan ini menyebabkan kalangan remaja Hindu mengalami anomi yang tidak berujung-pangkal. Sementara ahli-ahli agama lain marak membicarakan perilaku seksual ini. Saudara kita di Islam misalnya, telah menerbitkan buku berjudul ONANI yang membedah perilaku masturbasi dalam hukum agama mereka. Saudara Kristen telah membuka blog khusus yang membahas tentang masturbasi dalam kepercayaan mereka. Agama-agama tersebut dengan jelas melarang kegiatan tersebut, lalu bagaimana kepastian agama Hindu? Masturbasi bukan lagi hal yang tabu dan harus dibicarakan khusus dalam suatu forum antarkaum sejenis. Namun masturbasi, tidak dielakkan lagi sudah menjadi sebuah tren bagi remaja, bahkan hingga orang dewasa. Ada hal menarik yang patut menjadi pembicaraan semua kalangan spiritual Hindu mengenai masturbasi, yaitu apakah hal ini dilarang atau tidak dalam Hindu, mengingat pertimbangan-pertimbangan lain seperti seks bebas yang membuktikan bahwa remaja semakin tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Jika masturbasi memang dilarang, apa penyebabnya? Jika tidak, mengapa? Adakah sumber sastra yang mengatur hal ini? Satu lagi, jika sastra tidak memperbolehkan hal ini untuk dilakukan, bagaimana dengan fenomena masturbasi sebagai pengganti seks bebas? Bukankah jika kita pertimbangkan dengan akal sehat, masturbasi akan lebih baik dilakukan daripada seorang remaja harus menyia-nyiakan masa depan dengan seks bebas?

MENGAPA MASTURBASI?

Setiap manusia akan memasuki tahap-tahap perkembangan. Tahapan perkembangan tersebut dimulai ketika ia dilahirkan hingga mencapai tahapan perkembangan dewasa (25 tahun ke atas). Perkembangan-perkembangan dalam diri manusia meliputi seluruh aspek diri manusia, seperti fisik, emosi, intelegensi, dan seksualitas. Perkembangan yang cukup menyolok terjadi ketika remaja baik perempuan dan laki-laki memasuki usia antara 9 sampai 15 tahun (masa remaja awal). Pada saat itu manusia tidak hanya tumbuh menjadi lebih tinggi dan lebih besar saja, tetapi perubahan-perubahan juga terjadi di dalam tubuh yang memungkinkan untuk bereproduksi atau berketurunan. Perubahan ini dikenal dengan perkembangan seksualitas.
Dalam perkembangan seksualitas, manusia akan memiliki dorongan seks sebagai hasil reaksi hormon-hormon seks dalam tubuh. Dorongan seks adalah keinginan untuk melakukan hubungan seksual yang sering disebut sebagai birahi. Dorongan seks memerlukan pemuasan, yaitu dengan melakukan hubungan seks. Dalam kehidupan manusia yang dilandasi agama, moral, dan nilai-nilai masyarakat, hubungan seksual hanya boleh dilangsungkan ketika seseorang telah menikah (meskipun dewasa ini aturan seperti ini cenderung dilanggar). Untuk memuaskan dorongan seksual tersebut, banyak yang melakukan rangsangan sendiri yang disebut masturbasi.
Menurut BKKBN, masturbasi diartikan sebagai perilaku merangsang diri sendiri untuk memperoleh kenikmatan seksual. Demikian halnya menurut Wikipedia yang menyatakan bahwa masturbasi adalah rangsangan disengaja yang dilakukan pada organ alat kelamin untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual. Masturbasi biasa dilakukan, khususnya oleh remaja baik laki-laki maupun perempuan. Namun demikian menurut penelitian, laki-laki lebih banyak melakukan masturbasi dari pada perempuan. Hal ini terjadi karena bagian alat kelamin laki-laki sebagian besar berada di luar tubuh, seperti penis dan skrotum. Sementara pada perempuan lebih merupakan organ dalam seperti rahim dan indung telur. Keadaan ini memudahkan laki-laki untuk merangsang alat kelaminnya sendiri. Sebuah penelitian menyatakan bahwa 95% laki-laki dan 89% perempuan pernah melakukan masturbasi.
Thomas Szasz, seorang psikolog Amerika kelahiran Hongaria menyatakan bahwa masturbasi pada abad ke-19 adalah penyakit, namun pada abad 20 adalah pengobatan. Ini dapat dimengerti karena pada abad 20 penyakit kelamin sudah semakin merajalela seiring dengan semakin maraknya seks bebas. Karena itu, masturbasi yang memang adalah salah satu jalan pemuasan dorongan seksual menjadi sebuah alternatif yang aman. Menurut ilmu kedokteran, perilaku ini bukanlah perilaku seksual menyimpang. Namun, orang-orang yang melakukannya (khususnya remaja) sering merasa bahwa masturbasi dapat mengundang datangnya hal-hal buruk pada diri yang bersangkutan. Selain itu, masturbasi konon dapat menurunkan daya ingat. Banyak remaja yang setelah bermasturbasi muncul perasaan bersalah dan berdosa dalam pikiran mereka. Sebagian kalangan berpendapat hal tersebut hanya perasaan seseorang sebagai akibat benturan antara dorongan seksual dengan norma-norma agama yang tidak perlu dirisaukan. Ini berakibat pada pemahaman tentang masturbasi sebagai perilaku yang boleh saja dilakukan tanpa memandang akibatnya.
Sebaiknya, agar tidak memunculkan perilaku yang membabi buta, mitos-mitos masturbasi tersebut perlu dikaji ulang. Bagi Hindu sendiri, setiap perbuatan manusia, baik disengaja maupun tidak akan membawa akibatnya sendiri. Akibat yang akan diterima tidak hanya dari segi fisik saja, tetapi juga dari aspek spiritual (kejiwaan). Masturbasi sebagai sebuah perbuatan juga pasti akan mendatangkan akibat secara fisik dan spiritual. Oleh karena itu, ada baiknya perilaku masturbasi ini dikaji kembali dari sudut pandang spiritual.

BAGAIMANA SEBENARNYA HINDU MENANGGAPI HAL INI?

Tidak diragukan lagi bahwa Veda adalah kitab suci terlengkap di jagad raya. Veda merangkum segala pengetahuan yang diperlukan manusia untuk mengarungi kehidupan materi maupun rohani. Veda menguraikan segala hal dari Tuhan yang suci dan absolut hingga bagaimana memuaskan diri dalam Vatsyayana Kamasutra. Jika metode seks saja ada dalam Veda Smrti Kamasutra, bagaimana katalog masturbasi bisa tidak muncul?
Veda, khususnya pada kitab Sutra banyak membahas permasalahan seks, namun sangat sedikit membahas tentang masturbasi. Hal ini memunculkan istilah Hindu yang diam terhadap perilaku masturbasi. Namun sesedikitnya sumber mengenai hal ini, ada beberapa rujukan sastra mengenai masturbasi seperti yang terdapat dalam Manava Dharmasastra bab II sloka 180 yang menyatakan bahwa perilaku masturbasi sama dengan menyia-nyiakan kelaki-lakikan.
Ekah shayita sarvatrana
retah skandayet kvacit;
Kamaddhi skandyan reto
hinasti vratam atmanah. (Manava Dharmasastra II.180)
Hendaknya ia (siswa) tidak sendirian, tidak pernah menyia-nyiakan kelaki-lakiannya. Karena yang dengan sengaja menyia-nyiakan kelakiannya (onani) adalah melanggar pantangan.
Dari uraian sloka di atas, jelas-jelas Dharmasastra tidak menganjurkan perilaku masturbasi khususnya bagi siswa yang sedang menuntut ilmu, walaupun masturbasi menurut sastra tidak sama dengan hubungan seks. Aturan yang hampir sama juga disampaikan dalam Visnu Dharmasastra bab XXVIII sloka 48. Dengan demikian, jelaslah bahwa Hindu tidak diam ketika berhadapan dengan masalah masturbasi. Agama Hindu tidak melarang dengan tegas kegiatan masturbasi, tetapi juga tidak menganjurkan. Inilah salah satu keunikan Hindu. Ia tidak pernah memaksa umatnya untuk terpaku ke dalam dogma-dogma. Hindu memberikan kebebasan kepada pemeluknya asalkan sang pemeluk ingat dan sadar akan akibat dari setiap perbuatannya. Agama Hindu mendidik umatnya tidak dengan aturan ketat dan sanksi-sanksi dalam kitab suci, tetapi mendidik dengan membibing umatnya untuk belajar dari akibat perbuatan sebelumnya. Inilah sebenarnya yang disebut pendidikan karma phala. Hindu membimbing umatnya untuk maju selangkah demi selangkah ke level kesadaran akan baik-buruk perbuatan dengan mengajak umat belajar dari memetik langsung akibat perbuatannya. Dengan demikian, kesadaran baik-buruknya perbuatan akan tertanam di hati umat, sehingga umat akan melaksanakannya dengan kesadaran hati, bukan karena iming-iming surga dan takut neraka. Dalam kitab sucinya,Hindu memberikan penjelasan-penjelasan mendalam mengenai konsekuensi jika seseorang melakukan suatu perbuatan. Selanjutnya, ia menyerahkan sepenuhnya kepada umat: apakah perbuatan itu akan dilakukan atau tidak berdasarkan risiko-risiko tersebut?
Hal yang sama berlaku pula dalam perilaku masturbasi. Inilah yang menimbulkan prasangka bahwa Hindu dikatakan diam ketika berhadapan dengan permasalahan masturbasi. Padahal, Hindu sedang mendidik dengan cara lain. Di saat orang-orang menutup telinganya terhadap nasihat-nasihat yang baik, mereka setidaknya akan tahu makna nasihat-nasihat tersebut dengan mengalami dan merasakan akibatnya sendiri. Dengan itu, ia akan tahu mana yang patut dilakukan dan mana yang tidak.
Terkait dengan masturbasi, terdapat beberapa konsekuensi yang perlu diperhatikan sebelum perbuatan tersebut terlanjur dilakukan:
  1. Seorang siswa remaja dituntut untuk mengoptimalkan ojas shakti atau kekuatan pikiran yang nantinya sangat berguna dalam menuntut ilmu. Ojas shakti adalah kekuatan mental yang mana dengan meningkatkan kekuatan tersebut, seseorang akan memiliki daya ingat yang luar biasa dan dapat menerima energi-energi spiritual yang suci. Ketika seseorang bermasturbasi dan mengalami orgasme, tubuh akan menghabiskan banyak energi. Orgasme ini akan bermanfaat apabila terjadi pada saat hubungan kelamin yang sah antara suami dan istri. Namun dalam masturbasi, orgasme hanya membuang-buang tenaga. Ketika peristiwa orgasme terjadi, ojas shakti atau energi pikiran ikut terkuras. Maka dari itu, setelah orgasme baik pada saat masturbasi atau hubungan seks, umumnya seseorang mengalami keletihan fisik dan mental. Keletihan fisik terjadi karena kontraksi otot daerah kelamin membutuhkan energi sebanding dengan energi yang dibutuhkan pemain tenis dalam dua set pertandingan. Keletihan mental terjadi karena terkurasnya ojas shakti. Terkurasnya ojas shakti menyebabkan kemunduran dalam daya ingat. Terkurasnya ojas shakti juga menyebabkan cahaya (aura) spiritual di badan memudar dan rasa percaya diri yang menurun. Sekalipun ojas shakti dapat meningkat kembali, itu memerlukan usaha secara spiritual dengan meditasi, japa, kirtanam (bhajan), sembahyang, dan diet makanan seimbang.
  2. Mengenai masturbasi sebagai penyia-nyiaan terhadap kelaki-lakian mungkin dapat dikaitkan dengan peristiwa orgasme. Dalam sastra dikenal adanya pengekangan terhadap nafsu kelamin (upasthanigraha). Kelamin hendaknya tidak dipermainkan sembarangan karena melalui penggabungan antara dua kelamin (purusha-pradhana) akan terbentuk kehidupan. Jadi, hendaknya kelamin sebagai lambang kehidupan dan regenerasi tidak diperlakukan sembarangan. Dalam alat kelamin terdapat unsur pembentuk kehidupan yaitu air mani pada laki-laki dan sel telur pada perempuan. Dalam air mani terkandung jutaan sel sperma yang dalam setiap sel terdapat jiwa yang menghidupinya. Air mani juga merupakan lambang kelaki-lakian yang berfungsi membuahi sel telur. Ketika seseorang bermasturbasi dan mengalami orgasme, air mani yang keluar akan tersia-siakan. Itu berarti lambang-kelaki-lakian juga disia-siakan. Selain itu, air mani mengandung jiwa-jiwa yang hidup, dengan demikian jiwa-jiwa cikal-bakal benih kehidupan tersebut juga terbuang percuma.
  3. Meskipun tidak disamakan dengan hubungan seksual, pengeluaran air mani semasa brahmacari dikatakan melanggar pantangan. Pantangan yang dimaksud adalah pantangan bagi seorang wajib belajar untuk tidak menghumbar nafsu.
  4. Dalam sebuah situs Ayurveda, masturbasi memang merupakan perilaku yang menyehatkan, sama seperti seks dalam Kamasutra. Namun, apa yang berlebihan pasti tidak baik. Masturbasi berlebihan dapat meningkatkan kinerja saraf simpatik dan memperbanyak produksi zat neurotransmiter berupa asetilkolin, dopamin, dan serotonin. Peningkatan jumlah hormon seks juga akan terjadi. Apabila masturbasi terus-menerus dilakukan, akan terjadi perubahan kimiawi besar-besaran dalam tubuh. Perubahan kimiawi tersebut menimbulkan gejala pusing, rasa lelah yang terus-menerus, penurunan daya ingat, sakit pinggang, kerontokan rambut, impotensi, ejakulasi dini, pengelihatan yang buruk, sakit pada testis atau pada selangkangan, serta sakit pada pinggul dan tulang ekor.

Pemerian tentang risiko masturbasi di atas dikaji dari segi spiritual-religius. Secara ilmu kesehatan modern, masturbasi juga dapat menyebabkan penyakit kelamin walaupun telah dinyatakan bahwa masturbasi adalah tindakan yang aman. Dr. Sjaiful Fahmi Daili, Sp.K.K dalam wawancara dengan tabloid Hai menyatakan bahwa penyakit yang muncul akibat masturbasi dapat berupa penyakit infeksi dan alergi. Penyakit infeksi timbul karena perilaku masturbasi yang tidak bersih, seperti penggunaan alat-alat yang tidak higienis dan cara bermasturbasi yang beresiko menyebabkan luka pada alat kelamin. Alergi biasanya timbul karena penggunaan zat-zat yang tidak cocok dengan kulit sebagai “pelumas”.
Demikian beberapa konsekuensi dari masturbasi yang dapat dihimpun dari berbagai sumber sastra Hindu maupun dari literatur kesehatan modern. Sekarang keputusan ada pada para umat untuk menyikapinya. Satu hal yang perlu mendapat perhatian bagi kita semua adalah bahwa setiap perbuatan dalam kehidupan di dunia material pasti membawa konsekuensinya masing-masing. Setiap perbuatan pasti memiliki isi baik dan buruk, tergantung dalam situasi dan waktu yang bagaimana kita melakukan perbuatan tersebut. Seorang tentara yang membunuh musuh yang mengancam keselamatan suatu negara adalah perbuatan benar dan berpahala besar meskipun membunuh itu dilarang. Namun, seseorang yang membunuh rekannya karena marah adalah sebuah dosa besar. Demikian pula masturbasi. Memang benar masturbasi dapat menjadi perbuatan yang dianjurkan dan dapat pula dilarang karena dosa. Semuanya tergantung bagaimana dan pada saat apa perbuatan tersebut dilakukan. Jika seseorang dihadapkan kepada seks bebas yang penuh risiko dan merusak masa depan, sekiranya masturbasi dapat dilakukan sebagai pengganti demi mencegah perbuatan yang lebih merusak itu. Dikatakan dalam itihasa, bahwa setiap manusia tidak sempurna, jadi pasti akan juga pernah masuk neraka. Namun sekarang kita jelas bisa menebak neraka mana yang lebih mengerikan: neraka yang akan dikunjungi akibat seks bebas atau akibat masturbasi?
Sekalipun demikian, hendaknya kita tidak menjadikan masturbasi sebagai suatu kebiasaan. Banyak orang yang melampiaskan segala sesuatu dengan masturbasi, dan itu bisa dikatakan melanggar aturan. Lama-kelamaan, perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan dan menyebabkan bertambahnya papa atau dosa kita yang dapat menjerumuskan kita ke tingkatan kehidupan yang lebih rendah. Selain itu, masturbasi juga membuang-buang waktu yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk berkreasi secara positif. Kita sebagai manusia, yang dianugerahi kelebihan oleh Yang Kuasa hendaknya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Sedapat mungkin, (walaupun kita memiliki otoritas dalam berbuat yang terbaik buat kita) masturbasi dan juga seks bebas dihindari demi peningkatan mutu kehidupan fisik-spiritual dalam mencapai kebahagiaan materi dan rohani (jagadhita dan moksha).

MENGURANGI KEBIASAAN

MENGAPA SAAT PURNAMA DAN TILEM?

Masa remaja dikatakan masa di mana seorang anak berada dalam masa yang serba labil. Emosi, fisik, kepribadian, intelegensi, bahkan dorongan seksual pun sangat labil pada masa ini. Ini disebabkan oleh hormon seksual yang mulai diproduksi oleh tubuh mengalami penyesuaian. Remaja mulai belajar menerima dirinya yang sedang mengalami perubahan, termasuk mulai mengeksplorasi dirinya. Terkait dengan eksplorasi tubuh, organ seks adalah obyek yang mendapat perhatian khusus. Diperkuat oleh dorongan seksual, remaja khususnya akan mulai menjelajahi dan mengenal fungsi organ-organ seksnya. Tidak jarang eksplorasi yang tanpa pemetaan yang benar itu berbuah kehamilan di luar nikah, prostitusi, dan aborsi. Inilah salah satu hal dari perkembangan remaja yang perlu mendapat perhatian pranata sosial untuk ditindaklanjuti.
Pengekangan terhadap dorongan nafsu adalah hal yang tidak mudah dilakukan, bahkan oleh orang suci sekalipun. Seseorang dalam mengekang hawa nafsunya melakukan berbagai cara, mulai dari meditasi, puasa, kirtanam, japa, menyiksa diri, hingga memotong alat kelaminnya sendiri seperti kasus yang dilakukan seorang pendeta Budha di Thailand tahun 2006 lalu. Pengekangan terhadap hawa nafsu juga hendaknya menjadi fokus utama bagi seorang Brahmacari. Tidak hanya bagi brahmacari, seluruh manusia dianjurkan oleh sastra untuk mengekang hawa nafsu, karena dari nafsu muncul loba, dari loba (ketamakan) muncul kemarahan. Ketiganya adalah pintu masuk VIP ke neraka.
Kemunculan hawa nafsu memang tidak dapat ditebak. Nafsu selalu ada dalam diri sebagai musuh terbesar yang harus ditaklukkan manusia seperti yang dinyatakan dalam Kakawin Ramayana karya Mpu Yogiswara. Nafsu akan terus ada, namun ia seperti gelombang. Kadang nafsu sangat besar, namun beberapa saat kemudian turun dan mereda kembali. Demikian pula dorongan seksual. Setiap makhluk memiliki dorongan seksual, namun anehnya manusia memiliki potensi yang lebih besar untuk terhanyut di dalamnya. Jika hewan menggunakan dorongan seksualnya hanya untuk berkembang biak, manusia menggunakannya juga untuk kesenangan.
Sebenarnya, tinggi-rendahnya dorongan seksual (libido) selain oleh situasi dalam diri, dipengaruhi juga oleh keadaan alam. Filsafat Hindu menguraikan tentang hubungan yang erat antara manusia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos). Apa yang terjadi di makrokosmos terjadi pula di mikrokosmos. Jika makrokosmos mengalami kerusakan, maka kerusakan juga menjalar pada mikrokosmos. Nafsu dan libido seksual juga dipengaruhi oleh keadaan makrokosmos, yaitu oleh keberadaan bulan. Hal ini diperkuat oleh beberapa remaja yang pernah melakukan masturbasi yang mengaku dorongan seks mereka memuncak ketika purnama dan tilem. Demikian pula pada saat hari-hari rerahinan seperti kajeng kliwon dan tumpek. Hal ini memang masuk akal jika dikaji berdasarkan hubungan makro-mikro tadi.
Bulan menurut kajian Hindu memang benar dapat memengaruhi pikiran manusia, seperti yang dipaparkan Niken Tambang Rara dalam bukunya “Purnama Tilem: Rahasia Kasih Rwa Bhineda” sebagai berikut:
Bulan Purnama dan Bulan Tilem juga sering diistilahkan dengan hati atau pikiran manusia yang sedang menyusut dan terang-benderang. Dengan perumpamaan yang berbasis pada kekuatan kala (waktu). Bulan disimboliskan dengan Ketua Dewatanya pikiran (Candrama Manaso Jatah). Itulah sebabnya terkadang hati dan pikiran seseorang bisa menyamai sifat-sifat kedewataan. Jadi bisa dikatakan bahwa, jika pikiran seseorang sedang keruh, dirasuki oleh sifat-sifat angkara murka, maka diistilahkan Bulan Dewatanya sedang menyusut menuju dapa kegelapan (Tilem) (Niken Tambang Raras, 2004 : 12).
Susutnya bulan, atau periode menuju bulan mati (sering disebut krsnapaksa) memiliki pengaruh terhadap penyusutan pikiran manusia. Sebaliknya pada saat periode menuju pulan purnama (suklapaksa) memengaruhi pikiran menjadi lebih ekstrem. Pada saat bulan mati (tilem), pikiran yang menyusut menjadi kosong dan akan dengan sangat mudah dirasuki oleh pengaruh sadripu. Oleh karena itu, pada saat Tilem seseorang dianjurkan untuk mengingat nama Tuhan. Sedangkan pada saat purnama, apa yang dipikirkan akan berlipat ganda kekuatannya. Jika seseorang memikirkan Tuhan, maka pikirannya itu akan menjadi semakin kuat, sebaliknya jika ia memikirkan hal-hal buruk, keburukan juga akan berlipat ganda dalam pikirannya.
Kekuatan sinar bulan yang demikian kuat memengaruhi pikiran menjadi alasan mengapa dua orang yang sedang jatuh cinta dilarang bertemu dan berkasih-kasihan pada saat malam bulan purnama. Perasaan cinta tersebut akan berlipat ganda menjadi nafsu yang menggebu-gebu, dan akhirnya dapat berakibat terjadinya hal mesum. Tidak hanya pasangan yang belum menikah, pasangan suami-istri pun dilarang tidur dalam satu kamar pada saat purnama dan tilem karena kesucian hari akan tercemar apabila terjadi persetubuhan. Dari hasil persetubuhan yang salah waktu tersebut akan lahir anak yang cacat, penyakitan, dan berperilaku jahat (kuputra) karena pembuahan terjadi di waktu yang tidak tepat. Kitab Sarasamuccaya dan Manava Dharmasastra adalah contoh sastra yang mengatur hari-hari yang tepat dan tidak tepat melakukan hubungan seksual agar tercipta keturunan yang suci.
Peningkatan libido pada saat bulan purnama dan tilem secara ilmiah mungkin dapat dijelaskan seperti ini. Tubuh manusia terdiri atas 70% air yang berbentuk darah, cairan tubuh, keringat, enzim, dan air seni. Seperti air pada makrokosmos, air dalam tubuh manusia pun dapat ditarik oleh gaya gravitasi bulan. Ketika bulan purnama, air di pesisir pantai barat akan pasang, sementara air di pesisir pantai timur akan surut. Pengaruh tersebut terjadi juga terhadap air di tubuh manusia. Gravitasi bulan dapat memengaruhi sistem hormon dan sirkulasinya dalam tubuh. Jika sistem hormon terangsang dan dipengaruhi juga oleh pikiran, timbullah dorongan-dorongan baik positif maupun negatif. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika libido memuncak pada bulan purnama dan tilem. Ketika pengendalian diri tidak ada, seseorang akan mencari cara untuk memuaskannya, seperti dengan bermasturbasi.
Bagaimanapun juga, nafsu yang terlalu besar perlu dikurangi, termasuk melakukan masturbasi. Bermasturbasi pada hari purnama, tilem, dan rerahinan lain dapat menodai kesucian diri sendiri selain menodai kesucian hari. Hendaknya purnama dan tilem diisi dengan pemikiran-pemikiran tentang Tuhan dan hal-hal yang suci. Biasakanlah mengucapkan nama Tuhan berulang-ulang (namasmaranam), meditasi, berjapa, atau menyanyikan kidung pada hari-hari seperti itu. Satu hal lagi, alangkah baiknya bila persembahyangan bersama di pura saat purnama dan tilem tidak dilakukan bersama pacar.
Berdasarkan uraian di atas tentang gejolak nafsu dalam hubungannya dengan kekuatan bulan serta risiko-risiko melakukan perbuatan kotor pada hari-hari itu, ada beberapa solusi untuk menenangkan dorongan nafsu:
  1. Berpuasalah pada purnama dan tilem. Para yogi menyarankan agar seseorang melakukan puasa ketika purnama dan tilem. Pada saat itu sistem ritmik tubuh terganggu, sehingga perlu diseimbangkan dengan jalan berpuasa.
  2. Biasakan mengidungkan nama Tuhan pada hari-hari tersebut. Nama-nama Tuhan sangat banyak jumlahnya, dan dapat dipilih sesuai keinginan.
  3. Mulailah hari dengan mengucapkan nama Tuhan. Ketika bangun pagi, ucapkan sebuah-dua buah nama Tuhan. Ini adalah suatu kepercayaan yang mana jika hari dimulai dengan kesucian, maka kesucian itu akan berpengaruh dalam satu hari itu.
  4. Hindari memikirkan, membicarakan, atau melakukan hal-hal kotor.
  5. Bersembahyang dengan ikhlas. Jangan bersembahyang jika tidak ada minat bersembahyang. Lebih baik mengidungkan lagu-lagu suci.
  6. Lakukanlah meditasi.
  7. Buatlah komitmen untuk bertahan dari gejolak nafsu. Ucapkan komitmen untuk bertahan tersebut pada saat purnama sehingga kekuatannya meningkat.
Masih ada beberapa cara lain untuk mencegah bergejolaknya nafsu. Cara itu dapat berupa mengontrol makanan dengan diet vegetarian, memperbanyak minum air murni, dan jika memungkinkan ikutlah dalam kursus-kursus meditasi dan yoga.
Pada dasarnya, hal terpenting dari pengendalian dorongan bermasturbasi bukan terletak pada seberapa sering kita mengucapkan doa, berpantang makanan, dan melakukan olah raga, tetapi yang paling diperlukan dalam mengekang nafsu untuk bermasturbasi adalah komitmen. Veda menyatakan bahwa pikiran adalah rajendriya, yaitu penggerak segala indriya. Pikiran menjadi pusat kontrol segala aktivitas indera, termasuk konrol nafsu dan keinginan. Oleh karena itu, jalan terbaik adalah dengan memusatkan pikiran dan menjauhkannya dari hal-hal yang dapat membangkitkan dorongan nafsu. Namun perlu diingat bahwa tidak selamanya nafsu itu merugikan. Nafsu justru akan sangat berguna dalam meniti kehidupan. Hanya saja, nafsu harus dikekang dan ditundukkan, jangan sampai kita sendiri yang ditundukkan oleh nafsu.


RITUAL UNTUK  PRAYASCITTA

Ritual prayascitta adalah ritual penyucian diri secara jasmani dan rohani. Ritual prayascitta tidak hanya dilakukan untuk menyucikan benda-benda dan alam, tetapi manusia pun perlu dibersihkan. Manava Dharmasastra menyatakan bahwa tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, jiwa dibersihkan dengan ilmu dan tapa, kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan. Pembersihan unsur-unsur diri ini sangat penting karena manusia perlu meningkatkan kesuciannya agar dapat lebih mendekatkan diri dengan Tuhan.
Beberapa kitab Dharmasastra seperti Manava Dharmasastra dan Visnu Dharmasastra serta kitab Bhagavatam mengutarakan mengenai ritual-ritual penyucian bagi seorang siswa yang telah mengeluarkan air maninya. Kitab Bhagavatam menganjurkan siswa tersebut melakukan pemandian sebelum mengikuti pelajaran lagi, sementara Visnu Dharmasastra (bab XXVIII sloka 48 dan 49) menganjurkan prayascitta khusus bagi seorang siswa yang  melakukan persetubuhan dalam masa belajarnya untuk mengemis ke tujuh rumah dengan mengenakan pakaian dari kulit keledai sambil mengakui perbuatannya. Tentunya dosa-dosanya tidak hilang sepenuhnya dengan jalan seperti itu. Bagaimanapun, bersetubuh sebelum menikah adalah sebuah dosa besar.
Sementara Manava Dharmasastra bab II sloka 181 menguraikan tentang ritual penyucian yang harus dilakukan oleh seorang siswa yang mengalami mimpi basah.
Svapne siktva brahmacari
dvijah shukramakamatah;
Snatvarkamarcayitva trih
Punarmamityrcam japet.
Seorang siswa dwijati yang dengan tidak sengaja telah menyia-nyiakan kelaki-lakiannya pada waktu tidur, harus memuja Sang Hyang Surya dan kemudian tiga kali mengucapkan mantra Rik yang mulai dengan ucapan “berikanlah kekuatanku kembali lagi kepadaku”.
Dalam sloka di atas terdapat kata siswa dwijati. Siswa dwijati dapat diartikan siswa yang telah diwinten melalui upacara Upanayana. Siswa yang beragama Hindu dewasa ini biasanya diwinten secara massal ketika pertama kali bersekolah, yaitu bertepatan dengan acara matur piuning di parahyangan sekolah. Mantra Rik yaitu mantra yang terdapat dalam Rigveda, yang kita ketahui adalah Mantra Gayatri yang terdapat dalam Rigveda Mandala III, sukta 62, mantra 10. Kita kenal juga Gayatri mantra sebagai mantra pertama dalam trisandhya. Kekuatan yang diminta kembali mungkin dapat diartikan sebagai ojas shakti. Dikatakan bahwa Surya dan energinya yaitu Savita adalah dewata penguasa ojas shakti dan dipuja melalui mantra-mantra Rig khususnya Gayatri Mantram. Gayatri ditujukan kepada aspek Savita, atau cahaya Tuhan yang mengandung energi spiritual.
Demikian beberapa penjelasan dan paparan mengenai masturbasi dalam Hindu. Semoga tulisan ini berguna untuk semuanya. Literatur Hindu mengenai masturbasi sangat minim, sehingga tulisan ini pun perlu perbaikan agar menjadi lebih baik dan lebih sempurna. Namun sebuah usaha kecil sangat berarti daripada diam berpangku tangan.

REFERENSI BUKU

  • Puja, Gede. Sarasamuccaya. —. Mayasari, 1979.
  • Puja, Gede dan Tjokorda Rai Sudharta, M.A, Manawa Dharmasastra (Manu Dharma Sastra) atau Weda Smrti Copendium Hukum Hindu. Jakarta. Pemda Tingkat II Badung, 1995
  • Partia, I Gusti Rai. Berbuat Baik Belum Tentu Benar. Denpasar. Bali Post, 2002.
  • Raras, Niken Tambang. Purnama Tilem: Rahasia Kasih Rwa Bhineda. Surabaya. Paramita, 2004.
  • Titib, I Made. Beragama Bukan Hanya di Pura. XXX. XXX, 1998.

Oleh I.B. Arya Lawa Manuaba

Seksologi ala Kamasutra

Pendahuluan

Seks merupakan satu kebutuhan manusia, di samping juga binatang. Untuk memenuhi kebutuhan terhadap pemenuhan kebutuhan dorongan nafsu seksual bagi umat manusia yang berbudaya, maka lembaga perkawinan merupakan pranata sosial yang secara formal dibenarkan baik oleh ajaran agama maupun hukum yang berlaku di masyarakat. Seseorang tidak dibenarkan untuk menghumbar hawa nafsu seksnya di sembarang tempat. Dalam kehidupan keluarga dan dalam ikatan suami istri, kitab hukum Hindu, yakni kitab Manavadharmasastra mengamanatkan untuk tidak jemu-jemunya mengikatkan tali perkawinan.
Pendidikan seksologi secara formal tidak pernah diselenggarakan di lembaga pendidikan, demikian pula dalam keluarga, sehingga informasi tentang seks tidak banyak diketahui oleh generasi muda. Informasi tentang seks diperoleh melalui buku atau media massa. Akibat dari kurangnya informasi tentang seks (seksologi) maka sering terjadi penyimpangan prilaku utamanya di kalangan generasi muda yang umumnya memiliki keperibadian yang cenderung tertutup atau kurang berkomunikasi dengan teman sebaya, dengan guru, orang tua dan tokoh-tokoh masyakat melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma kesusilaan, hukum, dan ajaran agama.
Dewasa ini generasi muda mengenal informasi tentang seks melalui media internet yang kadang-kadang bila tidak mampu mengendalikan diri bisa menyesatkan. Di sinilah pentingnya pendidikan seksologi yang tentu disesuaikan dengan perkembangan kepribadian anak dan metodologi yang tepat untuk itu. Pada masyarakat Bali, di beberapa desa masih ditemukan ritual kesuburan yang secara vulgar memperlihatkan sexual incource di hadapan khalayak (lihat foto terlampir), namun demikian, kemungkinan karena pembicaraan tentang seks lebih terbuka pada masyarakat tersebut, maka kasus penyimpangan seksual termasuk pemerkosaan di lingkungan masyarakat tersebut tidak pernah terjadi. Berdasarkan pengamatan sepintas tersebut, kiranya pendidikan seks perlu disampaikan kepada generasi muda dan masyarakat secara luas. Tulisan ini sesuai dengan permintaan Panitia Pertemuan Ilmiah Tahunan III Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesisa membahas Pengetahuan Seksologi ala Kamasuttra yang kiranya dapat memperluas wawasan tentang seksologi.

* Makalah disampaikan pada acara Workshop Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesisa, diselenggarakan oleh Panitia Pertemuan Ilmiah Tahunan III Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia bertempat di Agung Room Inna Grand Bali Beach Hotel Sanur, Bali.
**Prof. Dr. I Made Titib, Ph.D. Guru Besar Ilmu Veda, Fakultas Brahma Widya dan Rektor Institut Hindu Dharma Negri Denpasar, alumni Pendidikan Doktor, Vedic Department, Gurukula Kangri University, Haridwar, Uttarpradesh, India (1993) dan alumni Pendidikan Doktor Kajian Budaya, Universitas Udayana Denpasar, Bali (2005) mantan Perwira TNI-AD (1978-1985) dan Anggota DPRD Bali (1997-1999), dan kini juga sebagai Ketua PHDI Pusat Korwil Bali-Nusa Tenggara.


Seks di dalam kitab suci Veda dan Susastra Hindu

Kehidupan seksual pada zaman Veda pada umumnya adalah heteroseksual (antara laki-laki dan perempuan). Homoseksual di antara sesama lelaki dan perempuan, selengkapnya tidak dikenal dan bila mungkin ada kasus tersebut, kitab suci Veda tidak pernah menyebutkan. “In this respect ancient India was far healtier than most other ancient culture” demikian kata-kata A.L. Basham dalam bukunya The Wonder That Was India yang di kutip kembali oleh Ivo Fiser (1989:64) dan menambahkan tidak pula ada informasi tentang hubungan manusia dengan binatang (bestiofilia) yang tercatat dalam literatur Sanskerta seperti fakta yang umum pada peradaban kuna seperti halnya kehidupan para nomadic tribes di era modern ini.
Dari keterangan tersebut di atas dapat diketahui bahwa kehidupan seksual yang diamanatkan dalam kitab suci Veda adalah kehidupan seksual yang normal, antara laki-laki dan perempuan dalam ikatan perkawinan. Lebih jauh A.L. Basham (1992:172) mengatakan bahwa kehidupan seksual adalah hal yang positif sebagai tugas keagamaan, tugas suci (religius duty), yang diamanatkan pada suaminya untuk menggauli istrinya pada masa delapan hari setelah istinya menstruasi.
Ivo Fiser pada halaman yang sama di atas menyatakan: “Acccording to a later Hindu conception, the sex nature of woman was superior to that of men. In the Vedic Samhita, married woman often took initiative in the intercource and were given full credit of it
A woman (jaya) prepares her yoni for her husband (pati, filled with desire (usali) and beautifull attired (RV. IV.3.2). She gives herself to her lord willingly (RV. IX.82.4); she is the home (astam), she is the yoni (RV.III.53.4). The wives (janayah) beauty themselves (sumbhante)(RV.I.85.1) and we often find them rushing into the arms of their husbands and appearing befor them all their beauty. There also two kind woman (bhadre) caressing a man (josayete)(RV.95.6). Married woman reward a bold man (RV. I.62.10). Filled with desire, they caress (sprisanti) a desiring husband (RV. I. 6.11); they incite him as loving woman sexually incite their loves (RV.I.71.1). A wife (jaya), lying on a couch , is ready for anything (or anyone)(RV.I.66.5).  
Dalam uraian yang lain A.L. Basham (1992:172) menyatakan orang India pada umumnya, seperti halnya di belahan bumi lainya, menganut azas perkawinan monogami dan poligami tidak dikenal dalam Rigveda. Para raja dan pemimpin umumnya dalam beberapa variasi ada yang berpoligami. Dalam situasi yang normal poligami tidak dianjurkan ke dalam literatur yang lebih tua. Dalam Apastamba Dharma Sutra (II.5.11) secara tegas melarang menghamili istri yang kedua, bilamana istri pertama memiliki karakter yang baik dan melahirkan beberapa anak. Dalam Narada Dharma Sutra (I.I90) dinyatakan seseorang yang melakukan poligami tidak pantas dinyatakan untuk hadir dalam sidang pengadilan (penegakkan hukum). Dalam Arthasaatra (III.2) dinyatakan bahwa pelaku poligami dianggap ceroboh, dan keduanya diwajibkan membayar kompensasi kepada istrinya yang pertama. Yang menjadi contoh atau model perkawinan yang ideal adalah perkawinan Rama dengan dewi Sita yang sangat setia, saling mencintai, tidak pernah terusik oleh adanya istri yang kedua.
Di dalam kitab suci Veda gejala atau fenomena alam sering disimbolisasikan sebagai aktivitas seksual. Hujan sering disebut sperma, cairan mani (retah) yang menyuburkan tanah (RV. I.100.3;128.3 dst., AV. IV.15.11). Parjanya, dewa hujan disebut menyimpan spermanya pada milik istrinya yang tampak seperti sapi jantan (RV. III.55.17). Ia disebut juga retodha atau yang melahirkan semua tumbuh-tumbuhan.(RV. VII.101.6; dst.III. 56.3; AV. VIII.7.21). Ia disebut juga yang memberi kesegaran (yang memuaskan) bumi dengan spermanya. Aktivitas penciptaan alam kadang-kadang digambarkan sebagai hubungan seksual antara Dyauh (Bapak langit) dengan Prthivi (Ibu langit). Ia menjadi basah diresapi (garbharasa) dan ditusuk (nividdha) olehnya (RV. I.164.8). Ide berpasangan dalam berhubungan dinyatakan dalam bentuk kata majemuk ‘dvandva’ yakni dyavaprthivi (Fiser, 1969:44). Sesungguhnya sangat banyak gejala alam (natural phenomenal) yang digambarkan sebagai seksual intercourse yang dampaknya memberikan kesuburan kepada bumi.
Berikut kami sampaikan bagaimana pandangan kitab suci Veda terhadap seorang perempuan, istri atau wanita dan laki-laki: Seorang gadis hendaknya suci, hendaknya berbudi luhur dan berpengetahuan tinggi (AV. XI.1.27). Seorang gadis menentukan sendiri pria idaman calon suaminya (svayamvara/RV. X.27.12). Mempelai wanita sumber kemakmuran (RV. X.85.36). Seorang lelaki yang terlalu banyak mempunyai anak selalu menderita (RV. I.164.32). Terjemahan mantra ini menunjukan bahwa bila lelaki tidak merencanakan keluarganya (istrinya terlalu banyak melahirkan, atau suami banyak punya istri dan anak) tentunya sangat menderita. Pengendalian nafsu seks juga mendapat perhatian dalam kitab suci Veda. Lebih lanjut seorang wanita dituntut untuk percaya kepada suami, dengan kepercayaannya itu (patibrata), seorang istri dan keluarga akan memperoleh kebahagiaan (AV. XIV.1.42).
Dalam perkembangan ketika muncul pemujaan kepada ‘linga dan yoni’ yang diduga akarnya berasal dari masa pra–Veda, maka visualisasi ‘linga dan yoni’ baik yang tersamar (distilir) maupun yang natural dan bahkan yang vulgar mulai tampak sesudah zaman Veda dan berkembang dalam berbagai aspek budaya (seni arca, lukis) dan sebaginya.


Seks dan Pengendalian Diri

Pada manggala (bagian awal dari tulisan) ini telah dikutipkan tentang pentingnya pengendalian diri terhadap adanya dorongan nafsu seks yang sering menjerumuskan umat manusia. Berdasarkan kutipan tersebut maka penyaluran dorongan seksual hanya dibenarkan melalui lembaga perkawinan (vivaha) dan lembaga perkawinan dianggap sah bila dilakukan dengan Vivahasamskara. Perkawinan adalah sebuah upacara Yajna, demikian dikatakan dalam kitab Taittriya Brahmana (II.2.2.6) (Pandey, 1991:153). Bila terjadi hubungan seksual tanpa pelaksanaan upacara Vivahasamskara, maka hal itu tidak dianggap sebagai perkawinan yang sah. Lebih jauh tentang seks dan perkawinan diamanatkan didalam Veda dan Susastra Hindu sebagai berikut:
  • Sam jaspatyam suyamam astu devah (RV. X.85.23).

    ‘Ya, para dewata, semoga kehidupan perkawinan kami berbahagia dan tentram’
  • Asthuri no garhapapatyani santu (RV. VI.15. 19).

    ‘Hendaknyalah hubungan suami-istri kami tidak bisa putus berlangsung abadi’
  •  Sam anjantu visvedevah, samapohrdayaninau (RV X.85.42).

    ‘Semoga para dewata dan apah mempersatukan hati kami, suami-istri
  • Ihaiva stam ma vi yaustam, visvam ayur vyasnutam.
    Kridantau putrair naptrbhih, modamanau sve grhe (RV. X.85. 42).

    ‘Ya, pasangan suami-istri, semoga anda tetap disini dan tidak pernah terpisahkan. Semoga anda berdua mencapai kehidupan yang penuh kebahagiaan. Semoga anda, bermain dengan anak-anak lakimu dan cucu-cucu lakimu, tinggal di rumah ini dengan gembira.
Mantra terakhir (RV. 85. 42) tersebut di atas dapat kita jumpai kembali di dalam kitab AV. XIV. 1.22 yang menyiratkan tentang makna perkawinan untuk menwujudkan kehidupan dan kebahagiaan bersama dengan putra-putri dan cucu-cucu yang lahir dari perkawinan mempelai diamanatkan untuk bergembira dan tinggal di rumah sendiri yang menunjukkan kepada kita seseorang yang telah siap memasuki masa Grihastha (hidup berumah tangga) hendaknya dapat menyiapkan rumah sendiri, tidak tergantung kepada orang lain. Jadi sebelum memasuki Grihasthasrama, seorang Brahmacari (pemuda/layang) secara matang harus mandiri untuk nantinya dapat mewujudkan perkawinan ideal sebagai diamanatkan dalam mantra Veda di atas. Untuk itu seseorang dituntut berkerja keras sesuai dengan Dharma.
Lebih jauh tentang makna atau prinsip dasar tentang tujuan perkawinan di tegaskan dalam kitab-kitab Dharmasastra (Kantawala, 1989:89) adalah untuk mewujudkan 3 hal, yaitu:
  1. Dharamasampatti, kedua mempelai secara bersama-sama melaksanakan Dharma  yang meliputi semua aktivitas dan kewajiban agama seperti melaksanakan Yajna, sebab di dalam Grhastalah Yajna dapat dilaksanakan secara sempurna.
  2. Praja , kedua mempelai mampu melahirkan keturunan (putra-putri) yang akan melanjutkan amanat dan kewajiban kepada leluhur. Melalui Yajna dan lahirnya putra yang suputra (Berbudhi perkerti luhur) seorang anak akan dapat melunasi hutang jasa kepada leluhur (Pitrarna), kepada Tuhan Yang Maha Esa (Devarna) dan kepada para guru (Rsirna).
  3. Rati, kedua mempelai dapat menikmati kepuasan seksual dan kepuasan-kepuasan lainnya (Artha dan Kama ) yang tidak bertentangan Dharma
Berdasarkan kutipan tersebut di atas, maka perkawinan menurut kitab suci Veda dan Susastra Hindu lainnya adalah untuk mewujudkan kebahagiaan bersama lahir dan batin termasuk pula dalam pengertian memperoleh keturunan yang suputra (anak-anak dan cucu-cucu) sebagai penerus kehidupan keluarga. Lebih jauh kitab suci Veda menyatakan bahwa suami-istri itu satu jiwa dalam dua badan.Aksyau nau madhusamkasenau samanjanam,
Antah krnusva mam hrdi mana innausahasati (AV. VII.36.1).
‘Hendaknya manis bagaikan madu cinta kasih dan pandangan antara suami dan istri penuh keindahan. Semogalah senantiasa hidup bersama dalam suasana bahagia tanpa kedengkian (diantara mereka). Semoga satu jiwa bagi semuanya.’
Terhadap terjemahan mantra ini, Devi Chand (1982:299) menjelaskan: hendaknya saling mengusahakan kebahagiaan bersama seperti halnya para dokter meneliti tumbuh-tumbuhan untuk memperoleh manfaat dari tumbuh-tumbuhan itu (sebagai orang yang berguna). Demikianlah antara seorang suami dan istri senantiasa berusaha untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan sesuai Brata-Brata Vivāha (kewajiban dan pantangan-pantangan ) dalam perkawinan.
Suami dan istri hendaknya tidak jemu-jemu mengusahakan dan mewujudkan kerukunan serta kebahagiaan dalam rumah tangga diamanatkan pula dalam Manavadharmasastra sebagai berikut.
  • Tatha nityam yateyatam stripumsau tu krtakriyau,
    Ytatha nabhicaratemTau tau viyukta vitateratam. (Mdhs. IX.102).

    ‘Hendaknya lak-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan, mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya agar mereka tidak bercerai, mewujudkan antara satu dengan yang lain’.
  • Anyonyasyavy abgicaro bhaved amaranantikah,
    Esa dharmah samasena jneyah stri pumsayoh parah. (Mdhs. IX.101).

    ‘Hendaknya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya, hal ini harus dianggap hukum yang tertinggi bagi suami istri.’
  • Samtusto bharyaya bharta bhartra bharya tathaiva ca,
    Yasminn eva kule nityam kalyanam tatra vai dhruvam. (Mdhs. III.60).

    ‘Keluarga di mana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula sang istri terhadap suaminya, kebahagian pasti kekal dan abadi’
Suami dan istri diamanatkan untuk senantiasa melaksanakan kewajiban dan jalan yang benar (mengikuti hukum yang berlaku) dan memperoleh putra yang perwira, membangun rumah sediri dan hidup didalamnya:
Syonadyoneraghi budhyamanau sahamudau hasamudau
mahasa modamanau sugu suputrau suguhrau tar-thau
jivabusaso vibhatih (AV. XIV.2.43).
‘Wahai suami dan istri, hendaknya kamu berbudi pekerti yang luhur, penuh kasih sayang dan kemesraan diantara kamu. Lakukanlah tugas dan kewajibanmu dengan baik dan patuh kepada hukum yang berlaku. Turunkanlah putra-putri yang perwira, bangunlah rumahmu sendiri dan hiduplah bersuka cita di dalamnya’.
Berdasarkan uraian di atas maka pengendaliaan diri terhadap dorongan seks sangat diperlukan oleh setiap orang, terlebih lagi bagi mereka yang sedang menempuh kehidupan Brahmacarya (masa belajar)  seperti diamanatkan dalam Mahabarata (Adiparva I. 170 .71):  ‘brahmacaryam paro dharmah’ , chastify is the highest virtue or the highest law ( Meyer, 1989:258 ).
Ada hal yang sangat menarik, di Bali dapat dijumpai sebuah mantra yang popular disebut dengan nama Smarastava, Panca Kanyam.  Mantra ini terdiri dari satu bait mantram yang biasa digunakan dalam upacara kematian, dengan harapan orang yang meninggal tersebut mencapai kebahagiaan di alam baka. Menurut informant pandita Siva, mantra ini digunakan pada waktu upacara kehamilan (upacara pada saat seorang istri hamil) dan pada saat bayi berumur tiga bulan (Hooykaas, 1971:38). Berikut kami petikkan mantram Smarastava, Panca Kanya, sebagai berikut:
Ahalya Draupadi Sita, Tara Mandodari tatha.
Panca-kanyam smaren nityam, Maha-pataka-nasanam.
‘Seseorang hendaknya bermeditasi kepada 5 perempuan
mulia, yaitu : Ahalya, Draupadi, Sita, Tara dan Mandodari.
Mereka yang melakukan hal itu, segala dosanya akan dilenyapkan’.
Terhadap mantram di atas, Prof. Dr. C. Hooykaas (1971:38) memberikan penjelasan tentang kelima perempuan mulia itu, sebagai berikut: “Ahalya popular dikenal sebagai istri dari maharsi Gautama, ia melakukan perbuatan serong dengan dewa Indra dan kemudian dihukum dengan pengucilan abadi, yang kemudian diselamatkan (dibebaskan) oleh Sri Rama. Draupadi dan Sita adalah masing-masing pahlawan perempuan dalam Mahabharata dan Ramayana. Tara adalah istri Brhaspati yang dilarikan oleh Soma, dan Mandodari tercatat sebagai paling favorit dari para istri Rahvana. Kelima orang perempuan itu digambarkan secara tradisional sebagai perempuan yang sangat cantik dan menawan. Tokoh-tokoh perempuan ideal pada umumnya dari kalangan profesi Brahmana dan Ksatriya. Demikian antara lain tokoh-tokoh perempuan idieal dalam Veda dalam Susatra Hindu lainnya. Di samping tokoh-tokoh ideal di atas, terdapat juga tokoh-tokoh yang tidak patut ditiru, antara lain: Kaikeyi, Surphanaka (Titib, 1998:53) di dalam kitab Ramayana.
Di dalam kehidupan sehari-hari (di Bali), bila seorang istri dalam keadaan hamil, maka pihak keluarga suami berusaha mengadakan acara ‘Prasantian’ dan ‘dharmagita’ dengan harapan bayi dalam kandungan istrinya dapat mendengarkan (vibrasi) dan sifat-sifat mulia dan keutamaan tokoh-tokoh protagonis dari teks-teks yang dibaca. Umumnya teks-teks yang dibaca adalah Ramayana, Sarasamuscaya dan lain-lain.


Seksologi ala Kamasutra

Kamasutra adalah karya seni seorang maharsi atau pertapa bernama Vatsya, yang memiliki Guruparampara (the line teachers), yang menulis karya yang sangat terkenal bernama Vatsyayanasutra, Kamasastra atau Kamasutra (ilmu percintaan) (Mani, 1989:840). Di samping itu ia juga menganjurkan untuk mempelajari 64 cabang seni bagi seorang wanita yang ingin sempurna .
Kamasutra dimasukkan ke dalam kelompok Upaveda, yakni bagian dari Gandharvaveda (ilmu tentang seni) yang merupakan buku referensi dari kitab suci Veda. Kitab ini (Spellman,1997:IX-XII) terdiri dari 7 bagian dan pada masing-masing bagian terdapat sub-sub bagian. Bagian pertama (terdiri dari 4 bab) berisi uraian tentang pencarian Purusartha yang di Bali lebih populer dengan istilah Catur Purusa Artha yang berarti empat tujuan hidup manusia, yakni terwujudnya ajaran Dharma dalam kehidupan, diperolehnya Artha (meteri atau harta benda pendukung hidup yang diperoleh dengan jalan yang benar/Dharma), Kama (kenikmatan atau terpenuhinya dorongan nafsu yang tidak melanggar hukum/Dharma) dan Moksa (tujuan tertinggi dalam kehidupan adalah untuk mencapai kebebasan berupa kebahagiaan yang abadi. Di samping itu juga kajian terhadap 64 cabang seni ketrampilan. Tentang penataan rumah dan peralatan rumah tangga, tentang kehidupan sehari-haris seorang warga, kenalan, hiburan dan lain-lain. Juga tentang penggolongan wanita yang layak dan tidak layak bergaul dengan warga, dengan teman-temannya dan para pembawa pesan (kurir).
Bagian kedua terdiri dari 10 bab. Menjelaskan tentang hubungan seksual, jenis-jenis hubungan seks, kekuatan keinginan dan waktu, dan tentang jenis-jenis cinta kasih yang berbeda-beda. Tentang pelukan (rangkulan), ciuman, remasan atau isyarat dengan menggunakan kuku, pagutan dan cari bercinta yang diterapkan secara berbeda-beda dari dari negeri yang berbeda-beda pula, berbagai cara berbaring dan berbagai macam hubungan badan. Berbagai cara menyerang dan suara-suara yang cocok untuk mereka. Tentang wanita yang berperan sebagai laki-laki, tentang mengulum linggam (phalus) di mulut. Cara memulai dan mengakhiri hubungan badan dan rintihannya.
Bagian ketiga terdiri dari 4 bab menguraikan tentang pencarian seorang istri, pengamatan tentang pacaran dan perkawinan, penciptaan kepercayaan kepada gadis-gadis. Hal-hal yang boleh dilakukan laki-laki dalam pencarian gadis dan sebaliknya apa yang boleh dilakukan seorang gadis untuk mendekati pria dan menundukkannya, juga tentang bentuk-bentuk perkawinan tertentu.
Bagian keempat terdiri dari 2 bab yang menguraikan istri seseorang, cara hidup wanita bijak, kebiasaanya selama suaminya tidak di rumah, Tentang prilaku istri tertua terhadap istri-istri lain dari suaminya dan tentang sikap istri yang lebih muda terhadap yang lebih tua. Sikap seorang janda perawan yang kawin lagi, seorang wanita yang tidak disukai suaminya, dan seorang suami yang memiliki lebih dari seorang istri.
Bagian kelima terdiri dari 6 bab menguraikan tentang istri-istri orang lain. Ciri-ciri pria dan wanita serta alasan mengapa wanita menolak sikap pria. Tentang pria yang berhasil dengan  wanita dan tentang wanita yang gampangan. Tentang Perkenalan dengan wanita dan usaha untuk mendapatkannya. Penjajagan


Siddhi

APAKAH SIDDHI?

Kemampuan seperti ‘clairaudience’ (mendengar suara yang tak dapat didengar oleh telinga manusia normal), ‘clairvoyance’ (kemampuan untuk melihat obyek yang atidak ada didepan indrya mata), dan ‘telepathy’ (kemampuan untuk mengirim dan menerima pikiran) adalah beberapa Siddhi (occult power) yang dikenal oleh manusia. Begitu pula kemampuan untuk mengadakan dan menghilangkan sesuatu sesuai dengan keinginan disebut juga Siddhi. Menurut agama Hindu, Siddhi merupakan suatu halangan bagi pencapaian Tuhan karena ia mengembangkan ego yang tidak dikehendaki dalam diri seorang pemuja. Jadi agama Hindu memandang rendah Siddhi. Tapi beberapa orang lahir dengan Siddhi. Bagi mereka kekuatan Siddhi keluar begitu saja seperti bau harum mengalir dari bunga mawar. Mereka biasanya tidak menganggap hal ini penting. Mereka tidak berusaha untuk mempengaruhi masyarakat dengan Siddhinya ini.
Dikatakan bahwa kekuatan ‘psychic’ dari tingkatan yang lebih rendah dapat dikembangkan dengan menggunakan sejenis ramuan obat (drug) tertentu. Tapi metoda yang menggunakan bahan kimia untuk mengembangkan Siddhi adalah cara yang sangat berbahaya dengan akibat-akibat yang sangat mengerikan.

BAGAIMANA TEPATNYA KEKUATAN SIDDHI DIKEMBANGKAN DALAM DIRI SESEORANG?

Menurut agama Hindu, Siddhi dikembangkan dalam diri manusia dengan mengangkat kekuatan Kundalini atau kekuatan ular melalui saraf tulang belakang. Kekuatan Kundalini ini berada pada ‘Muladhara’ di balik organ seksual pada dasar dari saraf tulang belakang manusia. Diyakini bahwa ketika seorang manusia berkembang secara spiritualitas, kekuatan ini bangkit secara perlahan dan bergerak melewati enam pusat (Chakra) di saraf tulang belakang (spinal cord) dan akhirnya menjadi satu pada titik paling atas dalam otak yang disebut ‘Sahasrara’. Pada titik itu orang tersebut mengembangkan Siddhi. Jadi diyakini bahwa merangsang kekuatan itu secara artifisial dari titik istirahatnya dengan bahan kimia dapat menimbulkan kerusakan yang hebat pada badan, karena badan yang normal tidak didesain untuk bertemu dengan kekuatan yang demikian hebat.

APAKAH MANTRA MEMBANTU MENGEMBANGKAN SIDDHI?

Beberapa Mantra seperti Pranawa atau Gayatri dapat mengembangkan kesadaran dan tidak ada batas bagi pengembangan kesadaran itu. Mantra-mantra ini adalah Mantra dari tingkatan yang tertinggi dan mereka mengembangkan Siddhi secara perlahan dan alamiah, karena itu hal ini diterima dengan baik. Ada beberapa Mantra tertentu seperti Mantra Wasikarni yang dapat dipergunakan untuk tujuan khusus, yaitu untuk mempengaruhi atau menarik seseorang.

AYAH, APAKAH MENURUTMU SIDDHI ITU SANGAT BERBAHAYA?

Hampir semua orang yang tahu sedikit-sedikit mengenai spiritualitas juga berbicara mengenai Siddhi (occultisme), khususnya mengenai occultisme Hindu, dalam khotbah mereka sehari-hari. Tapi tidak seorangpun yang mengatakan kepada pendengarnya apa sesungguhnya occultisme itu – mana bagian yang berbahaya, mana bagian yang baik. Agama Hindu mengatakan bahwa kekuatan Siddhi tidak perlu dicari. Bila ia datang kepadamu, itu akan datang secara alamiah sebagai hasil samping (by-product) dari usaha pencarian Tuhan.
Satu hal lain ingin kukatakan. Jangan berupaya melakukan semua jenis latihan Hatha Yoga. Struktur tubuh orang Barat tidak sesuai untuk semua latihan itu. Kamu harus melakukannya dibawah bimbingan dan pengawasan seorang guru Yoga yang ahli.
Bila seseorang ingin melakukan pranayama, pengajaran atau latihan yang terbaik diberikan oleh “the Self-Realization Fellowship” di Los Angeles, California. Metoda mereka disebut Kriya Yoga dan ini adalah Pranayama ‘psychic’ (bathin; jiwa). Alamat mereka ada dalam buku “Autobiography of a Yogi” oleh Paramahamsa Yogananda yang dijual di setiap toko buku. (Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Anand Krishna dengan judul “Otobiographi Seorang Yogi”, pen).
Dikatakan bahwa ketika Aleksander Agung menaklukan bagian utara India, dia terkagum-kagum menyaksikan kedalaman spiritualitas Hindu dan juga oleh occultisme Hindu. Asal mula dari Siddhi Hindu ini dapat ditelusuri kebelakang kepada kebudayaan Dravidia di India, jauh sebelum kedatangan orang Arya, paling sedikit lima ribu tahun sebelum masehi.
Para teolog Hindu menganggap magi hitam (black magic), jampi-jampi untuk mencelakakan orang, dan praktek-praktek berbahaya dari Yoga sebagai occultisme. Latihan pernafasan biasa seperti metoda Hamsa atau Kriya Yoga seperti yang diajarkan oleh “Self-Realization Fellowship” bukan occultisme.
Tentu saja semua teolog Hindu mengingatkan para muridnya agar tidak mempraktekkan latihan-latihan tertentu dalam buku-buku Yoga tanpa bimbingan seorang yang ahli mengenai hal itu. Gheranda-Samhita dan Hatha-Yoga-Pradipika kemungkinan akan mengundang penyakit dengan melakukan latihan-latihan yang keras tanpa bimbingan seorang ahli. Sirshasana, seni berdiri di atas kepala, hanya bagus bila itu dilakukan secara benar. Bila ini dilakukan secara tidak tepat, seseorang bisa mendapat masalah seperti halusinasi yang sangat menekan.

APAKAH OCCULTISME ADA DIMANA-MANA DI DUNIA?

Ia ada dimanapun di dunia ini, termasuk dalam agama Hindu. Kepada mereka yang menyerang agama Hindu sebagai pembawa obor dari occultisme, aku hanya mempunyai satu jawaban. Mohon jangan gunakan lagi uang dollar Amerika Serikat karena uang itu membawa simbol occultisme. Simbol atau emblem itu terdiri dari piramid Mesir, Mata Ketiga dari Dewa Siwa (mata yang-melihat-semuanya dari gereja-gereja Kristen Inggris) dan pernyataan “Annuit Coeptis” (artinya “dia menyejahterakan usaha kita”) dan “Novus Ordo Seclorum” (artinya “orde baru dari abad-abad” – abad Aquarian, menurut astrologi terjadi setelah abad Emas, Perak, Perunggu dan Baja).
Konon dibalik dari stempel besar Amerika Serikat, dilukis emblem Masonic yang disebutkan di atas karena lebih dari lima puluh orang penanda-tangan dari Deklarasi Kemerdekaan AS adalah penganut Mason atau Rosicrusian *) dan mereka sangat gemar dengan ilmu-ilmu esoterik seperti astrologi dan Kabbalah. Nama Pentagon untuk markas besar militer AS mempunyai awal occult. Percaya atau tidak, sinar laser yang paling kuat di atas bumi ini disebut “Siva,” menyimbolkan cahaya dari mata ketiga Siwa yang amat kuat, dan kata “trident” berasal dari senjata Siwa (Trisula, pen). Aku rasa nama-nama mitologi Hindu dibawa ke lembaga pertahanan dan luar angkasa Amerika Serikat oleh para ilmuwan Jerman yang datang ke Amerika Serikat setelah Perang Dunia Kedua. Tampaknya mereka sangat paham tentang Indology. Jadi kita dapat melihat simbol-simbol dari occultisme ada dimana di dunia ini.
Kamu dapat melihat aspek metaphisik dari occultisme dalam Rig Weda dan aplikasi praktisnya dalam semua aspek Yoga. Satu kitab suci yang dapat disebut otoritas mengenai occultisme Hindu adalah Atharwa Weda, yang terdiri dari segala mantra-mantra dan juga jampi-jampi magik. Bahkan satu bagian dari Ayurweda (pengobatan Hindu), disebut Bhuta-Widaya, berkaitan dengan penyakit yang disebabkan oleh roh.
Sekali lagi, agama Hindu tidak mendukung penggunaan occultisme untuk motive-motive pribadi dan menasehati setiap orang untuk tidak terlibat dalam occultisme.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review