Senin, 07 November 2011

Seksologi ala Kamasutra

Pendahuluan

Seks merupakan satu kebutuhan manusia, di samping juga binatang. Untuk memenuhi kebutuhan terhadap pemenuhan kebutuhan dorongan nafsu seksual bagi umat manusia yang berbudaya, maka lembaga perkawinan merupakan pranata sosial yang secara formal dibenarkan baik oleh ajaran agama maupun hukum yang berlaku di masyarakat. Seseorang tidak dibenarkan untuk menghumbar hawa nafsu seksnya di sembarang tempat. Dalam kehidupan keluarga dan dalam ikatan suami istri, kitab hukum Hindu, yakni kitab Manavadharmasastra mengamanatkan untuk tidak jemu-jemunya mengikatkan tali perkawinan.
Pendidikan seksologi secara formal tidak pernah diselenggarakan di lembaga pendidikan, demikian pula dalam keluarga, sehingga informasi tentang seks tidak banyak diketahui oleh generasi muda. Informasi tentang seks diperoleh melalui buku atau media massa. Akibat dari kurangnya informasi tentang seks (seksologi) maka sering terjadi penyimpangan prilaku utamanya di kalangan generasi muda yang umumnya memiliki keperibadian yang cenderung tertutup atau kurang berkomunikasi dengan teman sebaya, dengan guru, orang tua dan tokoh-tokoh masyakat melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma kesusilaan, hukum, dan ajaran agama.
Dewasa ini generasi muda mengenal informasi tentang seks melalui media internet yang kadang-kadang bila tidak mampu mengendalikan diri bisa menyesatkan. Di sinilah pentingnya pendidikan seksologi yang tentu disesuaikan dengan perkembangan kepribadian anak dan metodologi yang tepat untuk itu. Pada masyarakat Bali, di beberapa desa masih ditemukan ritual kesuburan yang secara vulgar memperlihatkan sexual incource di hadapan khalayak (lihat foto terlampir), namun demikian, kemungkinan karena pembicaraan tentang seks lebih terbuka pada masyarakat tersebut, maka kasus penyimpangan seksual termasuk pemerkosaan di lingkungan masyarakat tersebut tidak pernah terjadi. Berdasarkan pengamatan sepintas tersebut, kiranya pendidikan seks perlu disampaikan kepada generasi muda dan masyarakat secara luas. Tulisan ini sesuai dengan permintaan Panitia Pertemuan Ilmiah Tahunan III Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesisa membahas Pengetahuan Seksologi ala Kamasuttra yang kiranya dapat memperluas wawasan tentang seksologi.

* Makalah disampaikan pada acara Workshop Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesisa, diselenggarakan oleh Panitia Pertemuan Ilmiah Tahunan III Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia bertempat di Agung Room Inna Grand Bali Beach Hotel Sanur, Bali.
**Prof. Dr. I Made Titib, Ph.D. Guru Besar Ilmu Veda, Fakultas Brahma Widya dan Rektor Institut Hindu Dharma Negri Denpasar, alumni Pendidikan Doktor, Vedic Department, Gurukula Kangri University, Haridwar, Uttarpradesh, India (1993) dan alumni Pendidikan Doktor Kajian Budaya, Universitas Udayana Denpasar, Bali (2005) mantan Perwira TNI-AD (1978-1985) dan Anggota DPRD Bali (1997-1999), dan kini juga sebagai Ketua PHDI Pusat Korwil Bali-Nusa Tenggara.


Seks di dalam kitab suci Veda dan Susastra Hindu

Kehidupan seksual pada zaman Veda pada umumnya adalah heteroseksual (antara laki-laki dan perempuan). Homoseksual di antara sesama lelaki dan perempuan, selengkapnya tidak dikenal dan bila mungkin ada kasus tersebut, kitab suci Veda tidak pernah menyebutkan. “In this respect ancient India was far healtier than most other ancient culture” demikian kata-kata A.L. Basham dalam bukunya The Wonder That Was India yang di kutip kembali oleh Ivo Fiser (1989:64) dan menambahkan tidak pula ada informasi tentang hubungan manusia dengan binatang (bestiofilia) yang tercatat dalam literatur Sanskerta seperti fakta yang umum pada peradaban kuna seperti halnya kehidupan para nomadic tribes di era modern ini.
Dari keterangan tersebut di atas dapat diketahui bahwa kehidupan seksual yang diamanatkan dalam kitab suci Veda adalah kehidupan seksual yang normal, antara laki-laki dan perempuan dalam ikatan perkawinan. Lebih jauh A.L. Basham (1992:172) mengatakan bahwa kehidupan seksual adalah hal yang positif sebagai tugas keagamaan, tugas suci (religius duty), yang diamanatkan pada suaminya untuk menggauli istrinya pada masa delapan hari setelah istinya menstruasi.
Ivo Fiser pada halaman yang sama di atas menyatakan: “Acccording to a later Hindu conception, the sex nature of woman was superior to that of men. In the Vedic Samhita, married woman often took initiative in the intercource and were given full credit of it
A woman (jaya) prepares her yoni for her husband (pati, filled with desire (usali) and beautifull attired (RV. IV.3.2). She gives herself to her lord willingly (RV. IX.82.4); she is the home (astam), she is the yoni (RV.III.53.4). The wives (janayah) beauty themselves (sumbhante)(RV.I.85.1) and we often find them rushing into the arms of their husbands and appearing befor them all their beauty. There also two kind woman (bhadre) caressing a man (josayete)(RV.95.6). Married woman reward a bold man (RV. I.62.10). Filled with desire, they caress (sprisanti) a desiring husband (RV. I. 6.11); they incite him as loving woman sexually incite their loves (RV.I.71.1). A wife (jaya), lying on a couch , is ready for anything (or anyone)(RV.I.66.5).  
Dalam uraian yang lain A.L. Basham (1992:172) menyatakan orang India pada umumnya, seperti halnya di belahan bumi lainya, menganut azas perkawinan monogami dan poligami tidak dikenal dalam Rigveda. Para raja dan pemimpin umumnya dalam beberapa variasi ada yang berpoligami. Dalam situasi yang normal poligami tidak dianjurkan ke dalam literatur yang lebih tua. Dalam Apastamba Dharma Sutra (II.5.11) secara tegas melarang menghamili istri yang kedua, bilamana istri pertama memiliki karakter yang baik dan melahirkan beberapa anak. Dalam Narada Dharma Sutra (I.I90) dinyatakan seseorang yang melakukan poligami tidak pantas dinyatakan untuk hadir dalam sidang pengadilan (penegakkan hukum). Dalam Arthasaatra (III.2) dinyatakan bahwa pelaku poligami dianggap ceroboh, dan keduanya diwajibkan membayar kompensasi kepada istrinya yang pertama. Yang menjadi contoh atau model perkawinan yang ideal adalah perkawinan Rama dengan dewi Sita yang sangat setia, saling mencintai, tidak pernah terusik oleh adanya istri yang kedua.
Di dalam kitab suci Veda gejala atau fenomena alam sering disimbolisasikan sebagai aktivitas seksual. Hujan sering disebut sperma, cairan mani (retah) yang menyuburkan tanah (RV. I.100.3;128.3 dst., AV. IV.15.11). Parjanya, dewa hujan disebut menyimpan spermanya pada milik istrinya yang tampak seperti sapi jantan (RV. III.55.17). Ia disebut juga retodha atau yang melahirkan semua tumbuh-tumbuhan.(RV. VII.101.6; dst.III. 56.3; AV. VIII.7.21). Ia disebut juga yang memberi kesegaran (yang memuaskan) bumi dengan spermanya. Aktivitas penciptaan alam kadang-kadang digambarkan sebagai hubungan seksual antara Dyauh (Bapak langit) dengan Prthivi (Ibu langit). Ia menjadi basah diresapi (garbharasa) dan ditusuk (nividdha) olehnya (RV. I.164.8). Ide berpasangan dalam berhubungan dinyatakan dalam bentuk kata majemuk ‘dvandva’ yakni dyavaprthivi (Fiser, 1969:44). Sesungguhnya sangat banyak gejala alam (natural phenomenal) yang digambarkan sebagai seksual intercourse yang dampaknya memberikan kesuburan kepada bumi.
Berikut kami sampaikan bagaimana pandangan kitab suci Veda terhadap seorang perempuan, istri atau wanita dan laki-laki: Seorang gadis hendaknya suci, hendaknya berbudi luhur dan berpengetahuan tinggi (AV. XI.1.27). Seorang gadis menentukan sendiri pria idaman calon suaminya (svayamvara/RV. X.27.12). Mempelai wanita sumber kemakmuran (RV. X.85.36). Seorang lelaki yang terlalu banyak mempunyai anak selalu menderita (RV. I.164.32). Terjemahan mantra ini menunjukan bahwa bila lelaki tidak merencanakan keluarganya (istrinya terlalu banyak melahirkan, atau suami banyak punya istri dan anak) tentunya sangat menderita. Pengendalian nafsu seks juga mendapat perhatian dalam kitab suci Veda. Lebih lanjut seorang wanita dituntut untuk percaya kepada suami, dengan kepercayaannya itu (patibrata), seorang istri dan keluarga akan memperoleh kebahagiaan (AV. XIV.1.42).
Dalam perkembangan ketika muncul pemujaan kepada ‘linga dan yoni’ yang diduga akarnya berasal dari masa pra–Veda, maka visualisasi ‘linga dan yoni’ baik yang tersamar (distilir) maupun yang natural dan bahkan yang vulgar mulai tampak sesudah zaman Veda dan berkembang dalam berbagai aspek budaya (seni arca, lukis) dan sebaginya.


Seks dan Pengendalian Diri

Pada manggala (bagian awal dari tulisan) ini telah dikutipkan tentang pentingnya pengendalian diri terhadap adanya dorongan nafsu seks yang sering menjerumuskan umat manusia. Berdasarkan kutipan tersebut maka penyaluran dorongan seksual hanya dibenarkan melalui lembaga perkawinan (vivaha) dan lembaga perkawinan dianggap sah bila dilakukan dengan Vivahasamskara. Perkawinan adalah sebuah upacara Yajna, demikian dikatakan dalam kitab Taittriya Brahmana (II.2.2.6) (Pandey, 1991:153). Bila terjadi hubungan seksual tanpa pelaksanaan upacara Vivahasamskara, maka hal itu tidak dianggap sebagai perkawinan yang sah. Lebih jauh tentang seks dan perkawinan diamanatkan didalam Veda dan Susastra Hindu sebagai berikut:
  • Sam jaspatyam suyamam astu devah (RV. X.85.23).

    ‘Ya, para dewata, semoga kehidupan perkawinan kami berbahagia dan tentram’
  • Asthuri no garhapapatyani santu (RV. VI.15. 19).

    ‘Hendaknyalah hubungan suami-istri kami tidak bisa putus berlangsung abadi’
  •  Sam anjantu visvedevah, samapohrdayaninau (RV X.85.42).

    ‘Semoga para dewata dan apah mempersatukan hati kami, suami-istri
  • Ihaiva stam ma vi yaustam, visvam ayur vyasnutam.
    Kridantau putrair naptrbhih, modamanau sve grhe (RV. X.85. 42).

    ‘Ya, pasangan suami-istri, semoga anda tetap disini dan tidak pernah terpisahkan. Semoga anda berdua mencapai kehidupan yang penuh kebahagiaan. Semoga anda, bermain dengan anak-anak lakimu dan cucu-cucu lakimu, tinggal di rumah ini dengan gembira.
Mantra terakhir (RV. 85. 42) tersebut di atas dapat kita jumpai kembali di dalam kitab AV. XIV. 1.22 yang menyiratkan tentang makna perkawinan untuk menwujudkan kehidupan dan kebahagiaan bersama dengan putra-putri dan cucu-cucu yang lahir dari perkawinan mempelai diamanatkan untuk bergembira dan tinggal di rumah sendiri yang menunjukkan kepada kita seseorang yang telah siap memasuki masa Grihastha (hidup berumah tangga) hendaknya dapat menyiapkan rumah sendiri, tidak tergantung kepada orang lain. Jadi sebelum memasuki Grihasthasrama, seorang Brahmacari (pemuda/layang) secara matang harus mandiri untuk nantinya dapat mewujudkan perkawinan ideal sebagai diamanatkan dalam mantra Veda di atas. Untuk itu seseorang dituntut berkerja keras sesuai dengan Dharma.
Lebih jauh tentang makna atau prinsip dasar tentang tujuan perkawinan di tegaskan dalam kitab-kitab Dharmasastra (Kantawala, 1989:89) adalah untuk mewujudkan 3 hal, yaitu:
  1. Dharamasampatti, kedua mempelai secara bersama-sama melaksanakan Dharma  yang meliputi semua aktivitas dan kewajiban agama seperti melaksanakan Yajna, sebab di dalam Grhastalah Yajna dapat dilaksanakan secara sempurna.
  2. Praja , kedua mempelai mampu melahirkan keturunan (putra-putri) yang akan melanjutkan amanat dan kewajiban kepada leluhur. Melalui Yajna dan lahirnya putra yang suputra (Berbudhi perkerti luhur) seorang anak akan dapat melunasi hutang jasa kepada leluhur (Pitrarna), kepada Tuhan Yang Maha Esa (Devarna) dan kepada para guru (Rsirna).
  3. Rati, kedua mempelai dapat menikmati kepuasan seksual dan kepuasan-kepuasan lainnya (Artha dan Kama ) yang tidak bertentangan Dharma
Berdasarkan kutipan tersebut di atas, maka perkawinan menurut kitab suci Veda dan Susastra Hindu lainnya adalah untuk mewujudkan kebahagiaan bersama lahir dan batin termasuk pula dalam pengertian memperoleh keturunan yang suputra (anak-anak dan cucu-cucu) sebagai penerus kehidupan keluarga. Lebih jauh kitab suci Veda menyatakan bahwa suami-istri itu satu jiwa dalam dua badan.Aksyau nau madhusamkasenau samanjanam,
Antah krnusva mam hrdi mana innausahasati (AV. VII.36.1).
‘Hendaknya manis bagaikan madu cinta kasih dan pandangan antara suami dan istri penuh keindahan. Semogalah senantiasa hidup bersama dalam suasana bahagia tanpa kedengkian (diantara mereka). Semoga satu jiwa bagi semuanya.’
Terhadap terjemahan mantra ini, Devi Chand (1982:299) menjelaskan: hendaknya saling mengusahakan kebahagiaan bersama seperti halnya para dokter meneliti tumbuh-tumbuhan untuk memperoleh manfaat dari tumbuh-tumbuhan itu (sebagai orang yang berguna). Demikianlah antara seorang suami dan istri senantiasa berusaha untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan sesuai Brata-Brata Vivāha (kewajiban dan pantangan-pantangan ) dalam perkawinan.
Suami dan istri hendaknya tidak jemu-jemu mengusahakan dan mewujudkan kerukunan serta kebahagiaan dalam rumah tangga diamanatkan pula dalam Manavadharmasastra sebagai berikut.
  • Tatha nityam yateyatam stripumsau tu krtakriyau,
    Ytatha nabhicaratemTau tau viyukta vitateratam. (Mdhs. IX.102).

    ‘Hendaknya lak-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan, mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya agar mereka tidak bercerai, mewujudkan antara satu dengan yang lain’.
  • Anyonyasyavy abgicaro bhaved amaranantikah,
    Esa dharmah samasena jneyah stri pumsayoh parah. (Mdhs. IX.101).

    ‘Hendaknya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya, hal ini harus dianggap hukum yang tertinggi bagi suami istri.’
  • Samtusto bharyaya bharta bhartra bharya tathaiva ca,
    Yasminn eva kule nityam kalyanam tatra vai dhruvam. (Mdhs. III.60).

    ‘Keluarga di mana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula sang istri terhadap suaminya, kebahagian pasti kekal dan abadi’
Suami dan istri diamanatkan untuk senantiasa melaksanakan kewajiban dan jalan yang benar (mengikuti hukum yang berlaku) dan memperoleh putra yang perwira, membangun rumah sediri dan hidup didalamnya:
Syonadyoneraghi budhyamanau sahamudau hasamudau
mahasa modamanau sugu suputrau suguhrau tar-thau
jivabusaso vibhatih (AV. XIV.2.43).
‘Wahai suami dan istri, hendaknya kamu berbudi pekerti yang luhur, penuh kasih sayang dan kemesraan diantara kamu. Lakukanlah tugas dan kewajibanmu dengan baik dan patuh kepada hukum yang berlaku. Turunkanlah putra-putri yang perwira, bangunlah rumahmu sendiri dan hiduplah bersuka cita di dalamnya’.
Berdasarkan uraian di atas maka pengendaliaan diri terhadap dorongan seks sangat diperlukan oleh setiap orang, terlebih lagi bagi mereka yang sedang menempuh kehidupan Brahmacarya (masa belajar)  seperti diamanatkan dalam Mahabarata (Adiparva I. 170 .71):  ‘brahmacaryam paro dharmah’ , chastify is the highest virtue or the highest law ( Meyer, 1989:258 ).
Ada hal yang sangat menarik, di Bali dapat dijumpai sebuah mantra yang popular disebut dengan nama Smarastava, Panca Kanyam.  Mantra ini terdiri dari satu bait mantram yang biasa digunakan dalam upacara kematian, dengan harapan orang yang meninggal tersebut mencapai kebahagiaan di alam baka. Menurut informant pandita Siva, mantra ini digunakan pada waktu upacara kehamilan (upacara pada saat seorang istri hamil) dan pada saat bayi berumur tiga bulan (Hooykaas, 1971:38). Berikut kami petikkan mantram Smarastava, Panca Kanya, sebagai berikut:
Ahalya Draupadi Sita, Tara Mandodari tatha.
Panca-kanyam smaren nityam, Maha-pataka-nasanam.
‘Seseorang hendaknya bermeditasi kepada 5 perempuan
mulia, yaitu : Ahalya, Draupadi, Sita, Tara dan Mandodari.
Mereka yang melakukan hal itu, segala dosanya akan dilenyapkan’.
Terhadap mantram di atas, Prof. Dr. C. Hooykaas (1971:38) memberikan penjelasan tentang kelima perempuan mulia itu, sebagai berikut: “Ahalya popular dikenal sebagai istri dari maharsi Gautama, ia melakukan perbuatan serong dengan dewa Indra dan kemudian dihukum dengan pengucilan abadi, yang kemudian diselamatkan (dibebaskan) oleh Sri Rama. Draupadi dan Sita adalah masing-masing pahlawan perempuan dalam Mahabharata dan Ramayana. Tara adalah istri Brhaspati yang dilarikan oleh Soma, dan Mandodari tercatat sebagai paling favorit dari para istri Rahvana. Kelima orang perempuan itu digambarkan secara tradisional sebagai perempuan yang sangat cantik dan menawan. Tokoh-tokoh perempuan ideal pada umumnya dari kalangan profesi Brahmana dan Ksatriya. Demikian antara lain tokoh-tokoh perempuan idieal dalam Veda dalam Susatra Hindu lainnya. Di samping tokoh-tokoh ideal di atas, terdapat juga tokoh-tokoh yang tidak patut ditiru, antara lain: Kaikeyi, Surphanaka (Titib, 1998:53) di dalam kitab Ramayana.
Di dalam kehidupan sehari-hari (di Bali), bila seorang istri dalam keadaan hamil, maka pihak keluarga suami berusaha mengadakan acara ‘Prasantian’ dan ‘dharmagita’ dengan harapan bayi dalam kandungan istrinya dapat mendengarkan (vibrasi) dan sifat-sifat mulia dan keutamaan tokoh-tokoh protagonis dari teks-teks yang dibaca. Umumnya teks-teks yang dibaca adalah Ramayana, Sarasamuscaya dan lain-lain.


Seksologi ala Kamasutra

Kamasutra adalah karya seni seorang maharsi atau pertapa bernama Vatsya, yang memiliki Guruparampara (the line teachers), yang menulis karya yang sangat terkenal bernama Vatsyayanasutra, Kamasastra atau Kamasutra (ilmu percintaan) (Mani, 1989:840). Di samping itu ia juga menganjurkan untuk mempelajari 64 cabang seni bagi seorang wanita yang ingin sempurna .
Kamasutra dimasukkan ke dalam kelompok Upaveda, yakni bagian dari Gandharvaveda (ilmu tentang seni) yang merupakan buku referensi dari kitab suci Veda. Kitab ini (Spellman,1997:IX-XII) terdiri dari 7 bagian dan pada masing-masing bagian terdapat sub-sub bagian. Bagian pertama (terdiri dari 4 bab) berisi uraian tentang pencarian Purusartha yang di Bali lebih populer dengan istilah Catur Purusa Artha yang berarti empat tujuan hidup manusia, yakni terwujudnya ajaran Dharma dalam kehidupan, diperolehnya Artha (meteri atau harta benda pendukung hidup yang diperoleh dengan jalan yang benar/Dharma), Kama (kenikmatan atau terpenuhinya dorongan nafsu yang tidak melanggar hukum/Dharma) dan Moksa (tujuan tertinggi dalam kehidupan adalah untuk mencapai kebebasan berupa kebahagiaan yang abadi. Di samping itu juga kajian terhadap 64 cabang seni ketrampilan. Tentang penataan rumah dan peralatan rumah tangga, tentang kehidupan sehari-haris seorang warga, kenalan, hiburan dan lain-lain. Juga tentang penggolongan wanita yang layak dan tidak layak bergaul dengan warga, dengan teman-temannya dan para pembawa pesan (kurir).
Bagian kedua terdiri dari 10 bab. Menjelaskan tentang hubungan seksual, jenis-jenis hubungan seks, kekuatan keinginan dan waktu, dan tentang jenis-jenis cinta kasih yang berbeda-beda. Tentang pelukan (rangkulan), ciuman, remasan atau isyarat dengan menggunakan kuku, pagutan dan cari bercinta yang diterapkan secara berbeda-beda dari dari negeri yang berbeda-beda pula, berbagai cara berbaring dan berbagai macam hubungan badan. Berbagai cara menyerang dan suara-suara yang cocok untuk mereka. Tentang wanita yang berperan sebagai laki-laki, tentang mengulum linggam (phalus) di mulut. Cara memulai dan mengakhiri hubungan badan dan rintihannya.
Bagian ketiga terdiri dari 4 bab menguraikan tentang pencarian seorang istri, pengamatan tentang pacaran dan perkawinan, penciptaan kepercayaan kepada gadis-gadis. Hal-hal yang boleh dilakukan laki-laki dalam pencarian gadis dan sebaliknya apa yang boleh dilakukan seorang gadis untuk mendekati pria dan menundukkannya, juga tentang bentuk-bentuk perkawinan tertentu.
Bagian keempat terdiri dari 2 bab yang menguraikan istri seseorang, cara hidup wanita bijak, kebiasaanya selama suaminya tidak di rumah, Tentang prilaku istri tertua terhadap istri-istri lain dari suaminya dan tentang sikap istri yang lebih muda terhadap yang lebih tua. Sikap seorang janda perawan yang kawin lagi, seorang wanita yang tidak disukai suaminya, dan seorang suami yang memiliki lebih dari seorang istri.
Bagian kelima terdiri dari 6 bab menguraikan tentang istri-istri orang lain. Ciri-ciri pria dan wanita serta alasan mengapa wanita menolak sikap pria. Tentang pria yang berhasil dengan  wanita dan tentang wanita yang gampangan. Tentang Perkenalan dengan wanita dan usaha untuk mendapatkannya. Penjajagan


Siddhi

APAKAH SIDDHI?

Kemampuan seperti ‘clairaudience’ (mendengar suara yang tak dapat didengar oleh telinga manusia normal), ‘clairvoyance’ (kemampuan untuk melihat obyek yang atidak ada didepan indrya mata), dan ‘telepathy’ (kemampuan untuk mengirim dan menerima pikiran) adalah beberapa Siddhi (occult power) yang dikenal oleh manusia. Begitu pula kemampuan untuk mengadakan dan menghilangkan sesuatu sesuai dengan keinginan disebut juga Siddhi. Menurut agama Hindu, Siddhi merupakan suatu halangan bagi pencapaian Tuhan karena ia mengembangkan ego yang tidak dikehendaki dalam diri seorang pemuja. Jadi agama Hindu memandang rendah Siddhi. Tapi beberapa orang lahir dengan Siddhi. Bagi mereka kekuatan Siddhi keluar begitu saja seperti bau harum mengalir dari bunga mawar. Mereka biasanya tidak menganggap hal ini penting. Mereka tidak berusaha untuk mempengaruhi masyarakat dengan Siddhinya ini.
Dikatakan bahwa kekuatan ‘psychic’ dari tingkatan yang lebih rendah dapat dikembangkan dengan menggunakan sejenis ramuan obat (drug) tertentu. Tapi metoda yang menggunakan bahan kimia untuk mengembangkan Siddhi adalah cara yang sangat berbahaya dengan akibat-akibat yang sangat mengerikan.

BAGAIMANA TEPATNYA KEKUATAN SIDDHI DIKEMBANGKAN DALAM DIRI SESEORANG?

Menurut agama Hindu, Siddhi dikembangkan dalam diri manusia dengan mengangkat kekuatan Kundalini atau kekuatan ular melalui saraf tulang belakang. Kekuatan Kundalini ini berada pada ‘Muladhara’ di balik organ seksual pada dasar dari saraf tulang belakang manusia. Diyakini bahwa ketika seorang manusia berkembang secara spiritualitas, kekuatan ini bangkit secara perlahan dan bergerak melewati enam pusat (Chakra) di saraf tulang belakang (spinal cord) dan akhirnya menjadi satu pada titik paling atas dalam otak yang disebut ‘Sahasrara’. Pada titik itu orang tersebut mengembangkan Siddhi. Jadi diyakini bahwa merangsang kekuatan itu secara artifisial dari titik istirahatnya dengan bahan kimia dapat menimbulkan kerusakan yang hebat pada badan, karena badan yang normal tidak didesain untuk bertemu dengan kekuatan yang demikian hebat.

APAKAH MANTRA MEMBANTU MENGEMBANGKAN SIDDHI?

Beberapa Mantra seperti Pranawa atau Gayatri dapat mengembangkan kesadaran dan tidak ada batas bagi pengembangan kesadaran itu. Mantra-mantra ini adalah Mantra dari tingkatan yang tertinggi dan mereka mengembangkan Siddhi secara perlahan dan alamiah, karena itu hal ini diterima dengan baik. Ada beberapa Mantra tertentu seperti Mantra Wasikarni yang dapat dipergunakan untuk tujuan khusus, yaitu untuk mempengaruhi atau menarik seseorang.

AYAH, APAKAH MENURUTMU SIDDHI ITU SANGAT BERBAHAYA?

Hampir semua orang yang tahu sedikit-sedikit mengenai spiritualitas juga berbicara mengenai Siddhi (occultisme), khususnya mengenai occultisme Hindu, dalam khotbah mereka sehari-hari. Tapi tidak seorangpun yang mengatakan kepada pendengarnya apa sesungguhnya occultisme itu – mana bagian yang berbahaya, mana bagian yang baik. Agama Hindu mengatakan bahwa kekuatan Siddhi tidak perlu dicari. Bila ia datang kepadamu, itu akan datang secara alamiah sebagai hasil samping (by-product) dari usaha pencarian Tuhan.
Satu hal lain ingin kukatakan. Jangan berupaya melakukan semua jenis latihan Hatha Yoga. Struktur tubuh orang Barat tidak sesuai untuk semua latihan itu. Kamu harus melakukannya dibawah bimbingan dan pengawasan seorang guru Yoga yang ahli.
Bila seseorang ingin melakukan pranayama, pengajaran atau latihan yang terbaik diberikan oleh “the Self-Realization Fellowship” di Los Angeles, California. Metoda mereka disebut Kriya Yoga dan ini adalah Pranayama ‘psychic’ (bathin; jiwa). Alamat mereka ada dalam buku “Autobiography of a Yogi” oleh Paramahamsa Yogananda yang dijual di setiap toko buku. (Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Anand Krishna dengan judul “Otobiographi Seorang Yogi”, pen).
Dikatakan bahwa ketika Aleksander Agung menaklukan bagian utara India, dia terkagum-kagum menyaksikan kedalaman spiritualitas Hindu dan juga oleh occultisme Hindu. Asal mula dari Siddhi Hindu ini dapat ditelusuri kebelakang kepada kebudayaan Dravidia di India, jauh sebelum kedatangan orang Arya, paling sedikit lima ribu tahun sebelum masehi.
Para teolog Hindu menganggap magi hitam (black magic), jampi-jampi untuk mencelakakan orang, dan praktek-praktek berbahaya dari Yoga sebagai occultisme. Latihan pernafasan biasa seperti metoda Hamsa atau Kriya Yoga seperti yang diajarkan oleh “Self-Realization Fellowship” bukan occultisme.
Tentu saja semua teolog Hindu mengingatkan para muridnya agar tidak mempraktekkan latihan-latihan tertentu dalam buku-buku Yoga tanpa bimbingan seorang yang ahli mengenai hal itu. Gheranda-Samhita dan Hatha-Yoga-Pradipika kemungkinan akan mengundang penyakit dengan melakukan latihan-latihan yang keras tanpa bimbingan seorang ahli. Sirshasana, seni berdiri di atas kepala, hanya bagus bila itu dilakukan secara benar. Bila ini dilakukan secara tidak tepat, seseorang bisa mendapat masalah seperti halusinasi yang sangat menekan.

APAKAH OCCULTISME ADA DIMANA-MANA DI DUNIA?

Ia ada dimanapun di dunia ini, termasuk dalam agama Hindu. Kepada mereka yang menyerang agama Hindu sebagai pembawa obor dari occultisme, aku hanya mempunyai satu jawaban. Mohon jangan gunakan lagi uang dollar Amerika Serikat karena uang itu membawa simbol occultisme. Simbol atau emblem itu terdiri dari piramid Mesir, Mata Ketiga dari Dewa Siwa (mata yang-melihat-semuanya dari gereja-gereja Kristen Inggris) dan pernyataan “Annuit Coeptis” (artinya “dia menyejahterakan usaha kita”) dan “Novus Ordo Seclorum” (artinya “orde baru dari abad-abad” – abad Aquarian, menurut astrologi terjadi setelah abad Emas, Perak, Perunggu dan Baja).
Konon dibalik dari stempel besar Amerika Serikat, dilukis emblem Masonic yang disebutkan di atas karena lebih dari lima puluh orang penanda-tangan dari Deklarasi Kemerdekaan AS adalah penganut Mason atau Rosicrusian *) dan mereka sangat gemar dengan ilmu-ilmu esoterik seperti astrologi dan Kabbalah. Nama Pentagon untuk markas besar militer AS mempunyai awal occult. Percaya atau tidak, sinar laser yang paling kuat di atas bumi ini disebut “Siva,” menyimbolkan cahaya dari mata ketiga Siwa yang amat kuat, dan kata “trident” berasal dari senjata Siwa (Trisula, pen). Aku rasa nama-nama mitologi Hindu dibawa ke lembaga pertahanan dan luar angkasa Amerika Serikat oleh para ilmuwan Jerman yang datang ke Amerika Serikat setelah Perang Dunia Kedua. Tampaknya mereka sangat paham tentang Indology. Jadi kita dapat melihat simbol-simbol dari occultisme ada dimana di dunia ini.
Kamu dapat melihat aspek metaphisik dari occultisme dalam Rig Weda dan aplikasi praktisnya dalam semua aspek Yoga. Satu kitab suci yang dapat disebut otoritas mengenai occultisme Hindu adalah Atharwa Weda, yang terdiri dari segala mantra-mantra dan juga jampi-jampi magik. Bahkan satu bagian dari Ayurweda (pengobatan Hindu), disebut Bhuta-Widaya, berkaitan dengan penyakit yang disebabkan oleh roh.
Sekali lagi, agama Hindu tidak mendukung penggunaan occultisme untuk motive-motive pribadi dan menasehati setiap orang untuk tidak terlibat dalam occultisme.

Minggu, 06 November 2011

Tata Cara Bangunan menurut Asta Kosala Kosali (Fengshui ala Bali)

Landasan Filosofis, Etis, Ritual

  • Landasan Filosofis.
    1. Hubungan Bhuwana Alit dengan Bhuwana Agung.
      Pembangunan perumahan adalah berlandaskan filosofis bhuwana alit bhuwana agung. Bhuwana Alit yang berasal dari Panca Maha Bhuta adalah badan manusia itu sendiri dihidupkan oleh jiwatman. Segala sesuatu dalam Bhuwana Alit ada kesamaan dengan Bhuwana Agung yang dijiwai oleh Hyang Widhi. Kemanunggalan antara Bhuwana Agung dengan Bhuwana Alit merupakan landasan filosofis pembangunan perumahan umat Hindu yang sekaligus juga menjadi tujuan hidup manusia di dunia ini.
    2. Unsur-unsur pembentuk.
      Unsur pembentuk membangun perumahan adalah dilandasi oleh Tri Hit a Karana dan pengider- ideran (Dewata Nawasanga). Tri Hita Karana yaitu unsur Tuhan/ jiwa adalah Parhyangan/ Pemerajan. Unsur Pawongan adalah manusianya dan Palemahan adalah unsur alam/ tanah. Sedangkan Dewata Nawasanga (Pangider- ideran) adalah sembilan kekuatan Tuhan yaitu para Dewa yang menjaga semua penjuru mata angin demi keseimbangan alam semesta ini.
  • Landasan Etis
    1. Tata Nilai.
      Tata nilai dari bangunan adalah berlandaskan etis dengan menempatkan bangunan pemujaan ada di arah hulu dan bangunan- bangunan lainnya ditempatkan ke arah teben (hilir). Untuk lebih pastinya pengaturan tata nilai diberikanlah petunjuk yaitu Tri Angga adalah Utama Angga, Madya Angga dan Kanista Angga dan Tri Mandala yaitu Utama, Madya dan Kanista Mandala
    2. Pembinaan hubungan dengan lingkungan.
      Dalam membina hubungan baik dengan lingkungan didasari ajaran Tat Twam Asi yang perwujudannya berbentuk Tri Kaya Parisudha
  • Landasan Ritual
    Dalam mendirikan perumahan hendaknya selalu dilandaskan dengan upacara dan upakara agama yang mengandung makna mohon ijin, memastikan status tanah serta menyucikan, menjiwai, memohon perlindungan Ida Sang Hyang Widhi sehingga terjadilah keseimbangan antara kehidupan lahir dan batin.

Konsepsi Perwujudan

Konsepsi perwujudan perumahan umat Hindu merupakan perwujudan landasan dan tata ruang, tata letak dan tata bangunan yang dapat dibagi dalam:
  1. Keseimbangan alam
  2. Rwa Bhineda, Hulu- teben, Purusa- Pradhana
  3. Tri Angga dan Tri Mandala.
  4. Harmonisasi dengan lingkungan.
  5. Keseimbangan Alam:
    Wujud perumahan umat Hindu menunjukkan bentuk keseimbangan antara alam Dewa, alam manusia dan alam Bhuta (lingkungan) yang diwujudkan dalam satu perumahan terdapat tempat pemujaan tempat tinggal dan pekarangan dengan penunggun karangnya yang dikenal dengan istilah Tri Hita Karana.
  6. Rwa Bhineda, Hulu Teben, Purusa Pradhana.
    Rwa Bhineda diwujudkan dalam bentuk hulu teben (hilir). Yang dimaksud dengan hulu adalah arah/ terbit matahari, arah gunung dan arah jalan raya (margi agung) atau kombinasi dari padanya. Perwujudan purusa pradana adalah dalam bentuk penyediaan natar. sebagai ruang yang merupakan pertemuan antara Akasa dan Pertiwi.
  7. Tri Angga dan Tri Mandala.
    Pekarangan Rumah Umat Hindu secara garis besar dibagi menjadi 3 bagian (Tri Mandala) yaitu Utama Mandala untuk penempatan bangunan yang bernilai utama (seperti tempat pemujaan). Madhyama Mandala untuk penempatan bangunan yang bernilai madya (tempat tinggal penghuni)
    dan Kanista Mandala untuk penempatan bangunan yang
    bernilai kanista (misalnya: kandang).
    Secara vertikal masing- masing bangunan dibagi menjadi 3 bagian (Tri Angga) yaitu Utama Angga adalah atap,
    Madhyama angga adalah badan bangunan yang terdiri dari
    tiang dan dinding, serta Kanista Angga adalah batur (pondasi).
  8. Harmonisasi dengan potensi lingkungan.
    Harmonisasi dengan lingkungan diwujudkan dengan memanfaatkan potensi setempat seperti bahan bangunan dan prinsip- prinsip bangunan Hindu.

Pemilihan Tanah Pekarangan

  1. Tanah yang dipilih untuk lokasi membangun perumahan diusahakan tanah yang miring ke timur atau miring ke utara, pelemahan datar (asah), pelemahan inang, pelemahan marubu lalah (berbau pedas).
  2. Tanah yang patut dihindari sebagai tanah lokasi membangun perumahan adalah :
    1. karang karubuhan (tumbak rurung/ jalan),
    2. karang sandang lawe (pintu keluar berpapasan dengan persimpangan jalan),
    3. karang sulanyapi (karang yang dilingkari oleh lorong (jalan)
    4. karang buta kabanda (karang yang diapit lorong/ jalan),
    5. karang teledu nginyah (karang tumbak tukad),
    6. karang gerah (karang di hulu Kahyangan),
    7. karang tenget,
    8. karang buta salah wetu,
    9. karang boros wong (dua pintu masuk berdampingan sama tinggi),
    10. karang suduk angga, karang manyeleking dan yang paling buruk adalah
    11. tanah yang berwarna hitam- legam, berbau "bengualid" (busuk)
  3. Tanah- tanah yang tidak baik (ala) tersebut di atas, dapat difungsikan sebagai lokasi membangun perumahan jikalau disertai dengan upacara/ upakara agama yang ditentukan, serta dibuatkan palinggih yang dilengkapi dengan upacara/ upakara pamarisuda.

Perumahan Dengan Pekarangan Sempit, bertingkat dan Rumah Susun

  1. Pekarangan Sempit.
    Dengan sempitnya pekarangan, penataan pekarangan sesuai dengan ketentuan Asta Bumi sulit dilakukan. Untuk itu jiwa konsepsi Tri Mandala sejauh mungkin hendaknya tercermin (tempat pemujaan, bangunan perumahan, tempat pembuangan (alam bhuta).
    Karena keterbatasan pekarangan tempat pemujaan diatur sesuai konsep tersebut di atas dengan membuat tempat pemujaan minimal Kemulan/ Rong Tiga atau Padma, Penunggun Karang dan Natar.
  2. Rumah Bertingkat.
    Untuk rumah bertingkat bila tidak memungkinkan membangun tempat pemujaan di hulu halaman bawah boleh membuat tempat pemujaan di bagian hulu lantai teratas.
  3. Rumah Susun.
    Untuk rumah Susun tinggi langit- langit setidak- tidaknya setinggi orang ditambah 12 jari. Tempat pemujaan berbentuk pelangkiran ditempatkan di bagian hulu ruangan.

Dewasa Membangun Rumah

  1. Dewasa Ngeruwak:
    Wewaran : Beteng, Soma, Buda, Wraspati, Sukra, Tulus, Dadi.
    Sasih: Kasa, Ketiga, Kapat, Kedasa.
  2. Nasarin:
    Watek: Watu.
    Wewaran: Beteng, soma, Budha, Wraspati, Sukra, was, tulus, dadi,
    Sasih: Kasa, Katiga, Kapat, Kalima. Kanem.
  3. Nguwangun
    Wewaran: Beteng, Soma, Budha, Wraspati, Sukra, tulus, dadi.
  4. Mengatapi
    Wewaran : Beteng, was, soma, Budha, Wraspati, Sukra, tulus, dadi.
    Dewasa ala : geni Rawana, Lebur awu, geni murub, dan lain- lainnya.
  5. Memakuh/ Melaspas
    Wewaran : Beteng, soma, Budha. Wraspati, Sukra, tulus, dadi.
    Sasih : Kasa, Katiga, Kapat, Kadasa.

Upacara Membangun Rumah

  1. Upacara Nyapuh sawah dan tegal.
    Apabila ada tanah sawah atau tegal dipakai untuk tempat tinggal.
    Jenis upakara : paling kecil adalah tipat dampulan, sanggah cucuk, daksina l, ketupat kelanan, nasi ireng, mabe bawang jae.
    Setelah "Angrubah sawah" dilaksanakan asakap- sakap dengan upakara Sanggar Tutuan, suci asoroh genep, guling itik, sesayut pengambeyan, pengulapan, peras panyeneng, sodan penebasan, gelar sanga sega agung l, taluh 3, kelapa 3, benang + pipis.
  2. Upacara pangruwak bhuwana dan nyukat karang, nanem dasar wewangunan.
    Upakaranya ngeruwak bhuwana adalah sata/ ayam berumbun, penek sega manca warna.
    Upakara Nanem dasar: pabeakaonan, isuh- isuh, tepung tawar, lis, prayascita, tepung bang, tumpeng bang, tumpeng gede, ayam panggang tetebus, canang geti- geti.
  3. Upakara Pemelaspas.
    Upakaranya : jerimpen l dulang, tumpeng putih kuning, ikan ayam putih siungan, ikan ayam putih tulus, pengambeyan l, sesayut, prayascita, sesayut durmengala, ikan ati, ikan bawang jae, sesayut Sidhakarya, telur itik, ayam sudhamala, peras lis, uang 225 kepeng, jerimpen, daksina l, ketupat l kelan, canang 2 tanding dengan uang II kepeng.
    Oleh karena situasi dan kondisi di suatu tempat berbeda, maka upacara
  4. dan upakara tersebut di atas disesuaikan
    dengan kondisi setempat

Fengshui ala Bali

Tanah dan tata letak rumah berpengruh terhadap kehidupan penghuninya. Lontar Asta Kosala Kosali atau Asta Bumi bisa dijadikan acuan. Bagaimanakah bangunan arsitek bali yang bisa membuat penghuninya bisa nyaman dan bahagia.
Menurut ida Pandita dukuh Samyaga,perkebangan arsitektur bangunan Bali,tak lepas dari peran beberapa tokoh sejarah bali Aga berikut zaman Majapahit. Tokoh Kebo Iwa dan Mpu Kuturan yang hidup pada abad ke 11,atau zaman pemerintahan Raja Anak wungsu di Bali banyak mewarisi landasan pembanguna arsitektur Bali.
Danghyang Nirartha yang hidup pada zaman Raja Dalem Waturenggong setelah ekspidisi Gajah Mada ke Bali abad 14,juga ikut mewarnai khasanah arsitektur tersebut ditulis dalam lontar Asta Bhumi dan Asta kosala-kosali yang menganggap Bhagawan Wiswakarma sebagai dewa para arsitektur.
Penjelasan dikatakan oleh Ida Pandita Dukuh Samyaga.Lebih jauh dikemukakan,Bhagawan Wiswakarma sebagai Dewa Arsitektur,sebetulnya merupakan tokoh dalam cerita Mahabharata yang dimintai bantuan oleh Krisna untuk membangun kerjaan barunya.Dalam kisah tersebut,hanya Wismakarma yang bersatu sebagai dewa kahyangan yang bisa menyulap laut menjadi sebuah kerajaan untuk Krisna.Kemudian secara turun-temurun oleh umat Hindu diangap sebagai dewa arsitektur.Karenanya,tiap bangunan di bali selalu disertai dengan upacara pemujaan terhadap Bhagawan Wiswakarma.Upacara demikian di lakukan mulai dari pemilihan lokasi,membuat dasar bagunan sampai bangunan selesai.Hal ini bertujuan minta restu kepada Bhagawan Wiswakarma agar bangunan itu hidup dan memancarkan vibrasi positif bagi penghuninya.Menurut kepercayaan masyarakat Hindu Bali,bangunan memiliki jiwa bhuana agung (alam makrokosmos)sedangkan manusia yang menepati bangunan adalah bagian dari buana alit (mikrokosmos).Antara manusia (mikrokosmos)dan bangunan yang ditempati harus harmonis,agar bisa mendapatkan keseimbangan anatara kedua alam tersebut. Karena itu,mebuat bagunan harus sesuai dengan tatacara yang ditulis dalam sastra Asta Bhumi dan Atas Kosala-kosali sebagai fengsui Hindu Bali.

Tanah

Membuat rumah yang dapt mendatangkan keberuntungan bagi penghuninya,bagi rohaniwan dari Banjar Semaga,Desa Penatih,Denpasar ini harus diawali dengan pemilihan lokasi(tanah)yang pas.Lokasi yang bagus dijadikan bagunan adalah tanah yang posisinya lebih rendah (miring)ke timur(sebelum direklamasi).Namun di luar lahan bukan milik kita,posisinya lebih tinggi.Demikian juga tanah bagian utaranya juga harus lebih tinggi.Bila tanah di pinggir jalan,usahakan posisinya tanah dipeluk jalan.Sangat baik bila ada air di arah selatan tetapi bukan dari sungai yang mengalir deras.Air harus berjalan pelan,tetapi posisi sungai juga harus memeluk tanah ,bukan sebaliknya menebas lokasi tanah.Diyakini,aliran air yang lambat membuat Dewa air sebagai pembawa kesuburan dan rejeki banyak terserap dalam deras.
Selain letak tanah,tekstur tanah juga harus dipastikan memiliki kualitas baik.Tanah berwarna kemerahan dan tidak berbau termasuk jenis tanah yang bagus untuk tempat tinggal.Untuk menguji tekstur tanah,cobalah genggam tanah tersebut.Jika setelah lepas dari genggaman tanah itu terurai lagi,berarti kualitas tanah tersebut cocok dipilih untuk lokasi perumahan.Cara lain untuk menguji tekstur tanah yang baik adalah dengan cara melubangi tanah tersebut sedalam 40 Cm persegi.Kemudian lubang itu diurug(ditimbun)lagi dengan tanah galian tadi.jika lubang penuh atau kalau bisa ada sisa oleh tanah urugan itu,berati tanah itu bagus untuk rumah.Sebaliknya jika tanah untuk menutup lubang tidak bisa memenuhi(jumlahnya kurang)berati tanah tersebut tidak bagus dan tidak cocok untuk rumah karena tergolong tanah anggker.Akan lebih baik memilih tanah yang terletak di utara jalan karena lebih mudah untuk melakukan penataan bangunan menurut konsep Asta kosala-kosali.Misalnya membuat pintu masuk rumah,letak bangunan,dan tempat suci keluarga (merajan/sanggah).Lokasi seperti ini memungkinkan untuk menangkap sinar baik untuk kesehatan.Tata letak pintu masuk yang sesuai,akan memudahkan menangkap Dewa Air mendatangkan rejeki.

Kurang Bagus

Jangan membangun rumah di bekas tempat-tempat umum seperti bekas balai banjar (balai masyarakat),bekas pura(tempat suci),tanah bekas tempat upacara ngaben massal(pengorong/peyadnyan)bekas gria(tempat tinggal pedande/pendeta)dan tanah bekas kuburan.Usahakan pula untuk tidak memilih lokasi (tanah)bersudut tiga atau lebih dari bersudut empat.Tanah di puncak ketinggian,di bawah tebing atau jalan juga kurang bagus untuk rumah karena membuat rejeki seret dan penghuninya akan sakit – sakitan.Demikian juga tanah yang terletak di pertigaan atau di perempatan jalan(simpang jalan)tidak bagus untuk tempat tinggal tetapi cocok untuk tempat usaha.Tanah jenis ini termasuk tanah angker karena merupakan tempat hunian Sang Hyang Durga Maya dan Sang Hyang Indra Balaka.

Tata Letak Bagunan

Setelah direklamasi (ditata)diusahkan bangunan yang terletak di timur,lantainya lebih tinggi sebab munurut masyarakat bali selatan umumnya,bagian timur dianggap sebagai hulu(kepala)yang disucikan.Sedangkan menurut fungsui,posisi bangunan seperti itu memberi efek positif.Sinar matahari tidak terlalu kencang,dan air tidak sampai ke bagian hulu.Bagunan yang cocok untuk ditempatkan diareal itu adalah tempat suci keluarga yg disebut merajan atau sanggah.Dapur diletakan di arah barat (baratdaya)dihitung dari tempat yang di anggap sebagai hulu (tempat suci)atau di sebelah kiri pintu masuk areal rumah,karena menurut konsep lontar Asta Bumi,tempat ini sebagai letak Dewa Api.Sumur dan lumbung tempat penyimpanan padi sedapat mungkin diletakan di sebelah timur atau utara dapur.Atau di sebelah kanan pintu gerbang masuk rumah karena melihat posisi Dewa Air.
Bagunan balai Bandung (tempat tidur)diletakan diarah utara,sedangkan balai adat atau balai gede ditempatkan disebelah timur dapur dan diselatan balai Bandung.Bangunan penunjang lainnya diletakkan di sebelah selatan balai adat.

Pintu Masuk

Selain menemukan posisinya yang tepat untuk menangkap dewa air sebagai sumber rejeki ukuran pintu masuk juga harus diatur.jika membuat pintu masuk lebih dari satu,lebar pintu masuk utama dan lainya tidak boleh sama.Termasuk tinggi lantainya juga tidak boleh sama.Lantai pintu masuk utama (dibali berbentuk gapura/angkul - angkul) harus dibuat lebih tinggi dari pintu masuk mobil menuju garase.jika dibuat sama akan memberi efek kurang menguntungkan bagi penghuninya bisa boros atau sakit-sakitan.Akan sangat bagus bila di sebelah kiri (sebelah timur jika rumah mengadap selatan)diatur jambangan air (pot air)yang disi ikan.Ini sebagai pengundang Dewa Bumi untuk memberi kesuburan seisi rumah.Tak menempatkan benda – benda runcing dan tajam yang mengarah ke pintu masuk rumah seperti penempatan meriam kuno,tiang bendera,listrik dan tiang telepon atau tataman yang berbatang tinggi seperti pohon palm,karena membuat penghuninya sakit sakitan akibat tertusuk.Got dan tempat pembungan kotoran sedapat mungkin di buat di posisi hilir dan lebih rendah dari pintu masuk.Kalau menempatkan kolam di pekarangan rumah hendaknya dibuat di atas permukaan tanah(bukan lobang).Kolam di buat di sebelah kanan pintu masuk dengan posisi memelu rumah,bukan berlawanan.Karena keberadaan kolam yang tidak sesuai akan mempengaruhi kesehatan penghuni rumah.

Asta Kosala Kosali untuk Rumah Bali

Asta Kosala Kosali merupakan sebuah cara penataan lahan untuk tempat tinggal dan bangunan suci. penataan Bangunan yang dimana di dasarkan oleh anatomi tubuh yang punya. Pengukurannya pun lebih menggunakan ukuran dari Tubuh yang mpunya rumah. mereka tidak menggunakan meter tetapi menggunakan seperti
  • Musti (ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas),
  • Hasta (ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka)
  • Depa (ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan)
Jadi nanti besar rumahnya akan ideal sekali dengan yang punya rumah. begitu.
Selain itu, konsep ini juga berdasarkan oleh kepercayaan masyarakat Bali akan Buana Agung (makrokosmos) dan Buana Alit (Mikrokosmos). Kosmologi Bali itu bisa digambarkan secara hirarki atau berurutan seperti:

  1. Bhur, alam semesta tempat bersemayamnya para dewa.
  2. Bwah, alam manusia dan kehidupan keseharian yang penuh dengan godaan duniawi, yang berhubungan dengan materialisme
  3. Swah, alam nista yang menjadi simbolis keberadaan setan dan nafsu yang selalu menggoda manusia untuk berbuat menyimpang dari dharma.
Selain itu juga Konsep ini berpegang juga kepada mata angin, 9 mata angin(Nawa Sanga). Setiap bangunan itu memiliki tempat sendiri. seperti misalnya Dapur, karena berhubungan dengan Api maka Dapur ditempatkan di Selatan, Tempat Sembahyang karena berhubungan dengan menyembah akan di tempatkan di Timur tempat matahari Terbit. dan Karena Sumur menjadi sumber Air maka ditempatkan di Utara dimana Gunung berada DSB.
Selain itu sosial status juga menjadi pedoman. seperti misalnya kasta di masyarakat. jadi rumah di bali itu ada yang disebut Puri juga atau Jeroan. nah kalo yang ini biasanya dibangun oleh kasta Kesatria. tapi karena sekarang banyak yang sudah kaya di Bali, jadi siapapun boleh bikin yang seperti ini. tetapi mungkin nanti bedanya di Tempat Persembahyangan di Dalamnya saja.
Kasta itu merupakan sistem hirarki, nah kalo di Bali Hirarkial itu juga berpengaruh terhadap tata ruang bangunan rumah. Dalam pembuatan rumah, rumah akan dibagi:
  • Jaba untuk bagian paling luar bangunan.
  • Jaba Jero untuk mendifinisikan bagian ruang antara luar dan dalam, atau ruang tengah.
  • Jero untuk mendiskripsikan ruang bagian paling dalam dari sebuah pola ruang yang dianggap sebagai ruang paling suci atau paling privacy bagi rumah tinggal.
Konsep ini juga disebutkan tentang teknik konstruksi dan materialnya. ada namanya Tri Angga, yang terdiri dari Nista Madya dan Utama. di bangunan Bali terdapat beberapa konstruksi yang mengacu ke b. kita bahas sekarang ya gimana sih konstruksinya. kita mulai dari Nista.
Nista menggambarkan hirarki paling bawah dari sebuah bangunan, diwujudkan dengan pondasi rumah atau bawah rumah sebagai penyangga rumah. bahannya pun biasanya terbuat dari Batu bata atau Batu gunung.
Madya adalah bagian tengah bangunan yang diwujudkan dalam bangunan dinding, jendela dan pintu. Madya mengambarkan strata manusia atau alam manusia
Utama adalah symbol dari bangunan bagian atas yang diwujudkan dalam bentuk atap yang diyakini juga sebagai tempat paling suci dalam rumah sehingga juga digambarkan tempat tinggal dewa atau leluhur mereka yang sudah meninggal. Pada bagian atap ini bahan yang digunakan pada arsitektur tradisional adalah atap ijuk dan alang-alang.
Selain itu juga, ada konsepnya berdasarkan kelipatan tiang atau kolom seperti itu.
Rumah tinggal di Bali itu tidak dijadikan satu, disini dibagi menjadi beberapa ruangan yang dimana bangunannya dipisah. mungkin kalo pemikiran, kalo terjadi bencana seperti kebakaran yang terbakar hanya satu bagian doang, yang lain tidak. trus kalo terjadi gempa, gampang untuk keluar rumah. selain itu halaman juga banyak. coba yuk kita lihat apa saja bagian-bagian rumahnya.

  1. Angkul-angkul yaitu entrance yang berfungsi seperti candi bentar pada pura yaitu sebagai gapura jalan masuk.
  2. Aling-aling adalah bagian entrance yang berfungsi sebagai pengalih jalan masuk sehingga jalan masuk tidak lurus kedalam tetapi menyamping. Hal ini dimaksudkan agar pandangan dari luar tidak langsung lurus ke dalam.
  3. Latar atau halaman tengah sebagai ruang luar.
  4. Pamerajan ini adalah tempat upacara yang dipakai untuk keluarga. Dan pada perkampungan tradisional biasanya setiap keluarga mempunyai pamerajan yang letaknya di Timur Laut pada sembilan petak pola ruang.
  5. Umah Meten yaitu ruang yang biasanya dipakai tidur kapala keluarga sehingga posisinya harus cukup terhormat.
  6. Bale Tiang Sanga biasanya digunakan sebagai ruang untuk menerima tamu
  7. Bale Sakepat, bale ini biasanya digunakan untuk tempat tidur anakanak atau anggota keluarga lain yang masih junior.
  8. Bale Dangin biasanya dipakai untuk duduk-duduk membuat bendabenda seni atau merajut pakaian bagi anak dan suaminya.
  9. Paon(Dapur) yaitu tempat memasak bagi keluarga.
  10. Lumbung sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen, berupa padi dan hasil kebun lainnya.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review