Kamis, 17 November 2011

Arsitektur Tradisional Bali Jaman Bali Aga

Pada periode ini arsitektur telah dikembangkan sebagai benda budaya yang dibentuk dari benda-benda alam dalam suatu susunan yang harmonis dalam fungsinya menjaga keseimbangan manusia dengan alam lingkungannya. Dalam ’Monografi Daerah Bali’ dikatakan bahwa masa Bali Aga dimulai sejak 800 M. Asumsi ini didasarkan pada penemuan bukti-bukti sejarah berupa ‘stupika tanah liat’ berangka tahun 778 M yang terdapat di Pejeng. Stupika ini berisikan tentang mantram-mantram agama Budha Mahayana. Bukti lain adalah prasasti ‘Blanjong’ yang ditemukan di desa Sanur, berangka tahun 913 M. Dalam prasasti ini disebutkan bahwa raja yang memerintah Bali Kuno saat itu adalah Çri Kesari Warmadewa yang menjadi cikal bakal dinasti warmadewa di Bali. Raja keturunan Warmadewa yang terkenal adalah Raja Dharma Udayana Warmadewa dan istrinya Gunapriyadharmapatni yang memerintah di Bali dari tahun 989 M-1001 M. 

Masyarakat Bali Aga memiliki suatu kebudayaan dan peradaban dengan sistem relegi yang menyembah nenek moyang, serta suatu susunan hidup kemasyarakatan yang dilandasi atas semangat kebersamaan dalam suatu bentuk republik-republik desa yang independent. Orang Bali Aga sangat kuat memegang sistem adatnya, sehingga tidak jarang masyarakatnya menentang kebijakan-kebijakan baru kerajaan yang tidak sejalan dengan sistem releginya. Soegianto mengatakan pada akhir abad X, pada masa pemerintahan raja suami-istri Raja Dharma Udayana Warmadewa dan istrinya Gunapriyadharmapatni terjadi sebuah kemelut dalam pemerintahan kerajaan Bali Kuno; raja terpaksa harus mengambil jalan tengah untuk menghadapi orang-orang Bali Aga yang menentang kebijaksanaan kerajaan, dengan mendatangkan seorang pandita Çiwa dari Daha (Jawa Timur) bernama Empu Kuturan. Konsepsi religi yang diperkenalkan Empu Kuturan mampu menjembatani perbedaan politis religius tersebut. Di samping tetap menjalankan ritus asli masyarakat Bali Aga, beliau juga memperkenalkan suatu cara baru yang sangat diperlukan untuk memberikan disipilin dan ketertiban sehingga tidak mendatangkan anarki di dalam kehidupan ritus keagamaan yang dapat mengancam ketertiban dan keamanan kerajaan. Baginya kesatuan ‘sembah’ sangat diperlukan dalam bentuk konsep, sehingga melahirkan karya besar yang dikenal dengan konsep Tri Khayangan (Khayangan Tiga). 

Tri Khayangan mengarahkan masyarakatnya untuk memuja perwujudan Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Murti: Brahma, Wisnu, dan Çiwa (Pencipta, Pemelihara, dan Pelebur), sehingga setiap desa adat diharapkan memiliki Pura Khayangan Tiga sebagai tempat pememujaan Beliau, yakni: Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem (di wilayah Buleleng: Pura Desa, Pura Segara, dan Pura Dalem). Konsep Tri Kahyangan secara keseluruhan dapat diterima oleh kelompok Bali Aga dan diterapkan pada setiap desa adat di Bali hingga kini. Karya besar beliau yang lain sebagai seorang arsitek dan budayawan adalah mendirikan desa adat serta awig-awignya (aturan-aturannya); menganjurkan pembuatan sanggah/merajan (tempatsuci di setiap rumah tinggal); pencetus pelinggih Meru untuk pemujaan Tuhan Yang Maha Esa dan para leluhur yang telah suci. Empu kuturan mendampingi dinasti Warmadewa sampai pemerintahan raja Anak Wungsu, hingga membawa kerajaan Bali Kuno ke jaman keemasan.

Arsitektur rumah tinggal masa Bali Aga terletak dalam satu lingkungan bangunan komunal dengan mengayomi aktivitas penghuninya sehari-hari. Pola arsitektur rumah tinggal peninggalan kebudayaan masa Bali Aga yang sampai sekarang masih diterapkan di Buleleng adalah di desa Sidatapa, desa Cempaga, desa Sambiran, dan desa Julah. 

Pola penataan ruang arsitektur di desa-desa tersebut pada umumnya didasarkan pada falsafah bahwa alam semesta (makrokosmos) secara hirarki terbagi dalam 3 bagian, dimana tiap pembagian tersebut melambangkan alam ‘utama’ (alam para dewa), alam ‘madya’ (alam manusia), dan alam ‘nista’ (alam butha). Dalam diri manusia ketiga alam ini diibaratkan sebagai kepala, badan dan kaki. Sebagaimana halnya alam semesta (makrokosmos), arsitektur rumah tinggal juga diharapkan dapat berfungsi mewadahi aktivitas manusia dengan baik, sehingga perwujudan arsitekur diupayakan untuk dapat meniru bahkan menduplikat alam semesta selaku konsep dasar dan pola dasar.

Di desa Sidatapa, falsafah ini diterapkan dengan membagi setiap masa bangunan rumah tinggal menjadi tiga bagian.(lihat Gambar 2. 4) Perbedaan hirarki ruang di pertegas dengan perbedaan tinggi level lantai yang menempatkan ruang ‘utama’ pada lantai yang paling tinggi dan bagian yang paling dalam. Ruang ini difungsikan sebagai ruang persembahyangan dan sekaligus sebagai ruang tidur. Bagian lantai yang lebih rendah dari ruang tidur adalah ruang ‘madya’ sebagai dapur. Bagian paling luar adalah ruang ‘nista’ berupa teras tempat menerima tamu, atau tempat melakukan pekerjaan sambilan, seperti menganyam (salah satu mata pencaharian masyarakat setelah masuknya pariwisata). 

Raja Bali Kuno terakhir bernama Sri Astasura Ratna Bumi Banten yang berpusat di Bedaulu. Lontar ‘Usana Jawa’ mengungkapkan bahwa masa pemerintahan Sri Astasura Ratna Bumi Banten didampingi oleh seorang Mahapatih bernama ‘Kebo Iwa’. Mahapatih ini juga tokoh arsitek yang meninggalkan beberapa data arsitektur dan masih bertahan sampai sekarang, di antaranya adalah konsep bangunan komunal ‘Bale Agung’. Peninggalan-peninggalan kebudayaan ini masih terlihat di beberapa daerah seperti Gunung Kawi, Tirta Empul, Gua Gajah, dan sekitar Bedaulu-Tampaksiring sebagai lokasi pusat kerajaan pada masa Bali Aga. 

Periode Bali Aga berakhir bersamaan dengan jatuhnya kerajaan Bali Kuno yang berpusat di Bedaulu tahun 1343. Selanjutnya ekspedisi Majapahit yang dipimpin oleh Maha Patih Gajah Mada berhasil menaklukan pulau Bali.

Sumber @ http://bhagawandesain.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review