Sabtu, 05 November 2011

Urutan Sembahyang

Urutan-urutan sembah baik pada waktu sembahyang sendiri ataupun sembahyang bersama yang dipimpin oleh Sulinggih atau seorang Pemangku adalah seperti di bawah ini:
  1. Sembah puyung (sembah dengan tangan kosong)
  2. Mantram:
    Om atma tattvatma suddha mam svaha.

    Om atma, atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba.
  3. Menyembah Sanghyang Widhi sebagai Sang Hyang Aditya
  4. Mantram:
    Om Aditisyaparamjyoti,
    rakta teja namo'stute,
    sveta pankaja madhyastha,
    bhaskaraya namo'stute

    Om, sinar surya yang maha hebat,
    Engkau bersinar merah,
    hormat padaMu,
    Engkau yang berada di tengah-tengah teratai putih,
    Hormat padaMu pembuat sinar.
  5. Menyembah Tuhan sebagai Ista Dewata pada hari dan tempat persembahyangan
  6. Mantram:
    Om nama deva adhisthannaya,
    sarva vyapi vai sivaya,
    padmasana ekapratisthaya,
    ardhanaresvaryai namo namah

    Om, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat yang inggi, kepada Siwa yang sesungguhnyalah berada dimana-mana, kepada Dewa yang yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai sebagai satu tempat, kepada Adhanaresvari, hamba menghormat
  7. Menyembah Tuhan sebagai Pemberi Anugrah
  8. Mantram:
    Om anugraha manohara,
    devadattanugrahaka,
    arcanam sarvapujanam
    namah sarvanugrahaka.
    Deva devi mahasiddhi,
    yajnanga nirmalatmaka,
    laksmi siddhisca dirghayuh,
    nirvighna sukha vrddhisca

    Om, Engkau yang menarik hati, pemberi anugerah,
    anugerah pemberian dewa, pujaan semua pujaan,
    hormat pada-Mu pemberi semua anugerah.
    Kemahasidian Dewa dan Dewi, berwujud yadnya, pribadi suci,
    kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegem- biraan dan kemajuan
  9. Sembah puyung (Sembah dengan tangan kosong)
  10. Mantram:
    Om deva suksma paramacintyaya nama svaha

    Om, hormat pada Dewa yang tak terpikirkan yang maha tinggi yang gaib

Tri Sandya

Puja:

  1. Om bhur bhuvah svah
    tat savitur varenyam
    bhargo devasya dhimahi
    dhiyo yo nah pracodayat
  2. Om Narayana evedwam sarvam
    yad bhutam yac ca bhavyam
    niskalanko niranjano
    nirvikalpo nirakhyatah
    suddho deva eko
    narayana na dvitiyo
    asti kascit.
  3. Om tvam siwah tvam mahadevah
    Iswarah paramesvarah
    brahma visnusca rudrasca
    purusah parikirtitah
  4. Om papo'ham papakarmaham
    papatma papasambhavah
    trahi mam pundarikaksa
    sabahyabhyantarah sucih
  5. Om ksamasva mam mahadeva
    sarvaprani hitankara
    mam moca sarva papebhyah
    palayasva sada siva
  6. Om ksantavyah kayiko dosah
    ksantavyo. vaciko mama
    ksantavyo manaso dosah
    tat pramadat ksamasva mam
Om Santih, Santih, Santih Om.

Terjemahan:

  1. Ya Hyang Widhi yang menguasai ketiga dunia ini,
    Yang maha suci dan sumber segala kehidupan,
    sumber segala cahaya,
    semoga limpahkan pada budi nurani kami penerangan sinar cahayaMu yang maha suci.
  2. Ya Hyang Widhi, darimulah segala yang sudah ada dan yang akan ada di alam ini berasal dan kembali nantinya.
    Engkau adaIah gaib, tiada berwujud,
    di atas segala kebingungan, tak termusnahkan.
    Engkau adalah maha cemerlang, maha suci, maha esa dan tiada duanya.
  3. Engkau disebut Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma dan Wisnu dan juga Rudra.
    Engkau adalah asal mula dari segala yang ada.
  4. Oh Hyang Widhi Wasa, hamba ini papa,
    jiwa hamba papa dan kelahiran hambapun papa,
    perbuatan hamba papa,
    Ya Hyang Widhi, selamatkanlah hamba dari segala kenistaan ini, dapatlah disucikan lahir dan batin hamba.
  5. Ampunilah hamba. oh Hyang Widhi, penyelamat segala makhluk.
    Lepaskanlah , kiranya hamba dari segala kepapaan ini dan tuntunlah hamba, selamatkan dan lindungilah hamba oh Hyang Widhi Wasa.
  6. Oh Hyang Widhi Wasa, ampunilah segala dosa hamba, ampunilah dosa dari ucapan hamba dan
    ampunilah pula dosa dari pikiran hamba.
    Ampunilah hamba atas segaIa kelalaian hamba itu.
Semoga damai diketiga dunia.

Leak Ngendih

Leak merupakan suatu ilmu kuno yang diwariskan oleh leluhur Hindu di Bali. Pada zaman sekarang ini orang bertanya-tanya apa betul leak itu ada?, apa betul leak itu menyakiti? Secara umum leak itu tidak menyakiti, leak itu proses ilmu yang cukup bagus bagi yang berminat. Karena ilmu leak juga mempunyai etika-etika tersendiri. Tidak gampang mempelajari ilmu leak. Dibutuhkan kemampuan yang prima untuk mempelajari ilmu leak. Di masyarakat sering kali leak dicap menyakiti bahkan bisa membunuh manusia, padahal tidak seperti itu. Ilmu leak juga sama dengan ilmu yang lainnya yang terdapat dalam lontar-lontar kuno Bali. Dulu ilmu leak tidak sembarangan orang mempelajari, karena ilmu leak merupakan ilmu yang cukup rahasia sebagai pertahanan serangan dari musuh.
Orang Bali Kuno yang mempelajari ilmu ini adalah para petinggi-petinggi raja disertai dengan bawahannya. Tujuannya untuk sebagai ilmu pertahanan dari musuh terutama serangan dari luar. Orang-orang yang mempelajari ilmu ini memilih tempat yang cukup rahasia, karena ilmu leak ini memang rahasia. Jadi tidak sembarangan orang yang mempelajari. Namun zaman telah berubah otomatis ilmu ini juga mengalami perubahan sesuai dengan zamannya. Namun esensinya sama dalam penerapan. Yang jelas ilmu leak tidak menyakiti. Yang menyakiti itu ilmu teluh atau nerangjana, inilah ilmu yang bersifat negatif, khusus untuk menyakiti orang karena beberapa hal seperti balas dendam, iri hati, ingin lebih unggul, ilmu inilah yang disebut pengiwa. Ilmu pengiwa inilah yang banyak berkembang di kalangan masyarakat seringkali dicap sebagai ilmu leak. Seperti yang dikatakan diatas leak itu memang ada sesuai dengan tingkatan ilmunya termasuk dengan endih leak. Endih leak ini biasanya muncul pada saat mereka lagi latihan atau lagi bercengkrama dengan leak lainnya baik sejenis maupun lawan jenis. Munculnya endih itu pada saat malam hari khususnya tengah malam. Harinya pun hari tertentu tidak sembarangan orang menjalankan untuk melakukan ilmu tersebut.
Mengapa ditempat angker? Ini sesuai dengan ilmu leak dimana orang yang mempelajari ilmu ini harus di tempat yang sepi, biasanya di kuburan atau di tempat sepi. Endih ini bisa berupa fisik atau jnananya (rohnya) sendiri, karena ilmu ini tidak bisa disamaratakan bagi yang mempelajarinya. Untuk yang baru-baru belajar, endih itu adalah lidahnya sendiri dengan menggunakan mantra atau dengan sarana. Dalam menjalankan ilmu ini dibutuhkan sedikit upacara. Sedangkan yang melalui jnananya (rohnya), pelaku menggunakan sukma atau intisari jiwa ilmu leak. Sehingga kelihatan seperti endih leak, padahal ia diam di rumahnya. Yang berjalan hanya jiwa atau suksma sendiri.
Bentuk endih leak ini beraneka ragam sesuai dengan tingkatannya. Ada seperti bola, kurungan ayam, tergantung pakem (etika yang dipakai). Ilmu ini juga memegang etika yang harus dipatuhi oleh penganutnya. Endih leak ini tidak sama dengan sinar penerangan lainnya, kalau endih leak ini biasanya tergantung dari yang melihatnya. Kalau yang pernah melihatnya, endih berjalan sesuai dengan arah mata angin, endih ini kelap-kelip tidak seperti penerangan lainnya hanya diam. Warnanya pun berbeda, kalau endih leak itu melebihi dari satu warna dan endih itu berjalan sedangkan penerangan biasanya warna satu dan diam. Karena endih leak ini memiliki sifat gelombang elektromagnetik mempunyai daya magnet. Ilmu leak tidak menyakiti. Orang yang kebetulan melihatnya tidak perlu waswas. Bersikap sewajarnya saja. Kalau takut melihat, ucapkanlah nama nama Tuhan. Endih ini tidak menyebabkan panas. Dan endih tidak bisa dipakai untuk memasak karena sifatnya beda. Endih leak bersifat niskala, tidak bisa dijamah. Leak Shoping di Kuburan Pada dasarnya, ilmu leak adalah ilmu kerohanian yang bertujuan untuk mencari pencerahan lewat aksara suci.
Dalam aksara Bali tidak ada yang disebut leak. Yang ada adalah “liya, ak” yang berarti lima aksara (memasukan dan mengeluarkan kekuatan aksara dalam tubuh melalui tata cara tertentu). Lima aksara tersebut adalah Si, Wa, Ya, Na, Ma.
  • Si adalah mencerminkan Tuhan
  • Wa adalah anugrah
  • Ya adalah jiwa
  • Na adalah kekuatan yang menutupi kecerdasan
  • Ma adalah egoisme yang membelenggu jiwa
Kekuatan aksara ini disebut panca gni (lima api).
Manusia yang mempelajari kerohanian apa saja, apabila mencapai puncaknya dia pasti akan mengeluarkan cahaya (aura). Cahaya ini keluar melalui lima pintu indria tubuh yakni telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan. Pada umumnya cahaya itu keluar lewat mata dan mulut. Sehingga apabila kita melihat orang di kuburan atau tempat sepi, api seolah-olah membakar rambut orang tersebut.
Pada prinsipnya, ilmu leak tidak mempelajari bagaimana cara menyakiti seseorang. Yang dipelajari adalah bagaimana mendapatkan sensasi ketika bermeditasi dalam perenungan aksara tersebut. Ketika sensasi itu datang, maka orang itu bisa jalan-jalan keluar tubuhnya melalui ngelekas atau ngerogo sukmo. Kata ngelekas artinya kontaksi batin agar badan astra kita bisa keluar. Ini pula alasannya orang ngeleak. Apabila sedang mempersiapkan puja batinnya disebut angeregep pengelekasan. Sampai di sini roh kita bisa jalan-jalan dalam bentuk cahaya yang umum disebut endih. Bola cahaya melesat dengan cepat. Endih ini adalah bagian dari badan astral manusia (badan ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu) Di sini pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam dimensi batin yang lain. Jangan salah, dalam dunia pengeleakan ada kode etiknya. Sebab tidak semua orang bisa melihat endih. Juga tidak sembarangan berani keluar dari tubuh kasar kalau tidak ada kepentingan mendesak.
Peraturan yang lain juga ada seperti tidak boleh masuk atau dekat dengan orang mati. Orang ngeleak hanya shoping-nya di kuburan (pemuwunan). Apabila ada mayat baru, anggota leak wajib datang ke kuburan untuk memberikan doa agar rohnya mendapat tempat yang baik sesuai karmanya. Begini bunyi doa leak memberikan berkat : ong, gni brahma anglebur panca maha butha, anglukat sarining merta. mulihankene kite ring betara guru, tumitis kita dadi manusia mahatama. ong rang sah, prete namah. Sambil membawa kelapa gading untuk dipercikan sebagai tirta. Nah, di sinilah ada perbedaan pandangan bagi orang awam.
Dikatakan bahwa leak ke kuburan memakan mayat, atau meningkatkan ilmu. Kenapa harus di kuburan? Paham leak adalah apa pun status dirimu menjadi manusia, orang sakti, sarjana, kaya, miskin, akan berakhir di kuburan. Tradisi sebagian orang di India tidak ada tempat tersuci selain di kuburan. Kenapa demikian? Di tempat inilah para roh berkumpul dalam pergolakan spirit.
Di Bali kuburan dikatakan keramat, karena sering muncul hal-hal yang menyeramkan. Ini disebabkan karena kita jarang membuka lontar tatwaning ulun setra. Sehingga kita tidak tahu sebenarnya kuburan adalah tempat yang paling baik untuk bermeditasi dan memberikan berkat doa. Sang Buda Kecapi, Mpu Kuturan, Gajah Mada, Diah Nateng Dirah, Mpu Bradah, semua mendapat pencerahan di kuburan. Di Jawa tradisi ini disebut tirakat. Leak juga mempunyai keterbatasan tergantung dari tingkatan rohani yang dipelajari. Ada tujuh tingkatan leak. Leak barak (brahma). Leak ini baru bisa mengeluarkan cahaya merah api. Leak bulan, leak pemamoran, leak bunga, leak sari, leak cemeng rangdu, leak siwa klakah.
Leak siwa klakah inilah yang tertinggi. Sebab dari ketujuh cakranya mengeluarkan cahaya yang sesuai dengan kehendak batinnya. Setiap tingkat mempunyai kekuatan tertentu. Di sinilah penganut leak sering kecele, ketika emosinya labil. Ilmu tersebut bisa membabi buta atau bumerang bagi dirinya sendiri. Hal inilah membuat rusaknya nama perguruan. Sama halnya seperti pistol, salah pakai berbahaya. Makanya, kestabilan emosi sangat penting, dan disini sang guru sangat ketat sekali dalam memberikan pelajaran.
Selama ini leak dijadikan kambing hitam sebagai biang ketakutan serta sumber penyakit, atau aji ugig bagi sebagian orang. Padahal ada aliran yang memang spesial mempelajari ilmu hitam disebut penestian. Ilmu ini memang dirancang bagaimana membikin celaka, sakit, dengan kekuatan batin hitam. Ada pun caranya adalah dengan memancing kesalahan orang lain sehingga emosi. Setelah emosi barulah dia bereaksi. Emosi itu dijadikan pukulan balik bagi penestian.
Ajaran penestian menggunakan ajian-ajian tertentu, seperti aji gni salembang, aji dungkul, aji sirep, aji penangkeb, aji pengenduh, aji teluh teranjana. Ini disebut pengiwa (tangan kiri). Kenapa tangan kiri, sebab setiap menarik kekuatan selalu memasukan energi dari belahan badan kiri. Pengiwa banyak menggunakan rajah-rajah (tulisan mistik). Juga pintar membuat sakit dari jarak jauh, dan dijamin tidak bisa dirontgent di lab. Yang paling canggih adalah cetik (racun mistik). Aliran ini bertentangan dengan pengeleakan. Apabila perang, beginilah bunyi mantranya: "Ong siwa gandu angimpus leak, Siwa sumedang anundung leak, Mapan aku mapawakan segara gni...". Ilmu Leak ini sampai saat ini masih berkembang karena pewarisnya masih ada, sebagai pelestarian budaya Hindu di Bali.
Untuk menyaksikan leak ngendih datanglah pada hari Kajeng Kliwon Enjitan di Kuburan pada saat tengah malam.

Ratu Leak

Aji Wegig berbicara tentang adat istiadat di Bali dikaitkan dengan arus modernisasi, masih tetap ajeg dan kuat berakar di hati sanubari masyarakat Bali.
Ilmu Hitam yang di kenal dengan istilah "Pengeleakan" di bali, adalah merupakan suatu ilmu yang diturunkan oleh Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dengan segala manifestasinya dalam fungsinya untuk memprelina (memusnahkan ) manusia di muka bumi.
Di Bali Ilmu tersebut dikenal masyarakat luas sejak dulu, ilmu ini memang teramat sadis karena dapat membunuh manusia dalam waktu yang relatif singkat.
Ilmu Leak dapat juga menyebabkan manusia mati secara perlahan yang dapat menimbulkan penderitaan yang hebat dan berkepanjangan.
Dalam masyarakat Bali khususnya yang beragama Hindu dikenal dengan istilah “Rua Bineda” yaitu Rua berarti dua dan Bineda berarti berbeda yang artinya ada dua yang selalu berbeda, seperti adanya siang dan malam, ada suka dan duka, ada hidup dan mati.
Demikian pula dengan ilmu ini ada ilmu yang beraliran kiri disebut Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan dan sebagai penangkalnya ada ilmu yang beraliran kanan atau Ilmu Putih.
Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan, tergolong "Aji Wegig" yaitu aji berarti ilmu, wegig berarti begig yaitu suatu sifat yang suka menggangu orang lain.
Karena sifatnya negative, maka ilmu ini sering disebut "Ngiwa". 
Ngiwa asal katanya kiwa (Bahasa Bali) artinya kiri.
Ngiwa berarti melakukan perbuatan kiwa alias kiri.
Ilmu leak ini bisa dipelajari pada lontar – lontar yang memuat serangkaian Ilmu Hitam.
Lontar –lontar artinya buku – buku jaman kuno yang terbuat dari daun pohon lontar yang dibuat sedemikian rupa dengan ukuran panjang 30 cm dan lebar 3 cm, diatas lontar diisi tulisan aksara Bali dengan bahasa yang sangat sakral.
Pada jaman Raja Airlangga yang berkuasa di Kerajaan Kediri yaitu pada abad ke-14 ada seorang Ibu yang menguasai Ilmu Pengleakan yang bernama Ibu Calonarang. Pada waktu Ibu Calonarang masih hidup pernah menulis buku lontar Ilmu Pengleakan empat buah yaitu :
Lontar Cambra Berag, Lontar Sampian Emas, Lontar Tanting Emas, Lontar Jung Biru.
Calonarang adalah nama julukan seorang perempuan yang bernama Dayu Datu dari Desa Girah yaitu Desa pesisir termasuk wilayah Kerajaan Kediri.
Calonarang berstatus Janda sehingga sering disebut Rangda Nateng Girah yaitu Rangda artinya Janda atau dalam bahasa Bali disebut balu, Nateng artinya Raja (Penguasa). Girah adalah nama suatu desa. Jadi ‘’Rangda Nateng Girah’’ artinya Janda Penguasa desa Girah. 
Calonarang adalah Ratu Leak yang sangat sakti, pada jaman itu bisa membuat wilayah Kerajaan Kediri Gerubug (wabah) yang dapat mematikan rakyatnya dalam waktu singkat, yaitu pada wilayah pesisir termasuk wilayah desa Girah.

Kisah: 

Di Kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Airlangga yaitu didesa Girah ada sebuah Perguruan Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan yang dipimpin oleh seorang janda yang bernama Ibu Calonarang (nama julukan dari Dayu Datu).
Murid – muridnya semua perempuan dan diantaranya ada empat murid yang ilmunya sudah tergolong tingkat senior antara lain : Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, Nyi Sedaksa.

Ilmu Leak dan Tingkatan-tingkatannya

  1. Ilmu Leak Tingkat Bawah yaitu orang yang bisa ngeleak tersebut bisa merubah wujudnya menjadi binatang seperti monyet, anjing, ayam putih, kambing, babi betina (bangkung) dan lain – lain.
  2. Ilmu Leak Tingkat Menengah yaitu orang yang bisa ngeleak pada tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Burung Garuda bisa terbang tinggi, paruh dan cakarnya berbisa, matanya bisa keluar api, juga bisa berubah wujud menjadi Jaka Tungul atau pohon enau tanpa daun yang batangnya bisa mengeluarkan api dan bau busuk yang beracun.
  3. Ilmu Leak Tingkat Tinggi yaitu orang yang bisa ngeleak tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Bade yaitu berupa menara pengusungan jenasah bertingkat dua puluh satu atau tumpang selikur dalam bahasa Bali dan seluruh tubuh menara tersebut berisi api yang menjalar – jalar sehingga apa saja yang kena sasarannya bisa hangus menjadi abu.

Ibu Calonarang Terhina 

Ibu Calonarang juga mempunyai anak kandung seorang putri yang bernama Diah Ratna Mengali, berparas cantik jelita, tetapi putrinya tidak ada satupun pemuda yang melamarnya.
Karena Diah Ratna Mangali diduga bisa ngelelak, dengan di dasarkan pada hukum keturunan yaitu kalau Ibunya bisa ngeleak maka anaknyapun mewarisi ilmu leak itu, begitulah pengaduan dari Nyi Larung yaitu salah satu muridnya yang paling dipercaya oleh Ibu Calonarang.
Mendengar pengaduan tersebut, tampak nafas Ibu Calonarang mulai meningkat, pandangan matanya berubah seolah-olah menahan panas hatinya yang membara. Pengaduan tersebut telah membakar darah Ibu Calonarang dan mendidih, terasa muncrat dan tumpah ke otak. Penampilannya yang tadinya tenang, dingin dan sejuk, seketika berubah menjadi panas, gelisah. Kalau diibaratkan Sang Hyang Wisnu berubah menjadi Sang Hyang Brahma, air berubah menjadi api. Tak kuasa Ibu Calonarang menahan amarahnya. Tak kuat tubuhnya yang sudah tua tersebut menahan gempuran fitnah yang telah ditebar oleh masyarakat Kerajaan Kediri.
Ibu Calonarang sangat sedih bercampur berang, sedih karena khawatir putrinya bakal jadi perawan tua, itu berarti keturunannya akan putus dan tidak bisa pula menggendong cucu, berang karena putrinya dituduh bisa ngeleak.
Ibu Calonarang berkata kepada Nyi Larung : “Hai Nyi Larung, penghinaan ini bagaikan air kencing dan kotoran ke wajah dan kepalaku. Aku akan membalas semua ini, rakyat Kediri akan hancur lebur, dan luluh lantak dalam sekejap. Semua orang-orangnya akan mati mendadak. Laki-laki, perempuan, tua muda, semuanya akan menanggung akibat dari fitnah dan penghinaan ini. Kalau tidak tercapai apa yang aku katakan ini, maka lebih baik aku mati, percuma jadi manusia. Kalau Ibu Calonarang ini tidak melakukan balas dendam maka hati ini tidak akan merasa tentram”.
Demikian kata-kata Ibu Calonarang yang sangat mengerikan kalau seandainya hal ini menjadi kenyataan. Nyi Larung kemudian menyahut dan bertanya “Kalau demikian niat Guru, bagaimana kita bisa melakukan hal tersebut”. segera dijawab oleh Ibu Calonarang. “Kau Nyi Larung, ketahuilah, jangan terlalu khawatir akan segala kemampuanku. Aku Ibu Calonarang bukanlah orang sembarangan dan murahan. Kalau tidak yakin dengan diri, maka aku tidak akan sesumbar begitu. Biar mereka tersebut merasakan akibat dari segala perbuatan yang telah mereka lakukan terhadap anakku.
Kau Nyi Larung, Ibu minta agar kau mengumpulkan semua murid-muridku supaya segera masuk ke Pasraman Pengeleakan. “Tunggu sampai tengah malam nanti. Aku akan menurunkan segala ilmu kewisesan yang aku miliki kepada kalian semua. Karena sekarang hari masih terang dan sore, lebih baik engkau semua melakukan pekerjaan seperti biasanya. Aku akan mempersiapkan segala sesuatunya. Nanti malam kita akan berkumpul lagi membicarakan masalah tersebut, dan ingat tidak ada yang boleh tahu mengenai apa yang kita akan lakukan ini, kita akan membuat Kerajaan Kediri gerubung yaitu berupa serangan wabah penyakit yang sulit diobati yang dapat mematikan rakyatnya dalam waktu singkat. Demikian Ibu Calonarang menutup pembicaraannya pada sore hari tersebut, dan semua kembali melakukan kegiatan sebagaimana mestinya.

Gerubug Di Kerajaan Kediri

Diceritakan Rakyat Kerajaan Kediri di siang harinya yang ramai seperti biasanya. Masyarakatnya sebagian besar hidup dari bertani di sawah dengan menanam padi dan palawija. Anak-anak muda semuanya riang gembira bermain sambil mengembalakan sapi dan bebek di sawah. Mereka riang gembira, menemani orang tuanya yang sedang membajak sawah. Ada pula masyarakat yang bekerja sebagai tukang membuat rumah, pondok, bangunan suci seperti pura dan sanggah, atau membuat angkul-angkul atau pintu gerbang, dan lain-lain. Bagi kaum perempuan dan yang bekerja sebagai pedagang dengan menjual kue, nasi, kopi dan ada pula yang menenun kain untuk keperluan sendiri. Ada pula dari golongan pande bekerja khusus membuat perabotan pisau, sabit, parang, cangkul, keris, dan perabotan dari besi lainnya. Bagi yang mempunyai waktu luang yang laki-laki biasanya diisi dengan mengelus-elus ayam aduan, dan bagi yang perempuan digunakan untuk mencari kutu rambut.
Tidak ada terasa hal-hal aneh atau pertanda aneh di siang hari tersebut. Kegiatan masyarakat berlangsung dari pagi sampai sore, bahkan sampai malam hari. Pada malam hari masyarakat yang senang matembang atau bernyanyi melakukan kegiatannya sampai malam. Demikian pula dengan sekaa gong latihan sampai malam di Balai Banjar. Suasananya nyaman, tentram, dan damai sangat terasa ketika itu.
Setelah tengah malam tiba, semua masyarakat telah beristirahat tidur. Suasananya menjadi sangat gelap dan sunyi senyap, ditambah lagi pada hari tersebut adalah hari Kajeng Kliwon. Suatu hari yang dianggap kramat bagi masyarakat. Masyarakat biasanya pantang pergi sampai larut malam pada hari Kajeng Kliwon. Karena hari tersebut dianggap sebagai hari yang angker. Sehingga penduduk tidak ada yang berani keluar sampai larut malam.
Ketika penduduk Rakyat Kediri tertidur lelap di tengah malam, ketika itulah para murid atau sisya Ibu Calonarang yang sudah menjadi leak datang ke Desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri. Sinar beraneka warna bertebaran di angkasa. Desa-desa pesisir bagaikan dibakar dari angkasa. Ketika itu, penduduk desa sedang tidur lelap. Kemudian dengan kedatangan pasukan leak tersebut, tiba-tiba saja penduduk desa merasakan udara menjadi panas dan gerah. Angin dingin yang tadinya mendesir sejuk, tiba-tiba hilang dan menjadi panas yang membuat tidur mereka menjadi gelisah. Para anak-anak yang gelisah, dan terdengar tangis para bayi di tengah malam. Lolongan anjing saling bersahutan seketika. Demikian pula suara goak atau burung gagak terdengar di tengah malam. Ketika itu sudah terasa ada yang aneh dan ganjil saat itu. Ditambah lagi dengan adanya bunyi kodok darat yang ramai, padahal ketika itu adalah musim kering. Demikian pula tokek pun ribut saling bersahutan seakan-akan memberitahukan sesuatu kepada penduduk desa. Mendengar dan mengalami suatu yang ganjil tersebut, masyarakat menjadi ketakutan, dan tidak ada yang berani keluar.
Endih atau api jadi-jadian yang berjumlah banyak di angkasa kemudian turun menuju jalan-jalan dan rumah-rumah penduduk desa. Api sebesar sangkar ayam mendarat di perempatan jalan desa, dan diikuti oleh api kecil-kecil warna-warni. Setelah itu para leak yang tadinya terbang berwujud endih, kemudian setelah di bawah berubah wujud menjadi leak beraneka rupa, dan berkeliaran di jalan-jalan desa. Ketika malam itu, ada seorang masyarakat memberanikan diri untuk mengintip dari balik jendela rumahnya. Untuk mengetahui situasi di luar rumah. Namun apa yang dilihatnya? Sangat terkejut orang tersebut menyaksikan kejadian di luar. Orang tersebut, karena saking takutnya, segera ia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya rapat-rapat, serta segera memohon kehadapan Hyang Maha Kuasa agar diberikan perlindungan. Kemudian orang tersebut mengalami sakit ngeeb atau ketakutan yang berlebihan dan tidak mau bicara.
Para murid atau sisya Ibu Calonarang yang berjumlah tiga puluh empat orang ditambah dengan empat orang muridnya yang sudah senior yaitu Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, dan Nyi Sedaksa, semua sudah berada di desa pesisir. Malam yang sangat gelap kemudian ditambah dengan hujan gerimis yang memunculkan bau tanah yang angid, mambuat para leak menjadi semakin bersuka ria. Beberapa bola api bertebaran di angkasa berkejar-kerjaran dan menari-nari. Monyet-monyet besar, anjing bulu kotor, dan babi bertaring panjang berkeliaran di jalan-jalan sepanjang desa wilayah pesisir bercanda bersuka ria. Leak kambing, gegendu kerbau, gegendu jaran tampak jalan-jalan mengitari Kerajaan Kediri. Demikian pula dengan sosok Leak Celuluk yang berkelebat-kelebat dan bersandar di angkul-angkul rumah penduduk. Leak yang berwujud kreb kasa atau kain putih panjang bergulung-gulungan tampak melintang di jalanan. Di perempatan dan pertigaan jalan Desa, sosok Leak berwujud bade atau menara pengusungan mayat sedang menari-nari memenuhi jalanan. Semua leak tersebut menjalankan tugas seperti apa yang diperintahkan oleh gurunya yakni Ibu Calonarang.
Sungguh-sungguh seram memang pada malam itu. Penduduk desa tidak ada yang berani berkutik, apalagi keluar rumah. Para leak di malam itu telah menyebarkan penyakit grubug di desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri. Setelah semalaman para leak berpesta pora, maka hari telah menjelang pagi. Tiba saatnya para Leak untuk kembali ke wujud semula. Karena begitulah hukumnya sebagai leak. Waktu mereka adalah di malam hari. Apabila mereka melanggar hukum tersebut maka mereka akan mendapatkan bahaya. Ketika hari menjelang pagi para leak pun kembali ke tempatnya semula, dan pulang ke rumah. Demikian pula dengan Ibu Calonarang beserta Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi dan Nyi Sedaksa kembali pulang ke rumah setelah pesta pora di malam hari. Sekarang mereka hanya tinggal menunggu hasil dari kerja mereka semalam.
Diceritakan keesokan harinya penduduk desa bangun pagi-pagi. Mereka ramai menceritakan keanehan-keanehan dan keganjilan-keganjilan yang terjadi pada malam harinya. Semuanya menceritakan apa yang mereka rasakan atau apa yang mereka sempat saksikan malam itu dirumah masing-masing. Namun sedang asyiknya mereka bercerita, tiba-tiba saja ada seorang penduduk yang menjerit minta tolong. Orang tersebut mengatakan salah seorang keluarganya tiba-tiba saja sakit perut, muntah-muntah, dan mencret-mencret. Ketika mau memberikan pertolongan kepada penduduk di sebelah Barat tersebut, tiba-tiba saja tetangga di sebelah Timur menjerit minta tolong ada salah seorang keluarganya yang muntah dan mencret. Pagi itu, masyarakat desa menjadi panik. Karena mendadak sebagian penduduk mengalami muntah dan mencret. Bahkan pagi itu, ada beberapa yang telah meninggal. Beberapa lagi belum ada yang sempat diberi obat, tiba-tiba sudah meninggal. Demikian semakin panik masyarakat di desa. Segera saja yang meninggal dikuburkan di setra atau tempat pemakaman mayat, namun ketika pulang dari setra, tiba-tiba saja yang tadinya ikut mengubur menjadi sakit dan meninggal. Demikian seterusnya. Penduduk desa dihantui oleh bahaya maut. Seolah-olah kematian ada di depan hidung mereka. Sungguh mengerikan pemandangan di desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri ketika itu. Kerajaan Kediri gempar, sehari-hari orang mengusung mayat kekuburan dalam selisih waktu yang sangat singat.
Menghadapi situasi demikian beberapa penduduk dan prajuru desa mencoba untuk menanyakan kepada para balian atau dukun untuk minta pertolongan. Para balian pun didatangkan ke desa-desa yang kena bencana wabah gerubug. Ternyata mereka juga tidak dapat berbuat banyak menghadapi penyakit gerubug yang dialami penduduk desa. Bahkan, si balian atau dukun yang didatangkan tersebut mengalami mutah berak dan meninggal. Setiap hari kejadian tersebut terus berlangsung. Penduduk desa menjadi bingung dan panik. Ada yang berkehendak untuk mengungsi dan menghindar dari grubug tersebut. Mereka berbondong-bondong meninggalkan desanya. Namun ketika sampai di batas desa, mereka itu mengalami muntah berak dan meninggal seketika. Melihat keadaan seperti itu penduduk yang masih hidup menjadi semakin ketakutan. Ketika malam hari, mereka semua tidak ada yang berani tidur sendirian, dan tidak berani keluar rumah. Lolongan anjing tak henti-hentinya di malam hari. Burung gagak, katak dongkang, semuanya ribut saling bersahutan.
Adanya musibah yang menakutkan bercampur dengan sedih, para penduduk mencoba untuk berpasrah diri dan menyerahkan semuanya kehadapan Ida Sang Hyang Widhi. Setiap saat mereka memuja dan memohon kehadapan beliau agar bencana grubug ini segera berakhir, dan semua penduduk yang masih hidup diberkahi keselamatan dan kekuatan. Di samping itu perlindungan-perlindungan magis dipasang di depan pintu masuk pekarangan dan pintu rumah. Sesuai dengan petunjuk orang pintar atau sesuai dengan kebiasaan para tetuanya terdahulu. Penduduk memasang sesikepan atau pelindung magis seperti daun pandan berduri yang ditulisi tapak dara atau tanda palang dari kapur sirih, berisi bawang merah, bawang putih, jangu, juga benang tri datu yaitu benang warna merah, putih, hitam, dan pipis bolong atau uang kepeng. Jadi pada dasarnya semua dilakukan untuk menolak penyakit, dan memohon perlindungan kehadapan Hyang Maha Kuasa.
Setelah berberapa hari mengalami kepanikan, kebingungan dan ketakutan, akhirnya para prajuru desa atau Pengurus Desa, para penglingsir atau tetua, dan para pemangku, mengadakan pertemuan di salah satu Balai Banjar di Desa Girah. Pada intinya mereka membicarakan mengenai masalah atau penyakit gerubug yang menyerang desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. Kalau seandainya masalah ini dibiarkan begitu saja, sudah pasti penduduk desa akan habis semuanya.
Mereka tetap berharap agar semua masyarakat meningkatkan astiti bhaktinya atau pemujaan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan agar diberikan keselamatan, kesehatan, perlindungan, dan umur panjang. Disamping itu pula para prajuru desa para penglingsir atau tetua desa beserta dengan para pemangku sepakat untuk melaporkan masalah ini kehadapan Prabu Airlangga Raja Kediri. Mereka berencana memohon kehadapan Raja Airlangga agar beliau berkenan untuk datang ke desa-dewa wilayah pesisir Kerajaan Kediri meninjau rakyatnya yang sedang ditimpa musibah penyakit atau gerubug. Karena beliau sebagai penguasa atau sebagai Raja Kediri berhak tahu dan wajib untuk melindungi rakyatnya dari bencana. Demikian kesepakatan mereka dan merencanakan akan berangkat ke Istana besok pagi.
Ketika para tetua desa dan prajuru disertai dengan para pemangku masih berada di Bale pertemuan, tiba-tiba saja muncul seseorang yang bertubuh tinggi, kepala kribo, berkumis tebal dan brewok. Orang ini berjalan sempoyongan, dengan mata merah, dan bicaranya ngawur. Rupanya orang ini dalam keadaan mabuk. Orang tersebut datang di bale pertemuan dan berkata bahwa anaknya telah meninggal karena muntah mencret. Pemabuk itu kemudian berkata : mana Leak Calonarang yang telah memakan anakku, akan aku santap bola matanya mentah-mentah. Demikian orang tersebut sesumbar dihadapan para sesepuh desa. Ketika setelah mengatakan sesumbar tersebut Si Brewok tiba-tiba saja muntah mencret tak tertahankan, dan akhirnya tewas di tempat.
Setelah beberapa saat Si Brewok tergeletak, kemudian para tetua desa tersebut menjadi teringat dengan kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu ketika di Desa Girah. Mereka baru ingat bahwa Si Brewok inilah yang menjadi biang keladi dari kejadian yang menimpa Diah Ratna Manggali anak Ibu Calonarang. Bersama-sama dengan orang banyak, Si Brewok ini telah membuat fitnah Diah Ratna Mengali bisa ngeleak karena Ibunya Calonarang adalah orang sakti dan bisa ngeleak. Jangan-jangan hal itu yang menjadi penyebab dari penyakit gerubug yang melanda desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri sekarang ini. Karena Calonarang merasa tersinggung dan terhina tidak akan tinggal diam. Mungkin saja ia akan membalas dendam sesuai dengan kemampuannya. Apalagi Calonarang adalah seorang yang sangat sakti dan memiliki murid yang sangat banyak. Sehingga dengan ilmu yang dimiliki mereka mencoba untuk menghancurkan desa-desa di Kerajaan Kediri dengan menebar penyakit gerubug. Rupanya mereka yang ada di sana mempunyai pikiran yang sama, dan sepakat untuk segera melaporkan hal tersebut kehadapan Prabu Airlangga Raja Kediri.
Keesokan harinya para prajuru desa beserta rombongan berangkat menuju Istana Kediri. Sangat cepat perjalanan mereka, sehingga tidak diceritakan sampailah rombongan tersebut di bencingah atau alun-alun Istana Raja. Ketika di Istana rombongan tersebut menyaksikan suatu keadaan yang tenang, damai, dan biasa saja, jauh dari kesusahan, kalau dibandingkan dengan apa yang terjadi di desa sekarang ini. Di bencingah puri tampak sekelompok masyarakat yang sedang duduk-duduk di bawah rimbunnya daun beringin yang sangat besar yang tumbuh di becingah, seolah-olah memayungi rakyat Kediri dari terik sinar matahari. Bangsingnya atau akarnya yang menjulur sampai menyentuh tanah seolah-olah menjulurkan tangannya untuk menolong rakyat Kediri yang kesusahan. Mereka seperti biasa yang laki-laki beristirahat, sambil mengecel atau mengelus ayam aduan. Di sampingnya tampak berderet ayam aduan dengan beraneka warna, dan mekruyuk atau berkokok saling bersahutan. Disana, ada pula dagang kopi, dagang kue, dagang nasi, dengan be guling nyodog atau babi guling yang utuh dan diletakkan di atas meja dagangan.
Rombongan tersebut disapa oleh orang-orang yang ada di bencingah. Mereka kemudian segera masuk ke dalam Istana Raja melalui pemedalan atau pintu keluar candi bentar yang megah, disandingkan dengan bale kulkul yang menjulang tinggi, dan bale bengong yang tampak mempesona, membuat mereka menjadi klangen atau kagum. Di hulu sebelah timur laut terdapat pemerajan puri atau tempat suci keluarga Raja yang sangat disucikan.
Mereka kemudian menghadap Prabu Airlangga di Bale penangkilan atau balai penghadapan. Setelah memberikan penghormatan kehadapan Sang Prabu, rombongan tersebut kemudian menjelaskan segala sesuatu maksud dan tujuannya mengahap ke Istana. Dijelaskan pula secara panjang lebar mengenai masalah yang sedang melanda desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. Mereka kemudian memohon agar Sang Prabu berkenan untuk meninjau ke desa-desa. Demikian hatur mereka semua kehadapan Sang Prabu. Kemudian Sang Prabu menjawab dengan kata-kata yang agak berat, dan dengan roma muka yang agak tegang ketika itu.
“Kalau begitu keadaannya, penyebar gerubug di desa-desa wilayah pesisir tidak lain dan tidak bukan adalah Ibu Calonarang. Aku tidak akan meninjau ke desa lagi. Tetapi aku akan segara berupaya untuk menyelesaikan masalah kalian, dan menghadapi Calonarang yang sakti tersebut”.
“Pengerusakan dan penyebaran penyakit di desa-desa oleh Calonarang sebenarnya adalah tantangan langsung bagiku sebagai penguasa di Kerajaan Kediri. Aku akan menghadapi bagaimanapun ririh atau saktinya Calonarang. Calonarang sangat berani kepadaku, dan sangat besar dosanya karena telah membunuh banyak rakyatku yang tidak berdosa. Sangat besar dosanya terhadap kerajaan, sehingga orang tersebut harus mendapatkan ganjaran hukuman yang setimpal”. Demikian sabda Raja Kediri yang menabuh genderang perang terhadap Calonarang.
Sang Prabu juga menyampaikan pesan kepada rombongan Desa Girah sesampai di rumah nanti, beritahukan kepada seluruh rakyatku semuanya. Tenanglah, bersabarlah dan selalulah memuja kebesaran Ida Betara Tri Sakti yang berstana di Pura Kayangan Tiga. Selalulah berjaga-jaga di perbatasan desa sambil menghidupkan api obor sebagai penerangan dan sekaligus mohon perlindungan kehadapan Hyang Betara Brahma. Sebelum itu jangan lupa menghaturkan canang atau sesajen di sanggah atau tempat suci keluarga masing-masing agar para leluhur kita juga ikut membantu melindungi dari bahaya ini. Kemudian mohonlah sesikepan atau sarana magis yang bersarana bawang putih, jangu, benang tri datu, dan pipis bolong, sebagai sarana penolak leak. Demikian perintah dan sekaligus pesan Raja Kediri kepada rakyat beliau yang sedang ditimpa bencana gerubug dan salanjutnya para penghadap tersebut diijinkan untuk pamit kembali pulang. Tidak diceritakan perjalanan mereka, maka sampailah rombongan tersebut di rumah, dan segera memberitahukan apa yang menjadi titah Raja Kediri.

Raja Kediri Murka

Kembali diceritakan Prabu Airlangga Raja Kediri. Sepeninggalan rombongan Desa Girah, maka beliau sendirian duduk termenung di bale penangkilan. Pandangannya menerawang jauh kemana-mana, tangannya dikepalkan, dan tampak gelisah. Duduk bangun, demikianlah Sang Prabu sendirian di Istana. Tampaknya Sang Prabu tak kuasa menahan amarah dan panas hati beliau akibat ulah Calonarang. Sangat menakutkan sekali perangai beliau ketika itu. Diibaratkan macan gading atau harimau kuning yang akan menerkam mangsanya. Tak seorang pun parekan atau punakawan di puri atau istana yang berani menyapa beliau. Istri dan parekan atau punakawan di puri atau istana semuanya terdiam takut melihat gelagat Sang Prabu yang lagi murka. Tidak ada yang berani menghampiri dan menemani beliau ketika itu. Suguhan wedang atau kopi dan juga hidangan yang lainnya tidak disentuh sama sekali. Pikiran beliau hanya tertuju kepada upaya bagaimana mengalahkan Calonarang yang sakti tersebut.
Ketika hari menjelang siang, Sang Prabu belum juga beranjak dari tempat beliau duduk sejak pagi. Kemudian secara tak disangka-sangka datang Ki Patih Madri menghadap Sang Prabu ke Istana. Ia adalah seorang tabeng dada atau pengawal Istana. Ki Patih Madri berperawakan tinggi besar, pintar ilmu silat atau bela diri, dan menguasai beberapa ilmu kanuragan. Ia sangat berpengaruh di kalangan orang-orang di Kerajaan Kediri, namun ia sendiri berpenampilan sangat sederhana, polos, dan sangat setia kepada Istana terutama kehadapan junjungannya yakni Prabu Airlangga Raja Kediri.
Sangat gembira sekali perasaan Sang Prabu ketika Ki Patih Madri muncul di Istana, dan segera Sang Prabu menyuruhnya mendekat untuk diajak bertukar pikiran. Bagaikan diperciki embun pagi yang sejuk perasaan Raja Airlangga ketika Ki Patih Madri datang pada saat yang diperlukan sekali. Sambil menikmati hidangan kopi yang telah disuguhkan, Sang Prabu berkata kepada Ki Patih Madri : “aku hari ini sangat kesal, marah dan bercampur sedih dalam hatiku. Yang menyebabkan adalah ulah onar Calonarang yang telah menebar penyakit gerubug di desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. Banyak rakyatku yang sakit dan meninggal di sana. Ia ingin menghancurkan Kerajaan Kediri, serta menghancurkan kekuasaanku. Sekarang karena kebetulan sekali Patih Madri datang ke Istana, maka aku ingin mendapatkan masukan dari engkau mengenai masalah yang menimpa desa tersebut. Bagaimana caranya menumpas dan melenyapkan Calonarang beserta sisya-sisyanya atau murid-muridnya yang telah berbuat onar tersebut. Sebab kalau tidak ditangani segera, maka rakyat desa Kerajaan Kediri akan habis, bahkan ia akan merencanakan untuk menghancurkan Kerajaan Kediri secara keseluruhan”. Demikian kata pembukuan yang cukup panjang dari Sang Prabu kepada Ki Patih Madri.
Mendengar semua itu, merasa kaget Ki Patih Madri, sebab sebelumnya ia sama sekali tidak mendengar adanya masalah ini. Ki Patih Madri berpikir sejenak, kemudian menjawab apa yang dikatakan Sang Prabu. “Mohon ampun Paduka, tidak patut rasanya hamba sebagai patih yang jugul punggung atau sangat bodoh memberikan masukan kehadapan Paduka. Namun atas titah Paduka, maka hamba akan mencoba untuk ikut urun pendapat mengenai masalah ini.
Namun hamba bagaikan nasikin segara atau membuang garam ke laut begitulah ibaratnya”. Lebih lanjut Ki Patih Madri menyampaikan haturnya kehadapan Sang Prabu “Kalau mendengar tingkah laku Calonarang tersebut, maka inilah yang disebut dalam sastra agama sebagai Atharwa yang artinya melakukan pembunuhan yang sangat kejam terhadap orang lain yang tidak berdosa dengan menggunakan Ilmu Hitam. Mereka telah menebar cetik atau racun niskala di wilayah desa. Ini pula digolongkan sebagai Himsa Karma yakni perbuatan membunuh makhluk lain secara sewenang-wenang. Para pelaku dari semua ini harus dihukum berat dan setimpal”. Demikian hatur Ki Patih Madri kehadapan Sang Prabu. Kemudian Ki Patih Madri menambahkan haturnya sekarang Paduka jangan terlalu bersedih dan khawatir. Hamba akan menjalankan Swadharmaning Kawula (kewajiban sebagai rakyat) bersama dengan rakyat Kediri yang lainnya. Hamba akan mengabdikan jiwa dan raga hamba untuk Kediri. Kita akan gempur Calonarang Rangda Nateng Girah, kita hancurkan antek-antek, dan kita musnahkan Calonarang”. Demikian Ki Patih Madri memompa semangat junjungannya. Sungguh lega hati Sang Prabu mendengar apa yang diucapkan oleh Ki Patih Madri.
Raja Airlangga kemudian membuat keputusan untuk menggempur Calonarang Rangda Nateng Girah, dan mempercayakan kepada Ki Patih Madri sebagai pimpinan penyerangan.

Gugurnya Ki Patih Madri

Diceritakan Ki Patih Madri telah mengumpulkan tokoh masyarakat dan penduduk yang mempunyai ilmu kanuragan atau ilmu kewisesan. Mereka semua dikumpulkan di Istana dan diberikan pengarahan mengenai rencana penyerangan ke tempat Ratu Leak di Desa Girah menggempur Calonarang di malam hari.
Waktu yang ditetapkan untuk penyerangan telah tiba. Menjelang tengah malam mereka berangkat bersama dilengkapi pula dengan senjata tajam, sesikepan, gegemet-gegemet, dan juga sesabukan atau sarana magis pelindung diri.
Karena kesaktian Calonarang, maka serangan dari pihak Kediri yang dipimpin Ki Patih Madri telah diketahui sebelumnya. Sehingga Calonarang memerintahkan kepada seluruh sisya-sisyanya atau murid-muridnya untuk bersiaga di perbatasan Desa Girah. Calonarang beserta sisyanya telah bersiaga menyambut kedatangan para jawara Kediri yang akan menggempurnya. Mereka telah menggelar semua ilmu yang dimiliki dan telah menyengker atau memagari Desa Girah dengan penyengker gaib, sehingga kekuatan musuh tidak dapat menembus pertahanan tersebut.
Pada tengah malam, sampailah Ki Patih Madri dan para jawara Kediri di perbatasan Desa Girah. Mereka langsung menggelar ajian yang mereka miliki dan menyerang musuh yang telah menghadang. Serangan tersebut kemudian dihadang oleh para murid Calonarang yang dipimpin oleh Nyi Larung sehingga terjadilah pertempuran ilmu kanuragan dimalam hari yang sangat dasyat. Bola-bola api beterbangan di antara kedua belah pihak. Taburan cahaya gemerlapan aneka warna di angkasa yang saling berkelebat, berkejar-kejaran, dan saling berbenturan. Langit di Desa Girah pada malam itu bagaikan kejatuhan bintang dari langit yang jumlahnya ribuan. Memang sungguh-sungguh digjaya mereka semua. Tidak beberapa lama pertempuran di malam hari berlangsung, serangan dari para jawara Kediri dapat dipatahkan oleh ketangguhan dari ilmu yang dimiliki oleh murid-murid Calonarang, sedangkan Ki Patih Madri gugur dalam peperangan melawan Nyi Larung dan para jawara Kediri banyak yang tewas. Para jawara Kediri yang masih hidup berhamburan berlari meninggalkan arena pertempuran karena terdesak. Mereka berusaha untuk menyelamatkan diri. Setelah mengalami desakan dari pasukan leak murid-murid Calonarang, maka para jawara Kediri memutuskan untuk berbalik dan kembali ke Istana Kediri, serta melaporkan semuanya kehadapan Prabu Airlangga.
Kekalahan pasukan Kediri menyebabkan pasukan leak Calonarang bergembira. Mereka semua tertawa ngakak yang suaranya nyaring dan keras membelah angkasa. Suaranya mengalun, melengking memenuhi angkasa dan berpantulan di antara bukit-bukit. Sehingga terasa mengerikan sekali suasananya pada malam hari tersebut. Mereka semua menari-nari di angkasa, berwujud bola-bola api saling berkejar-kejaran merayakan kemenangannya.
Diceritakan mengenai perjalanan sisa-sisa pasukan Kediri yang kalah perang. Pada pagi hari mereka telah sampai di Istana Kediri. Segera mereka menghadap Sang Prabu dan melaporkan segala sesuatunya. Demikian pula dengan Sang Prabu yang telah menunggu semalaman dengan harap-harap cemas.
Salah seorang dari pasukan Kediri menghaturkan sembah kehadapan Sang Prabu “mohon ampun Paduka, hamba permaklumkan bahwa murid-murid Calonarang benar-benar teguh atau kuat. Pasukan Kediri tidak mampu mengalahkannya dan Ki Patih Madri gugur dalam peperangan dan banyak pasukan yang tewas. Hamba gagal dalam mengemban tugas yang Paduka titahkan. Atas kegagalan tersebut, hamba mohon ampun, dan siap menjalankan hukuman”. Demikian permakluman prajurit Kediri kehadapan Sang Prabu.
Raja Airlangga yang bijaksana kemudian bersabda “ Wahai prajuri Kediri yang gagah berani beserta semua pasukan, kalah menang dalam peperangan sudah menjadi hukumnya. Yang penting sekarang adalah aku minta engkau agar tidak surut kesetiaanmu terhadap Kediri. Teruskanlah kesetiaanmu terhadap Istana, terhadap Kerajaan Kediri. Janganlah berputus asa, karena masih ada waktu dan masih ada cara lain untuk menumpas Calonarang beserta dengan antek-anteknya. Gempur kembali Calonarang. Sang Prabu melanjutkan wejangannya. “Harus kalian ingat mengenai Swadharmaning ring payudhan atau kewajiban dalam pertempuran. Dalam Shanti Parwa disebutkan bahwa apabila mati dalam peperangan, maka darah yang mengalir muncrat akan menghapus segala dosamu. Dan Sang Jiwa atau Sang Atma akan menuju Indraloka. Itulah yang hendaknya diingat dan dijadikan pedoman. Semuanya itu adalah merupakan sebuah pengorbanan yang suci atau yadnya yang digolongkan yadnya utama”. Demikian Sang Prabu memberikan wejangan kepada Prajurit Kediri yang hampir putus asa karena kalah perang.
Mendengar wejangan tersebut, para pasukan Kediri merasakan hidup kembali dan bersemangat. Bagaikan diberikan kekuatan bebayon atau kekuatan tenanga dalam, sehingga semangat pasukan tumbuh kembali. Prajurit kemudian berkata “baiklah tuanku, sangat senang hamba mendegar wejangan tersebut. Sekarang hamba sadar dan yakin akan diri. Hamba akan membela mati-matian dan menyabung nyawa menghadapi Calonarang beserta dengan murid-muridnya”. Pernyataan Prajurit tersebut dibarengi oleh seluruh pasukan, dan disambut hangat oleh Raja Airlangga. “Baiklah kalau begitu, Aku sebagai Raja Kediri sangat menghargai kesetiaamu.

Buku Rahasia Ilmu Pengeleakan Calonarang

Dengan kalahnya Patih Madri melawan Nyi Larung murid Calonarang, maka Raja Kediri sangat panik sehingga Raja Kediri memanggil seorang Bagawanta (Rohaniawan Kerajaan) yaitu Pendeta Kerajaan Kediri yang bernama Empu Bharadah yang ditugaskan oleh Raja untuk mengatasi gerubug (wabah) sebagai ulah onar si Ratu Leak Calonarang.
Empu Bharadah lalu mengatur siasat dengan cara Empu Bahula putra Empu Bharadah di tugaskan untuk mengawini Diah Ratna Mengali agar berhasil mencuri rahasia ilmu pengeleakan milik Janda sakti itu.
Empu Bahula berhasil mencuri buku tersebut berupa lontar yang bertuliskan aksara Bali yang menguraikan tentang teknik – teknik pengeleakan.
Setelah Ibu Calonarang mengetahui bahwa dirinya telah diperdaya oleh Empu Bharadah dengan memanfaatkan putranya Empu Bahula untuk pura–pura kawin dengan putrinya sehingga berhasil mencuri buku ilmu pengeleakan milik Calonarang.
Ibu Calonarang sangat marah dan menantang Empu Bharadah untuk perang tanding pada malam hari di Setra Ganda Mayu yaitu sebuah kuburan yang arealnya sangat luas yang ada di Kerajaan Kediri.
Pertempuran Penguasa Ilmu Hitam dengan Penguasa Ilmu Putih di Setra Ganda Mayu
Dalam perang besar ini Raja Airlangga mengikutkan Pasukan Khusus Balayuda Kediri dalam menghadapi Calonarang dan pasukan leaknya.
Para Pasukan Balayuda Kediri yang terpilih sebanyak dua ratus orang yang dipimpin oleh Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal. Semua pasukan ini akan mengawal dan membantu Empu Bharadah dalam menumpas kejahatan yang dilakukan oleh Calonarang dan antek-anteknya.
Segala sesuatu perlengkapan segera dipersiapkan seperti senjata tajam berupa tombak, keris, klewang, dan lain-lain. Demikian pula dengan berbagai sarana pelindung badan yang gaib sebagai sarana penolak atau penempur leak, sarana kekebalan, semuanya diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia. Yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan mengenai perbekalan makanan dan minuman yang diperlukan selama penyerangan. Ketika semua persiapan dianggap rampung, maka mereka pun istrirahat agar tenaga cukup kuat untuk penyerangan besok. Keesokan harinya perjalanan penyerangan dilakukan, pasukan khusus atau pasukan pilihan dari Kediri yang disebut dengan Pasukan Balayuda dalam penyerangan tersebut mengawal Empu Bharadah. Sedangkan di depan sebagai pemimpin pasukan dipercayakan kepada Ki Kebo Wirang didampingi Ki Lembu Tal.
Tidak diceritakan perjalanan mereka, akhirnya rombongan Empu Bharadah dan pasukan Kediri sampai di pesisir selatan Desa Lembah Wilis. Di sana rombongan tersebut berhenti sejenak untuk beristirahat dalam persiapan untuk menuju ke Desa Girah. Semua pasukan kemudian menuju Setra Ganda Mayu yang berada di Wilayah Desa Girah.
Diceritakan kemudian Ibu Calonarang dirumahnya diiringi oleh para sisyanya semua melakukan penyucian diri dan mengayat atau memuja kehadapan Ida Betari mohon anugrah kesaktian. Mereka memusatkan pikiran dan memanunggalkan bayu atau tenaga, sabda atau suara, dan idep atau pikiran, memuja Ida Betari bersarana sekar manca warna atau bunga warna-warni, dengan disertai asep menyan majegau atau wangi-wangian yang dibakar yang asapnya membubung ke angkasa, seolah-olah menyampaikan niat Ibu Calonarang kehadapan Ida Betari. Semua pekakas dan sarana pengleakan diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia, dan masing-masing menggunakannya. Di hadapan mereka juga digelar tetandingan jangkep atau sarana sesajen lengkap sesuai dengan keperluan. Calonarang kemudian mulai memejamkan mata dan memusatkan pikiran. Ia tampak berkomat-kamit mengucapkan mantra sakti memohon anugrah kesaktian dan kesidian kehadapan Hyang Maha Wisesa, dengan harapan Empu Bharadah dan Balayuda Kediri dapat dikalahkan.
Setelah beberapa saat melakukan konsentrasi, maka sampailah pada puncaknya. Raja pengiwa pun telah dibangkitkan dan merasuk ke dalam sukma. Kedigjayaan atau kewisesan telah turun dan masuk ke dalam jiwa raga. Calonarang kemudian bangkit dan berkata kepada semua sisyanya “para sisyaku semuanya, permohonan kita kehadapan Hyang Betari telah terkabulkan dan telah mencapai puncaknya. Kesaktian telah kita bangkitkan semuanya, dan telah merasuk ke dalam jiwa dan raga. Kini saatnya kita bertarung menghadapi Empu Bharadah dan Balayuda Kediri. Kita akan pertahankan harga diri kita. Mampuskan semua orang-orang Kediri yang datang ke sini menyerang. Demikian perintah Calonarang kepada seluruh sisyanya. Suaranya ketika itu telah berubah menjadi besar dan menggema, dan bukan merupakan suaranya yang biasa. Kemudian Calonarangpun tertawa ngakak, dan terdengar menakutkan.
Semua sisya Calonarang telah nyuti rupa atau berubah wujud dan siap menyerang. Ada wujud bojog atau monyet yang siap menggigit, ada kambing siap nyenggot atau menanduk, ada sapi dan kuda yang siap ngajet atau menendang, ada kain kasa atau kain putih panjang yang siap menggulung dan membakar, ada bade atau menara pengusungan mayat yang siap membakar, ada babi bertaring panjang yang siap ngelumbih atau membanting dengan kepala, ada awak belig atau badan licin yang mukanya seperti umah tabuan atau sarang tawon. Ada pula api bergulung-gulung yang siap membakar siapa saja yang menghadang. Semua pasukan leak kemudian keluar dari rumah Calonarang dalam rupa bola api beterbangan, kemudian menuju ke Setra Ganda Mayu tempat perjanjian pertempuran dengan Empu Bharadah dan pasukan Balayuda Kediri.
Melihat pasukan leak dengan beraneka rupa datang, pasukan Kediri menjadi kaget dan was-was dan ada yang ketakutan. Semuanya bersiap-siap dan merapatkan diri. Demikian pula dengan Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal, mereka berdua sangat waspada serta selalu berada di dekat Empu Bharadah untuk mengawalnya.
Empu Bharadah tidak sedikitpun gentar melihat kawanan leak tersebut, bahkan semangat untuk bertempur semakin membara. Sambil juga Empu Bharadah mengucap mantra sakti Pasupati. Dilengkapi pula dengan sarana sesikepan, sesabukan, rerajahan kain, dan pripian tembaga wasa atau lempengan tembaga. Sangat ampuh mantra sakti Pasupati tersebut. Empu Bharadah membawa pusaka sakti berupa sebuah keris yang bernama Kris Jaga Satru.

Ibu Calonarang Tewas

Pertarunganpun terjadi dengan sangat seram dan dahsyat antara penguasa ilmu hitam yaitu Calonarang dibantu para sisya atau murid-muridnya dengan penguasa ilmu putih yaitu Empu Bharadah dibantu Pasukan Balayuda Kediri, di Setra Ganda Mayu.
Pertempuran berlangsung sangat lama sehingga sampai pagi, dan karena ilmu hitam mempunyai kekuatan hanya pada malam hari saja, maka setelah siang hari Ibu Calonarang akhirnya tidak kuat melawan Empu Bharadah
Calonarang terdesak dan sisyanya banyak yang tewas dalam pertempuran melawan Empu Bharadah dan Pasukan Balayuda Kediri. Mengetahui dirinya terdesak, Calonarang seperti biasa segera menggelar kesaktian pengiwanya. Ia segera berubah wujud menjadi seekor burung garuda berbulu emas, melesat ke udara, dan bersembunyi di balik awan. Ketika itu, Empu Bharadah segera masuk ke dalam rumah Calonarang . Didapatinya rumah Calonarang telah kosong, tak ada siapa-siapa. Pasukan Balayuda Kediri mengurung rumah Calonarang.
Empu Bharadah kemudian berteriak : “Hai kau Calonarang pengecut, di mana gerangan engkau bersembunyi. Sudah berwujud apa engkau sekarang, aku akan hadapi. Aku menantangmu, ayolah segera tunjukkan batang hidungmu”. Setelah berkata demikian, tiba-tiba ada jawaban dari angkasa. Rupanya Calonarang sudah bersembunyi dari tadi, tanpa sepengetahuan pasukan Kediri. Calonarang berkata : “Hai kau Empu Bharadah, dimana bersembunyi rajamu. Mendengar ejekan si garuda tersebut dari udara membuat Empu Bharadah menjadi naik darah. Segera Empu Bharadah memerintahkan kepada Ki Kebo Wirang untuk membidikan senjata tersebut ke arah si Garuda Calonarang. Namun ketika itu, Ki Kebo Wirang menjadi kebingungan karena musuh yang akan dibidik tidak kelihatan. Hanya suaranya saja yang berkoar-koar. Ditambah lagi dengan adanya kilat dan guntur yang menggelegar di angkasa. Semakin menyulitkan untuk membidik si Garuda Calonarang.
Menghadapi situasi demikian, Empu Bharadah mencoba untuk memikirkan sebuah daya upaya. Empu Bharadah kemudian memerintahkan kepada Ki Lembu Tal sebagai umpan, agar si garuda mau keluar dari persembunyiannya. Ki Lembu Tal mencoba untuk mencari tempat yang agak terbuka. Mereka menari-nari sambil mengibas-ngibaskan senjatanya ke udara sebagai pertanda menantang. Ki Lembu Tal mengejek si garuda : “Hai engkau Calonarang, kenapa engkau bersembunyi. Ayo turun, akan aku potong lehermu, akan aku cincang engkau, bila perlu aku jadikan burung garuda panggang. Hai kau Calonarang, kalau memang engkau sakti mengapa engkau bersembunyi di tempat yang tinggi begitu. Kalau engkau mau, kau boleh hisap pantatku”. Demikian ejekan Ki Lembu Tal yang tidak senonoh, sambil membuka kainnya dan memperlihatkan pantatnya ke arah datangnya suara Calonarang.
Mendengar dan melihat ejekan Ki Lembu Tal, menyebabkan Calonarang menjadi naik darah, dan segera keluar dari persembunyiannya. Si garuda Calonarang dengan secepat kilat terbang dan menyambar Ki Lembu Tal. Pada saat si garuda terbang menyambar Ki Lembu Tal, ketika itu pula Empu Bharadah membidikkan senjata pusaka Jaga Satru dan menembakkannya ke arah sang garuda. Si garuda jelmaan Calonarang tersebut terkena tembakan senjata Jaga Satru dan jatuh tersungkur ke tanah. Segera si garuda mengambil wujud kembali menjadi manusia sosok Calonarang. Ratu Leak Calonarang yang sakti mandraguna tidak berdaya dengan kesaktian senjata pusaka Jaga Satru Empu Bharadah. Semua pasukan Balayuda Kediri segera mendekati Calonarang yang tidak berdaya dan kemudian Calonarang menghembuskan nafas terakhir di Setra Ganda Mayu.
Dengan meninggalnya Ibu Calonarang maka bencana gerubug (wabah) yang melanda Kerajaan Kediri bisa teratasi.
Calonarang Rangda Nateng Girah yang mewariskan Ilmu Pengeleakan Aji Wegig sampai sekarang masih berkembang di Bali, karena masih ada generasi penerusnya sebagai pewaris pelestarian budaya di Bali.

Pura Kyaki Agung Pasek Gelgel Aan

Pasek gelgel di tuakilang,tabanan, yang lazim disebut bandesa sibangkaja adalahketurunan pasek gelgel desa aan, kecamatan banjarangkan, kabupatenklungkung.pasek gelgel desa aan adalah keturunan I Gusti Pasek Gelgeldi desa aan.Merajan penyungsungannya di banjar pasek desa aan, kecamatan Banjarangkan,kabupaten klungkung bukan pura kawitan. Melainkan berstatus Merajan agung /dadya agung,dan bukan pura kyaki agung pasek gelgel aan. seterusnya dapatdijelaskan sebagai berikut:
  1. I Gusti Pasek Gelgel di desa Aaan, kecamatan banjarangkan. Kabupaten klungkung adalah seorang putra dari Kyayi Gusti Agung Aasek Gelgel. Setelah berdomisili di desa Aan I Gusti Pasek Gelgel membangun prahyangan sebagai tempat suci untuk memuliakan dan memuja arwah suci para leluhurnya. Di dalam sejarah perjalanannya kemudian disebut Merajanagung/Dadya Agung Pasek Gelgel keturunan I Gusti Pasek Gelgel Aan.
  2. Antara pura Ratu Pasek yang berlokasi di pura Dasar Bhuwana Gelgel dengan merajan Agung Pasek Gelgel di desa Aan, mempunyai hubungan erat dan tidak dapat dipisahkan, karena dimulikan dan dipuja di pura Ratu Pasek dipura Dasar Bhuwana Gelgel adalah leluhur I Gusti Pasek Gelgel Aan pada khususnya dan warga pasek pada umumnya.
  3. Kisah keberadaan pura tersabut diawali dengan pindahnya salah seorang putra dari Pasek Gelgel Aan bernama Pasek Putu Kereni dari desa Aan ke desa Sibangkaja, sekarang kabupaten badung. Di desa Sibangkaja Pasek Putu Kereni diangkat sebagai Bendesa. Perlu dijelaskan bahwa pura kawitan Pasek Gelgel atau Bandesa Sibangkaja di Tuakilang adalah pura Lempuyang Madya, kecamatan Abang, kabupaten Karangasem, bersama-sama dengan Pasek lainnya.

Asal dan Arti kata Pasek

Lama kelamaan istilah pasek mulai digunakan oleh orang-orang Bali Aga sebagaigelar atau jatidiri bagi seorang pemimpin.Sehingga tak heran bila kemudian dijumpaisebutan Pasek Bali,Pasek Mula,Pasek Sulkawih,Pasek Kedisan,Pasek Sukawana danlain-lain.Pada zaman Mpu Drykah atau Mpu Kamareka. Mpu Semeru memberikanwewenang kepada keturunan Mpu Dryakah untuk mempergunakan sebutan AryaPasek Kayuselem.
Di Bali bukan saja keturunan Sang Sapta Rsi yang mempergunakan jati diri KiPasek,namun warga lainnya pun menduduki jabatan suatu pimpinan ,suka memakaisebutan Ki Pasek. Salah satu contoh adalahWarga Pulasari yang menduduki suatu jabatan disebut pasek pulasari. Mereka ini adalah keturunan Dalem Tarukan yaitu :Sekar , Bebandem ,Pulasari ,Balangan , Belayu , dan Dangin,yang kini paguyubannya bernama Para Gotra Santanan Dalem Tarukan.
Dalam arti kiasan, kata Pasek ini dipergunakan dalam rangkaian kata ”pasak negeri”. Menurut para ahli bahasa seperti W.J.S Purwadarminta dan Sutan Muh.Zain, kata pasek diartikan “orang besar yang menjadi dasar keteguhan negeri tempat orang minta nasehat dan sebagainya.
Dalam kaitan ini, di samping bunyi beberapa buah babad dan prasasti, ada baiknya dikutip ucapan dan pendapat beberapa orang sujana atau sarjana.

Mpu Kuturan Konseptor Desa Pakraman

Mari kita simak kembali kisah raja Sri Gunaprya Dharmmapatni. Beliau putra tigaorang yaitu, Sri Dharmawangsa Wardahana Marakatapangkaja Stanotunggadewa SriAirlangga dab Sri Anak Wungsu. Tatkala akan melahirkan Sri Anak Wungsu SriGunaprya Dharmapatni terkena sakit keras. Oleh karena itu tidak sedikit dukun yangtermashur ke-sidhi-an dan ka-mandian-nya, didatangkan ke puri untuk mengobati. Namun sayang, tidak seorang dukun pun yang mampu menyembuhkan Sri GunapryaDharmaphatni. Oleh karena dalam keadaan sakit keras, dan rupanya sudah jadikehendak yang maha kuasa, pada saat sri gunaprya dharmapatni melahirkan, beliaumenemui ajalnya. Namun putranya lahir dengan selamat. Anak yang sudah baik tampak rupawan dan tampan itu diberi nama Sri Anak Wungsu yang berarti anak wungsu dari Sri Gunaprya Dharmmaphatni. Berita tentang wafatnya Sri GunapryaDharmapatni segera tersebar sampai kepelosok pedesaan, sehingga rakyat ikut bersedih hati serta menyampaikan bela sungkawa. Berita ini bukan saja tersebar dipulau bali, akan tetapi juga tersebar di pulau Jawa. Itulah sebabnya Mpu Bharadahdiutus oleh Raja Daha Sri Airlangga dating ke Bali, untuk menyatakan bela sungkawadan melayat jenazah ibunya, kemudian abu jenazahnya di candikan di Kutri, buruan(gianyar), diberi gelar Durga Mahisa Mardhini Asthabuja, sebab beliau dianggap jelmaan dewi Uma penganut faham siwa. Peristiwa ini terjadi pada candra Sangkala berbunyi Lawang Apit Lawang, yaitu tahun saka 929, dan putranya yaitu Sri Anak Wungsu berada dalam keadaan sehat walafiat.
Disamping itu ada juga penjelasan Mpu Kuturan yang mengatakan bahwa bilamana terjadi kekeruhan didunia, harus diadakan upacara atau Yajna bernamaTebasan. Upacara ini harus dipuja oleh sang bujangga. Hanya sang bujangga yang berwenang memuja pangklukatan tersebut bilamana terjadi kekeruhan di alamsemesta ini, termasuk yang berhubungan dengan pekarangan rumah, tegalan, persawahan dan lain-lainnya. Jika bukan sang bujangga yang memuja upacara pangklukatan tersebut pasti tidak akan berhasil, sebab hal itu merupakan tugas sang bujangga. Apabila sudah dilaksanakan seperti itu, barulah pulau Bali ini menjadiaman sentosa.
Desa Pakraman hasil ciptaan Mpu Kuturan, melahirkan tatanan kehidupanmasyarakat, suatu organisasi sebagai wadah kesatuan masyarakat Bali, yang berisituntunan tata karma, yakni suatu aturan hidup untuk menciptakan suasana kehidupanyang serasi ,selaras dan seimbang di dalam masyarakat.
Manusia di dalam kehiduannya membutuhkan suatu tempat tinggal. Tempattinggal sekelompok manusia ini disebut hunian . Hunian ini bukanlah merupkansesuatu yang hanya dipergunakan, melainkan mempunyai sebuah fungsi sebagai perekat rasa atau batin untuk memperkuat hubungan social. Hunian bukan sajamenampung manusia semasa hidupnya, tetapi juga pada saat meninggal dunia,termasuk yang sudah tidak terwujud yaitu arwah suci para leluhur, yang distanakan ditempat khusus yaitu sanggah atau pamerajan.
Oleh sebab itu antara sekala dengan niskala dapat dipadukan kelestariannya dalamkehidupan bermasyarakat ,sehingga masalah actual dan spiritual dapat diwujudkandan disenyawakan, seperti apa yg dikonsepkan dalam ajaran rwabineda.
Pada konsep tata ruang yang berbudaya dan berwawasan lingkungan positif, yangditerapkan oleh Mpu ke dalam masyarakat Bali, dapat memberikan warna dan corak kehidupan rakyat di daerah ini.Seperti misalnya mengenai konsep Triangga, Trimandala, Hulu-Teben, Asthabhumi, Asta Kosala, Astha Kosali, Bhamakerti,Janantaka dan lain sebagainya.
Prasasti Pucangan, Jawa yang bertahun caka 963(tahun 1041M) menyebutkan,sesudah berhasil merebut kembali kerajaan Daha dan menundukan Raja Wirawari, beliau lalu menggantikan kedudukan pamannya dari Prhdana. Selanjutnya beliaudinobatkan menjadi raja Daha, bergelar Sri Maharaja Rakai Hulu Sri LokeswaraDharma Wangsa Airlangga Anantha Wikrama Utunggadewa. Tatkala Kerajaan Dahadiserang oleh Narottama yang sangat setia sejak dari Bali, lalu melarikan diri dan bersembunyi di dalam Hutam Wanagiri.

Mpu Semeru Menurunkan Putra Dharma

Kisah Mpu Semeru yang selama hidupnya menempuh kehidupanBrahmacari(tidak kawin selama hidup)cukup menarik. Mengapa? Oleh karena,meskipun beliau tidak menikah seumur hidup beliau bisa menurunkan seorang putra.Tentu saja itu terjadi berkat kasidhi ajnanan. Beliau menurunkan putera dharma,bernama Mpu Dryakah atau Mpu Kamareka.
Berdasarkan kasidhi ajnanan dan kekuatan panca bhayunya, tonggak kayu tersebutdiciptakan menjadi sesosok manusia .Begitu menjadi manusia, seketika manusia baruitu menghadap Mpu Semeru. Orang itu menghaturkan sembah dan sujud bhakti, sertamenyamapikan terima kasih banyak kepada Mpu Semeru, yang telah berkenanmengubah tonggak kayu menjadi manusia .
Manusia itu berkata baik budi paduka Mpu janganlah hendaknya secara lahirniahsaja ,melainkan juga agar samapai ke dalam hati nurani paduka Mpu. Seterusnyasupaya hamba diberikan tuntunan dan ajaran,sehingga hamba dapat mengikuti jejak Paduka Mpu. “Demikian keinginan manusia tersebut,tetapi Mpu Semerumenoaknya .Beliau tidak berkehendak menyucikan manusia tersebut”.
Mendengar jawaban Mpu Semeru Orang itu berlinang air mata dan berkata“bahwa sebaiknya Mpu Semeru mengembalikan saja ke wujud asalnya,karena iamerasa tidak berguna menjadi manusia , tanpa ilmu dan pengetahuan” .Mendengar kata manusia tersebut , Mpu Semeru tidak dapat mengeluarkan kata-kata sepatah pun, tiba-tiba terdengar sabda dari angkasa.
Kemudian Mpu Semeru meninggalkan Besakih izin kepada Bhatara HyangPutrajaya untuk selanjutnya meneruskan perjalanan ke Gunung Lampuyang Luhur yaitu Bhatara Hyang Gnijaya. Berkat kekhudukan Mpu Semeru berdoa, keluarlahBhatara Hyang Gnijaya.Beliau sangat senang menerima kedatangan keturunannyamelakukan persembahyangan. Kemudian Mpu Semeru membangun parahyangan diBesakih, dengan dibantu oleh orang-orang Bali Aga. Sejak itu Mpu Semeru pulang pergi ke Bali dan Jawa. Secara lahir batin Mpu Semeru selalu mengupayakankebahagiaan dan kesejahteraan seluruh manusia di dunia ini.Oleh karena selaludipelihara dan dirawat,maka Parahyangan Bhatara Hyang Tri Purusa yaitu di GunungAgung,di Gunung Lampuyang dan di Hulun Danu selalu lestari.

Peranan Para Mpu di Bali

Kedatangan empat pandita yang juga disebut Sang Catur Sanak Bali membawaangin segar bagi daerah daerah ini. Sebab, empat rohaniawan iitu bukan saja ahlidalam bidang agama, namun juga menguasai berbagai hal yang berkaitan dengan pemerintah dan politik. Seorang diantaranya yang sangat menoonjol dalam berbagai bidang keahlian, yaitu Mpu Kuturan. Hal ini dapat dibuktikan dengan dipilih dandiangkatnya beliau dalam kedudukan sebagai senapati. Disamping itu, Mpu Kuturan juga dipilih dan diangkat selaku ketua majelis bernama Pakira-kiran Ijro Makabehan yang beranggottakan seluruh senapati dan para Pandita Dangacaryya dan Dangupadhyaya (Siwa dan Buddha).
Majelis ini adalah sebuah lembaga tinggi Negara dalam pemerintahan SriGunaprya Dharmmaphatni. Lembaga ini berfungsi dan berugas memberi nasihat dan pertimbangan kepada raja. Jadi, mungkin semacam Dewan Pertimbangan Agung(DPA) dalam pemerintahan RI. Selain itu, lembaga ini juga menggodok program kerajaan. Jadi semacam MPR menyusun GBHN.
Program kerajaan yakni melakukan pembinaan disegala bidang. Yang tak kalah penting mendapat penekanan yakni menciptakan keamanan dan ketertibanmasyarakat. Oleh karena itu, pihak kerajaan selalu menciptakan kestabilan dalam bidang politik, ekonomi, social, budaya dan agama. Segala sesuatu yang hendak dijalankan oleh pemerintah, terlebih dahulu senantiasa dimusyawarahkan di dalamsiding majelis. Setelah diputuskan dalam sidang majelis, barulah keputusan itudilaksanakan oleh pemerintah kerajaan.
Mpu Kuturan, sebagaimana telah disinggung sepintas , tatkala di Jawa pernah bertahta sebagai raja berkedudukan di Girah. Dan mempunyai seorang putri bernamaDyah Ratna Manggali. Namun Mpu kuturan dan istrinya mengalami pertentangan,sehingga keluarga itu menjadi retak. Konflik itu terjadi karena istrinya menerapkanilmu hitam yaitu menjalankan teluh terangjana sedang Mpu kuturan menerapkanajaran ilmu putih yaitu kebijakan. Sebab itu istrinya tidak diajak ke Bali danditinggalkan bersama putrinya di Girah, Jawa. Nah karena menjanda, istri MpuKuturan ini dijuluki “walu" atau "rangda natheng girah" yang artinya janda raja Girah.Pengalaman Mpu Kuturan sebagai raja di Girah, diterapkan di Bali. Dari hasil penelitian yang dilakukan Mpu Kuturan sendiri, beliau memperoleh informasi, datadan fakta yang sangat bermanfaat untuk mengatasi kemelut Yang terjadi di dalammasyarakat, sebagai dampak perbedaan kepercayaan dan penganut agama yang berbeda. Beliau sudah menemukan kiat untuk mengatasi kemelut yang terdapat dudalam masysrakat. Namun beliau tidak segera melakukan tindakan, karena masihmenunggu waktu yang tepat.
Pada suatu hari yang dianggap baik, Mpu Kuturan, selaku ketua Majelis Pakira-kiran Ijro Makabehan, mengadakan persamuan agung dengan mengambil di tempat battanyar. Pada pesamuan agung itu diundang dan hadir tokoh dari masing-masing penganut kepercayaan dan pemeluk agama, yang dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu:
  1. Mpu Kuturan disamping selaku ketua Majelis Pakira kiran ijo makabehan dan pimpinan tersebut, juga sebagai wakil penganut agama Budha.
  2. Tokoh-tokoh atau pimpinan orang-orang Bali Aga, dari masing-masingkepercayaan dan pemeluk agama yang terdiri dari sad paksa agama, diijadikan satukelompok yang jumlahnya paling banyak.
  3. Tokoh-tokoh dan pimpinan Agama Siwa didatangkan dari Jawa meripakankelompok tersendiri.
Karir Mpu Kuturan cepat menanjak. Namun itu bukan berarti, kehadiran kakak-kakak beliau, tidaklah berarti dan tidak berkesan. Oleh karena disamping beliaumengkhususkan dalam bidang agama, juga ikut membantu Mpu kuturan, baik dalam jabatan selaku ketua majelis. Beberapa buah prasati yang terbuat daril lembarantembaga, yang memakai aksara palawa atau Medang, mempergunakan bahas BaliKuna atau Jawa Kuna, ada memuat nama Mpu Kuturan lengkap dengan jabatan beliausebagai senapati. Prasasti itu merupakan sebagai salah satu bukti akan kebenaran jabatan yang pernah dipangku Mpu Kuturan. Prasasti-prasasti tersebut sampaisekarang masih disimpan dibeberapa tempat, yaitu :
  1. Di desa Serai, kecamatan Kintamani (bangle) yang bertahun saka 915
  2. Di Pura Abang Desa Batur, kecamatan Kintamani (bangli) yang bertahun saka 933
  3. Di desa Sambiran Kecamatan Tejakula (buleleng) yang bertahun saka 938
  4. Di desa batuan, kecamatan Sukawati (Gianyar) yang bertahun saka 944
  5. Di desa buahan, kecamatan kintamani (banglli) yang bertahun saka 947
  6. Di pura Kehen Bangli, tidak dapat dibaca tahunnya, karena sebagian sudah rusak.
  7. Di desa Ujung, Kecamatan Karangasem (karangasem) yang bertahun saka 962Sekian banyaknya prasasti itu sebagai salah satu fakta sejarah, yang mencatumkannama Mpu Kuturan sebagai senapati di Bali pada tahun-tahun tersebut. Prasasti- prasasti itu juga merupakan sabda raja-raja yang bertahta pada waktu itu di Bali,mengenai isi prasasti-prasasti sebagai berikut:
    1. Prasasti Desa Serai mencantumkan nama para senapati itu adalah :
      1. Kuturan Dyah Kuting
      2. Pinatin Dyah Mahogra
      3. Dalembunut Tuha Buncang
      4. Waranasi Tuha Pradhana
      5. Waranasi Tuha Gato
      6. Waniringin Tuha Tabu
Pada jaman pemerintahan Raja Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanagara diMajapahit, sebutan atau jabatan seperti tersebut pada prasasti desa Serai, masih adadijumpai dan diuraikan demikian : dalam soal pengadilan raja dibantu oleh dua orangdarmmadhyaksa. Seorang Dharmmadhyksa kacaiwan dan seorang DharmmadhyksaKacogatan, yaitu kepala agama siwa dan kepala agama budha. Pada masa pemerintahan Raja Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanegara, jumlah upappati dari limaditambah lagi dua sehingga menjadi tujuh. Tambahan yang kedua ini diambil digolongan, kacogatan , sehingga ada lima upapatti kacaiwan dan uppatti kacogatan.Perbandingan itu sudah layak, mengingat jumlah pemeluk agama Buddha lebihsedikit dengan jumlah pemeluk agama siwa. Sedang uppati kacagotan itu adalah sang pamegat kandangan rare. Demikian adanya sebutan pejabatan kerajaan pada pemerintah sri gunaprya dharmmaphatni warmdewa di Bali, dibandingkan denganmasa pemerintahan Dyah Hayam Wuruk Rajasanagara di Majapahit.

Sang Catur Sanak dari Panca Tirtha kembali ke Bali

Dari peristiwa peristiwa yang telah dikemukakan pada babad terdahulu, dapatdisimpulkan, betapa eratnya hubungan pulau jawa khususnya Jawa Timur denganPulau Bali, terutama dalam hal spiritual. Ditambah lagi dengan berkuasanya RatuKediri atas Pulau Bali seperti tercantum pada prasasti Desa Julah, yang disimpan diDesa Sembiran, kecamatan Tejakula (buleleng) bertahun saka 905. Dalam prasasti ituada  memuat  nama  seorang  ratu  Yakni  Wijaya  Mahadewi.  Dihubungkan  dengan prasasti yang mempergunakan tahun saka 859, di  dalamnya dijumpai sebuah kalimat.Ikatan  tali  kasih  antara  Bali  dan  Jawa  Timur  bertambah  erat,  dengandilangsungkannya  perkawinan  agung  antara  sri  Udayana  (dharmmodayana)Warmadewa dari Bali dengan sri Mahendratta, adik perempuan Raja Daha di JawaTimur . Sri Mahendratta adalah cicit dari sri maharaja Paradewasikan KamaswaraDharmmawangsa, raja di Jawa Timur pada tahun saka 851. Sesudah berakhir masa jabatannya sebagai raja, beliau menjalani dharma kebrahmanan dengan melalui suatuupacara pudgala yaitu Dwijati atau diksa bergelar Mpu Sendok.
Sang Sapta Pandita atau Sang Sapta Rsi  Putra dari Mpu Gnijani, sudah sama-samakawin dan berumah tangga dijawa,  kemudian masing-masing memiliki keturunan.
  1. Mpu  Ketek mempersunting  putri  Ki  Aryya  Padang  Subadra,  berputra  duaorang laki-laki. Yang sulung bernama Arya Kapasekan, dan adiknya bernama SangHyang Pamacekan.
  2. Mpu Kananda menikah dengan putri Mpu Swethawijaya, berputra  seoranglaki-laki bernama Sang Kuldewa. Sesudah menempuh acara dwijati, sang Kuldewa bergelar  Mpu  Swethawijaya,  sama  namanya  dengan  kakek  dari  Pradhana  (pihak  perempuan).
  3. Mpu Wiradnyana menikah dengan putri Mpu Panataran berputra seorang laki-laki bernama Mpu Wiranatha.
  4. Mpu Withadarma mengawini  putri Mpu  Dharmaja  berputra seorang  laki-laki bernama Mpu Wiradaharma.
  5. Mpu Ragarunting  kawin dengan  putri Mpu  Wiranathakung  berputra  seoranglaki-laki bernama Mpu Wirarunting alias Mpu Paramadhaksa.
  6. Mpu  Prateka  mengambil  putri  Mpu  Pasuruan,  berputra  seorang  laki-laki bernama Mpu Pratekayajna.
  7. Mpu Dangka menikah dengan putri Mpu Sumedang, berputra seorang laki-laki bernama Mpu Wiradangkya.
Alkisah, sesudah Sri Mahendratta dipersunting sri Udayana Warmadewa, padatahun  saka  910,  bersama-sama  dinobatkan  menjadi  raja  di  Bali  dengan  gelar  SriGunaprya  Dharmmapatni  warmadew,  keduanya  sering  disebut  raja  suami  istri.Sejumlah dokumen, antara lain prasasti desa Sading, kecamatan Mengwi.

Lahirnya Sang Panca Tirta

Alkisah Empu Withadarma alias Sri Mahadewa melakukan yoga samadi denganteguh dan dIsiplin. Dari Kekuatan panca bayu nya lahirlah dua orang anAk laki-laki,dan diberi nama Mpu Bhajrashattwa alias Mpu Wiradharma , dan adiknya diberinama Mpu Dwijendra alias Mpu Rajakretha. Mpu Dwijendra kemudian melakukanyoga samadi.
Berkat  yoga  samadinya  itu,  lahirlah  dua  orang  anak  laki-laki,  yang  sulung bernama  Gagakaking  alias  Bukbuksah  ,  dan  adiknya  bernama  Brahma  Wisesa  .Selanjutnya Brahma Wisesa melakukan Yoga Samadi .
Dari kekuatan Panca Bayu nya lahir dua anak laki-laki masing-masing bernamaMpu  Saguna  ,  dan  Mpu  Gandring.  Mpu  Gandring  wafat  ditikam  dengan  keris buatannya oleh Ken Arok .
Sedangkan Mpu Saguna , dari yoga samadi nya melahirkan seorang anak laki-laki bernama  Ki  Lurak Kapandean  yang selanjutnya menurunkan  wangbang yaitu  PandeWesi, adapun Mpu Bajrasattwa berkat Yoga samadi nya menurunkan seorang putra bernama Mpu Tanuhun alias Mpu Lampita .
Kemudian Mpu Tanuhun juga melakukan Yoga Samdi. Dari kekuatan batin dan panca bayunya beliau menurunkan lima orang putra juga yang disebut panca sanak .Yang sulung bernama Brahma Panditha, yang kedua bernama Mpu Semeru,  yangketika bernama Mpu Ghana, yang keempat bernama Mpu Kuturan, dan yang bungsu bernama Mpu Bharadah .
Mereka ini dikenal dengan sebutan Panca Pandita, atau Panca Tirta, yang jugadigelari  Panca  Dewata,  kelima  Pandita  itu  kemudian  berangkat  menuju  GunungSemeru di Jawa Timur . Disana Sang Panca Tirta melakukan Yoga Samadi memujaBhatara  Hyang Pasupati  selaku leluhurnya,  setelah  sekian  lama Sang  Panca Tirtamelakukan Yoga samadi di Gunung Semeru, ada sabda Bhatara Hyang Pasupati .
Kini mari berpaling kembali pada kisah Bhatara Hyang Putra Jaya alias BhataraHyang Mahadewa di Bali . Dari Yoga samadinya lahirlah dua anaknya laki dan perempuan.Yang Laki-laki bernama Bhatara Ghana , dan yang perempuan bernamaBhatari Dewi Manik Gni .  Selanjutnya beliau juga kembali ke Gunung Semeru diJawa Timur melakukan yoga samadi dengan memuja Bhatara Hyang Pasupati.
Setelah sekian lama merka melakukan yoga samadi , Dewi Manik Gni akhrinyamenikah dengan Sang Brahmana Panditta .
Setelah Sang Brahma Panditta melakukan upacara pudala , yaitu melalui upacaradwi jati , beliau bergelar Mpu Gni jaya, sama dengan nama leluhurnya yakni BhataraHyang Gni Jaya .
Sedang Mpu Kuturan, di Jawa menjadi raja berkedudukan di Girah . Dari seorangistrinya , beliau memiliki seorang putri bernama Dyah Ratnamanggali.
Di Bali adik dari Mpu Withadarma alias Sri Mahadewa bernama Shang HyangSiddhimantra  Sakti.  Beliau  berputra  dua  orang  ,  yang  sulung  bernama  KipasungGrigis.  Dan adiknya Jaya  Katon .  Selanjutnya  Kipasung  Grigis  menurunkan  KarangBuncing .
Karang  buncing  kemudian  menurunkan  Ki  Karang,  kemudian  Ki  Karang menurunkan  putra  lagi  yang  namanya  sama  dengan  leluhurnya  yang  bernama Kipasung Grigis.
Ia dinobatkan menjadi patih oleh raja Bali bernama Sri Tapaulung .
Raja Sri Tapaulung dinobatkan sebagai Raja pada Tahun caka 1246 bergelar SriGajah Waktra atau Sri Gajah Wahana .Oleh karena beliau sukses menjalankan roda pemerintahan di Bali . rakyat lalu memberi julukan Sri Astha Suraratna Bumi Banten.Selama pemerintahan Sri Gajah Waktra di Bali, beliau pernah menggelar Yajna diPura Besakih, yang disebutkan dalam lontar kidung Raja Purana . Pada tahun saka1265,  bali  ditundukan  oleh  Majapahit.  Ki  Pasung  Gerigis  oleh  raja  Majapahitditugaskan menyerang Sumbawa. Dalam perang tanding dengan Raja Sumbawa, KiPasung  Gerigis  gugur  bersama  lawannya  dalam  pertempuran  tersebut.  SedangJayakaton pada Candra Sangkala Lawang Apit Lawang atau tahun saka 829 menjadi patih berkedudukan di Belahbatuh. Beliau terkenal sebagai pakar arsitektur. Beliaulahyang mendirikan Candi Baraptu di Belahbatuh. Kemudian patih Jayakaton berputraseorang  laki-laki  bernama  Arya  Rigih.  Selanjutnya  Arrya  Rigis,  sedang  adiknya bernama Narottama, yang kemudian mengiringi Sri Airlangga ke Jawa. Tatkala SriAirlangga bertahta dikerajaan Daha, Jawa, beliau bergelar Sri Maharaja Rakai hulu,Sri Lokeswara Dharmmawangsa Airlangga Ananta Wikrama Tunggadewa. Sedana Narattoma  diangkat  sebagai  rakyan  kanuruhan,  bergelar  Mpu  Dharmamurthi Narottama Dharanasura.  Arya Rigis bertempat tinggal di Belah batuh, kemudian berputra seorang laki-laki bernama Arya Keddi. Selanjutnya Aryya Kedi memilikianak buncing sehingga disebut Aryya Karangbuncing.
Dua  anak  itu  lalu  dikawinkan.  Meskipun  sudah  cukup  lama  berumah  tangga, perkawinan  arrya  karabuncing  ini  tidak  membuahkan  keturunan.  Mengenang   nasibnya, itu mereka sangat berduka cita. Akhirnya setela,  dipertimbangkan matang-matang, lalu mereka ndewa sraya (memohon kepada Tuhan agar dikaruniai anak) diPura  Pasek  Gaduh  di  Belahbatuh.  Doa  permohonan  mereka  terkabul.  Merekamelahirkan seorang putra laki-laki , diberi nama Kebo Waruga.
Kebo Waruga adalah  seorang  laki-laki  yang berperawakan tinggi besar,  sulit cari bandingannya  di  Bali.  Ki  Kebo  Waruga  memeiliki  kesaktian  yang  tidak  adatandingnya,  teguh dan kebal tidak bias dilukai oleh senjata buatan manusia. Selainitu, ia pandai dalam bidang bangunan. Kesaktian Ki Kebo Waruga ini diketahui olehRaja Bali Sri Gajah Waktra. Oleh karena itu Ki Kebo Waruga diangkat menjadi patih, bergelar Ki Kebo Iwa alias  Ki Kebo Taruna. Mengapa diberi embel-embel Taruna,sebab selama hidupnya Ki Kebo Iwa tidak menikah. Namun akibat daya upaya MahaPatih Hamengkhubumi Kryan Gajah Mada dari Majapahit. Ki kebo Iwa bias dibujuk ke Majapahit dan diisana beliau dibunuh. Oleh karena itu tidak tidak pernah menikah,Ki Kebo Iwa tidak mempunyai keturunan.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review