Jumat, 11 November 2011

Bali - Kabupaten Bangli

Menurut Prasasti Pura Kehen kini tersimpan di Pura Kehen, diceritakan bahwa pada zaman silam didesa Bangli berkembang wabah penyakit yang disebut kegeringan yang menyebabkan banyak penduduk meninggal.Penduduk lainnya yang masih hidup dan sehat menjadi ketakutan setengah mati,sehinnga mereka berbondong-bondong meninggalkan desa guna menghindari wabah tersebut. Akibatnya Desa Bangli menjadi kosong karena tidak ada seorangpun yang berani tinggal disana.

Raja Ida Bhatara Guru Sri Adikunti Ketana yang bertahta kala itu dengan segala upaya berusaha mengatasi wabah tersebut. Setelah keadaan pulih kembali sang raja yang kala itu bertahta pada tahun Caka 1126, tanggal 10 tahun Paro Terang,hari pasaran Maula,Kliwon,Chandra (senin), Wuku Klurut tepatnya tanggal 10 Mei 1204, memerintahkan kepada putra-putrinya yang bernama Dhana Dewi Ketu agar mengajak penduduk ke Desa Bangli guna bersama-sama membangun memperbaiki rumahnya masing-masing sekaligus menyelenggarakan upacara/yadnya pada bulan Kasa, Karo, katiga, Kapat, Kalima, Kalima, Kanem, Kapitu, kaulu, Kasanga, Kadasa, Yjahstha dan Sadha.

Disamping itu beliau memerintahkan kepada seluruh pendududk agar agar menambah keturunan di wilayah Pura Loka Serana di Desa Bangli dan mengijinkan membabat hutan untuk membuat sawah dan saluran air. Untuk itu pada setiap upacara besar penduduk yang ada di Desa Bangli harus sembahyang. Pada saat itu juga, tanggal 10 Mei 1204, Raja Idha Bhatara Guru Sri Adikunti Katana mengucapkan pemastu yaitu:

“Barang siapa yang tidak tunduk dan melanggar perintah, semoga orang itu disambar petir tanpa hujan atau mendadak jatuh dari titian tanpa sebab, mata buta tanpa catok, setelah mati arwahnya disiksa oleh Yamabala, dilempar dari langit turun jatuh ke dalam api neraka”.

Bertitik tolak dari titah-titah Sang Raya yang dikeluarkan pada tanggal 10 Mei 1204, maka pada tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Lahirnya Kota Bangli.

Sejarah Kerajaan Bangli

Tersebut empat para Hyang bersaudara bernama Sanghyang Angsanabra (Sekar Angsana) di Gelgel, Sanghyang Subali di Gunung Tolangkir, Sanghyang Aji Rembat di Pura Kentel Gumi. Sanghyang Mas Kuning di Giri Lor Abang. Sanghyang Subali pergi ke jurang Melangit menciptakan air suci yang harum (Tirta Harum) pada hari Selasa, Kliwon, Julungwangi, purnama bulan keempat.

Kemudian Sanghyang Subali mendirikan taman yang indah di sebelah barat laut Tirta Arum, diberi nama Taman Bali.Kemudian Sanghyang Subali menyerahkan Tirta Arum dari Taman itu kepada Sanghyang Aji Rembat. Sanghyang Subali moksa, menghadap Sanghyang Wisnu Bhuana memohon seorang anak, diberi nama Sang Angga Tirta.

Puri Susut Bangli

Anak tersebut diletakkan pada saluran air (pancuran) di Tirta Arum. Sanghyang Aji Rembat memungut bayi tersebut. Dan menerima wahyu, (sabda angkasa) dari Sanghyang Subali, bahwa anak itu adalah anugrah Dewa Wisnu bernama Angga Tirta dan kemudian agar diberi nama Sang Anom. 

Anak tersebut diupacarai oleh Sanghyang Aji Rembat dan berdiam di pura Agung Guliang. Tersebut bahwa Sanghyang Angsana di Gelgel mempunyai seorang putri bernama Dewa Ayu Mas Dalem. Sering terserang penyakit, kemudian sembuh berkat pengobatan Sanghyang Aji Rembat di asramnya.

Terjadi hubungan gelap (seperti suami istri) antara Sang Anom dengan Dewa Ayu Mas Dalem. Dewa Ayu Mas Dalem diantar ke Gelgel, Segera Sanghyang Sekar Angsana mengusut putrinya karena menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Sang putri mengaku terus terang berkat hubungannya dengan Sang Anom.

Sanghyang Sekar Angsana mengirim pasukan untuk menyerang ke Pura Agung Guliang, menangkap Sang Anom namun gagal, Sang Anom tidak dijumpai. Sang Anom melarikan diri ke Alas Jarak Bang kemudian desa itu disebut Jagat Bali. Pengejaran terus dilakukan dan Sang Anom tertangkap dan dibawa ke Gelgel.

Sanghyang Aji Rembat amat kecewa, melaporkan hal itu secara gaib kepada Sanghyang Sekar Angsana di Gelgel perihal riwayat Sang Anom serta pantas menjadi suami Dewa Ayu Mas Dalem. Pernikahan pun segera dilakukan. Kembali ke Pura Agung Guliang. Kemudian lahir seorang putra diberi nama Korda Anom Oka Den Bancingah.

Korda Anom Oka Den Bancingah berputra I Dewa Garba Jata. I Dewa Garba Jata berputra I Dewa Ngurah Den Bancingah. I Dewa Ngurah Den Bancingah menikah dengan putri Dalem (?) di Dasar Gelgel berputra Cokorda Den Bancingah, Cokorda Den Bancingah berputra I Dewa Pamecutan; I Dewa Pulasari, I Dewa Batanwani, I Dewa Tangeb, I Dewa Mundung, I Dewa Beranjingan, I Dewa Auman. I Dewa Pamecutan berputra I Dewa Gde Pering pindah ke Nyalian, I Dewa Kaler di Taman Bali, I Dewa Pindi pindah ke Gagahan, I Dewa Perasi di Gada, yang bungsu (= pingajeng) I Dewa Gde Ngurah bertahta di Taman Bali.

I Dewa Gde Pering memohon pada ayahnya untuk membawa Keris "Ki Lobar" ke Nyalian sebagai tanda kebesaran. Permohonannya itu dapat dikabulkan, segera dibawa ke Nyalian. Nyalian dan Taman Bali pun aman dan sentosa. I Dewa Gde Ngurah penguasa Taman Bali mengirim utusan untuk membunuh I Gusti Paraupan di Bangli. Tetapi karena kesaktian I Gusti Paraupan, maka utusan itu menyampaikan niatnya terang-terangan.

I Gusti Paraupan kembali memerintahkan untuk membunuh I Dewa Gde Ngurah, dengan catatan bila berhasil akan dijadikan penguasa di Taman Bali. Terjadi perkelahian antara I Dewa Gde Ngurah dengan kedua utusannya yang disuruh membunuh I Gusti Paraupan. Keduanya mati dan I Dewa Gde Ngurah menderita luka- luka. I Dewa Kaler putra I Dewa Gde Ngurah tidak membantunya. I Dewa Gde Ngurah dalam keadaan sakit karena luka-luka dirawat oleh para istri dan lain-lainnya.

Pada saat-saat demikian salah seorang istri I Dewa Gde Ngurah berbuat serong (abamia) dengan I Dewa Kaler. Diperintahkan untuk membunuh I Dewa Kaler dan istrinya yang serong itu. Namun tidak diijinkan oleh Dalem Gelgel. Hanya derajat kebangsawanannya diturunkan menjadi Pungakan, kemudian bernama Pungakan Bagus atau Pungakan Den Yeh, I Dewa Gde Ngurah meninggal dunia digantikan oleh putranya bernama I Dewa Gede Ngurah Anom Oka.

Ia tahu sebab kematian ayahnya karena upaya I Gusti Paraupan. Maka bersama keluarga dan pemuka-pemuka serta rakyatnya mengadakan serangan balasan ke Bangli (I Gusti Paraupan). Terjadi peperangan antara Bangli dengan Taman Bali yang dibantu oleh I Dewa Pering (=Nyalian). Bangli kalah, gugurnya I Gusti Paraupan, Ki Lurah Dawuh Waringin, Ki Lurah Dawuh Pamamoran, Maka I Dewa Perasi diangkat sebagai penguasa di Bangli dibantu/ didampingi oleh sanak keluarganya antara lain I Dewa Tangeb, I Dewa Batan Wani, I Dewa Pulasari.

Lama kelamaan ganti berganti keturunan I Dewa Gde Perasi menjadi raja Bangli. Salah seorang raja bernama I Dewa Kompiang Perasi mempunyai seorang-anak wanita bernama Dewa Ayu Den Bancingah. Maka mengangkat menantu, putra raja Taman Bali, bernama I Dewa Gde Anom Rai. Raja Taman Bali I Dewa Gde Raka, kakak I Dewa Gede Anom Rai. Bangli dan Taman Bali aman sentosa. I Dewa Gde Anom Rai dengan Dewa Ayu Den Bancingah berputra seorang wanita bernama Dewa Ayu Comel. I Dewa Gede Anom Rai mengambil istri lagi, dan amat terikat hati beliau kepadanya. I Dewa Gde Oka/ cucu I Dewa Gde Tangkeban dinikahkan dengan I Dewa Ayu Comel, menggantikan tahta di Bangli.

Tetapi pernah berbuat serong (seperti suami istri) dengan ibu mertuanya. I Dewa Gde Anom Rai berusaha untuk membunuh Dewa Ayu Den Bancingah, tetapi gagal. Dan terbalik Dewa Ayu Den Bancingah kini berusaha untuk membunuh I Dewa Gede Anom Rai, berbagai siasat dilakukan, dan seorang petugas/ algojo bernama Ida Waneng Pati (brahmana Kemenuh) berhasil masuk ke peraduannya, tetapi tidak mempan senjatanya.

Hanya senjata Dewa Ayu Den Bancingah yang sanggup mencabut nyawa I Dewa Gede Anom Rai. Dukuh Suladri (turunan Sirarya Rembat) mempunyai anak dua orang wanita. Ki Dukuh kedatangan seorang laki-laki dari Majapahit anak Sri Aji Ayu Murub. Anak laki-laki tersebut diajak menetap di ashram Dukuh Suladri dan dikawinkan dengan putrinya yang sulung, putri yang kedua menikah dengan raja/ Dalem di Gelgel.

Dalem memberikan iparnya (menantu Dukuh Suladri di Padukuhan) rakyat dua ratus orang, pada akhirnya mengurusi rakyat lima ratus orang. Putri Ki Dukuh menjadi istri Dalem mempunyai seorang anak wanita bernama I Dewa Ayu Den Bancingah kemudian bersuamikan anak dari Kanca di Padukuhan beribu putrinya Ki Dukuh, Mereka menetap di Gelgel di sebelah utara istana.

Kemudian pindah ke Nyalian membawa Ki Lobar, karena di Gelgel terjadi perebutan kekuasaan oleh Anglurah Agung. Terjadi perebutan kekuasaan di Gelgel oleh Anglurah Agung, Dalem mengungsi ke Guliang, dan wafat di sana. Seorang putranya pindah ke Singarsa dengan pengiring 150 orang, berkat kesetiaan Lurah Singarsa.

Dari Singarsa (Sidemen) direncanakan perebutan kembali kerajaan Gelgel atas prakarsa bekas punggawa dari Gelgel (?) dengan Lurah Singarsa, minta bantuan ke Buleleng dan Badung, kemudian dilakukan pengepungan dari beberapa penjuru, terjadi peperangan sengit, Anglurah Agung mengalami kekalahan. I Dewa Den Bancingah dengan gelar I Dewa Gde Tangkeban tetap bertahta di Nyalian. Dalem (raja) Smarajaya meminta kembali keris Ki Lobar.

I Dewa Gde Tangkeban, mengadakan perundingan dengan I Dewa Gde Rai (Bangli) dan I Dewa Gede Oka (Taman Bali) , dikuatkan dengan sumpah setia mereka tidak akan mengembalikan Ki Lobar dengan catatan berani menanggung segala resiko. Dalem Smarajaya tetap menuntut keris itu agar dikembalikan. Namun I Dewa Gde Tangkeban tetap pada pendiriannya semula.

Akhirnya terjadi peperangan antara Smarawijaya melawan Nyalian Bangli dan Taman Bali tidak menepati perjanjian. I Dewa Gde Tangkeban mengalami kekalahan, Sebelum meninggal sempat mengutuk raja Taman Bali dan Bangli, dan memotong ujung keris (Ki Lobar), merestui putranya yang bernama I Dewa Gde Oka agar menyerang Taman Bali dan Bangli. Lalu I Dewa Gde Oka mengamuk membabibuta di puri Nyalian. Banyak jatuh korban. Akhirnya ia juga meninggal berkat Ida Bagus Made Gelgel, namun Ida Bagus Made Gelgel meninggal pula.

Ki Sedahan Kasub yang berperang dalam istana, mengumpulkan mayat- mayat dan harta benda, kesudahannya juga mati terbunuh, Maka daerah I Dewa Gede Tangkeban mutlak ditaklukkan oleh Sri Aji Dalem di Smarajaya dengan bantuan Raja Karangasem dan Gianyar.

Kutukan I Dewa Gde Tangkeban meresap di Bangli dan Tamanbali, akhirnya terjadi perang saudara. Raja Bangli terbunuh oleh istrinya sendiri, Dewa Ayu Den Bancingah bertahta di Bangli I Dewa Gde Tangkeban, putra I Dewa Gde Oka (yang mengamuk di Nyalian) cucu I Dewa Gede Tangkeban demikian turun temurun. Lama kelamaan terjadi perlawanan dan Bangli (I Dewa Gde Oka Tangkeban) dengan Tamanbali (I Dewa Gde Oka) dibantu oleh Gianyar (I Dewa Manggis) pasukan Gianyar dipimpin oleh Cokorda di Mas.

Pasukan Tamanbali kalah dengan gugurnya Cokorda Mas dan I Dewa Gede Oka raja Tamanbali. Dilanjutkan dengan susunan sila- sila keturunan I Dewa Gde Tangkeban yang masih hidup di desa-desa. Raja Tamanbali yang telah wafat meninggalkan seorang putra bernama I Dewa Sukawati, dan bermukim di Tumuhun, berputra lima orang. Dilanjutkan dengan sila-sila keturunan. Riwayat I Dewa Putu Sekar, yang semula di Nusa Penida.

Kemudian kembali menjadi kepercayaan raja Bangli (I Dewa Gede Tangkeban) ditempatkan di Susut, putra- putra yang di Nusa Penida I Dewa Gde Dauh dan I Dewa Gde Dangin kemudian menjadi kepercayaan raja Tabanan ditempatkan di desa Jelijih, lama kelamaan mendirikan Pura Aseman. Selanjutnya mempunyai keturunan. kemudian dalam peperangan Tabanan melawan Badung dan Mengwi I Dewa Gde Dangin gugur karena pihak Tabanan kalah, putra- putranya pindah ke Jembrana, I Dewa Gde Dauh tetap di Jelijih bersama anak-anaknya.



Berikut adalah daftar Kecamatan terdapat di kabupaten Bangli beserta masing-masing Desa dengan Kode Pos:
  1. Kecamatan Bangli
    1. Kelurahan atau Desa Kubu, Kode Pos: 80611
    2. Kelurahan atau Desa Landih, Kode Pos: 80611
    3. Kelurahan atau Desa Cempaga, Kode Pos: 80612
    4. Kelurahan atau Desa Kawan, Kode Pos: 80613
    5. Kelurahan atau Desa Bebalang, Kode Pos: 80614
    6. Kelurahan atau Desa Bunutin, Kode Pos: 80614
    7. Kelurahan atau Desa Kayubihi, Kode Pos: 80614
    8. Kelurahan atau Desa Pengotan, Kode Pos: 80614
    9. Kelurahan atau Desa Taman Bali, Kode Pos: 80614

  2. Kecamatan Kintamani
    1. Kelurahan atau Desa Abang Songan, Kode Pos: 80652
    2. Kelurahan atau Desa Abuan, Kode Pos: 80652
    3. Kelurahan atau Desa Awan, Kode Pos: 80652
    4. Kelurahan atau Desa Bantang, Kode Pos: 80652
    5. Kelurahan atau Desa Banua, Kode Pos: 80652
    6. Kelurahan atau Desa Batu Dinding, Kode Pos: 80652
    7. Kelurahan atau Desa Batukaang, Kode Pos: 80652
    8. Kelurahan atau Desa Batur Selatan, Kode Pos: 80652
    9. Kelurahan atau Desa Batur Tengah, Kode Pos: 80652
    10. Kelurahan atau Desa Batur Utara, Kode Pos: 80652
    11. Kelurahan atau Desa Bayungcerik, Kode Pos: 80652
    12. Kelurahan atau Desa Bayunggede, Kode Pos: 80652
    13. Kelurahan atau Desa Belancan, Kode Pos: 80652
    14. Kelurahan atau Desa Belandingan, Kode Pos: 80652
    15. Kelurahan atau Desa Belanga, Kode Pos: 80652
    16. Kelurahan atau Desa Belantih, Kode Pos: 80652
    17. Kelurahan atau Desa Binyan, Kode Pos: 80652
    18. Kelurahan atau Desa Bonyoh, Kode Pos: 80652
    19. Kelurahan atau Desa Buahan, Kode Pos: 80652
    20. Kelurahan atau Desa Bunutin, Kode Pos: 80652
    21. Kelurahan atau Desa Catur, Kode Pos: 80652
    22. Kelurahan atau Desa Daup, Kode Pos: 80652
    23. Kelurahan atau Desa Dausa, Kode Pos: 80652
    24. Kelurahan atau Desa Gunungbau, Kode Pos: 80652
    25. Kelurahan atau Desa Katung, Kode Pos: 80652
    26. Kelurahan atau Desa Kedisan, Kode Pos: 80652
    27. Kelurahan atau Desa Kintamani, Kode Pos: 80652
    28. Kelurahan atau Desa Kutuh, Kode Pos: 80652
    29. Kelurahan atau Desa Langgahan, Kode Pos: 80652
    30. Kelurahan atau Desa Lembean, Kode Pos: 80652
    31. Kelurahan atau Desa Mangguh, Kode Pos: 80652
    32. Kelurahan atau Desa Manikliyu, Kode Pos: 80652
    33. Kelurahan atau Desa Mengani, Kode Pos: 80652
    34. Kelurahan atau Desa Pengejaran, Kode Pos: 80652
    35. Kelurahan atau Desa Pinggan, Kode Pos: 80652
    36. Kelurahan atau Desa Satra, Kode Pos: 80652
    37. Kelurahan atau Desa Sekaan, Kode Pos: 80652
    38. Kelurahan atau Desa Sekardadi, Kode Pos: 80652
    39. Kelurahan atau Desa Selulung, Kode Pos: 80652
    40. Kelurahan atau Desa Serahi, Kode Pos: 80652
    41. Kelurahan atau Desa Siyakin, Kode Pos: 80652
    42. Kelurahan atau Desa Songan A, Kode Pos: 80652
    43. Kelurahan atau Desa Songan B, Kode Pos: 80652
    44. Kelurahan atau Desa Subaya, Kode Pos: 80652
    45. Kelurahan atau Desa Sukawana, Kode Pos: 80652
    46. Kelurahan atau Desa Suter, Kode Pos: 80652
    47. Kelurahan atau Desa Terunyan, Kode Pos: 80652
    48. Kelurahan atau Desa Ulian, Kode Pos: 80652

  3. Kecamatan Susut
    1. Kelurahan atau Desa Abuan, Kode Pos: 80661
    2. Kelurahan atau Desa Apuan, Kode Pos: 80661
    3. Kelurahan atau Desa Demulih, Kode Pos: 80661
    4. Kelurahan atau Desa Pengiangan, Kode Pos: 80661
    5. Kelurahan atau Desa Penglumbaran, Kode Pos: 80661
    6. Kelurahan atau Desa Selat, Kode Pos: 80661
    7. Kelurahan atau Desa Sulahan, Kode Pos: 80661
    8. Kelurahan atau Desa Susut, Kode Pos: 80661
    9. Kelurahan atau Desa Tiga, Kode Pos: 80661

  4. Kecamatan Tembuku
    1. Kelurahan atau Desa Bangbang, Kode Pos: 80671
    2. Kelurahan atau Desa Jehem, Kode Pos: 80671
    3. Kelurahan atau Desa Peninjoan, Kode Pos: 80671
    4. Kelurahan atau Desa Tembuku, Kode Pos: 80671
    5. Kelurahan atau Desa Undisan, Kode Pos: 80671
    6. Kelurahan atau Desa Yangapi, Kode Pos: 80671

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review